Isu ketidaksetaraan dalam gender tidak hanya dilihat dari bentuk fisik yang berbeda, akan tetapi kesenjangan tersebut mengarah pada perbedaan peran, kegiatan, serta hal lainnya yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Rumah tangga yang dipimpin oleh perempuan cenderung lebih banyak berkerja pada sektor informal, memiliki tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesenjangan antara pekerja formal dan informal, kesejahteraan rumah tangga yang diukur dari kepala rumah tangga berdasarkan gender dan status pernikahan. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang berasal dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2014, dengan analisis Two Stage Least Square (2SLS) dengan menggunakan Instrumental Variable (IV). Temuan dari penelitian ini menyatakan bahwa Kepala Rumah Tangga (KRT) yang bekerja di sektor formal mempunyai kesejahteraan yang lebih tinggi dibandingkan dengan KRT yang bekerja di sektor informal. Selain itu, KRTP cenderung mengalami probabilitas untuk mengalami kerugian dibandingkan KRTL. KRTP yang berstatus janda memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menjadi miskin dibandingkan dengan kelompok lainnya. Di sisi lain, adanya hubungan positif dan signifikan antara wanita pekerja informal terhadap pengeluaran per kapita. Kesimpulan untuk kebijakan dari permasalahan dalam penelitian ini adalah pemerintah Jawa Timur perlu memperhatikan pilar utama pembangunan manusia yaitu dengan mengurangi gap pendidikan, khususnya bagi anak perempuan. JEL : D63, I31, J12, J16, O17