Rodman Tarigan
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ RS Hasan Sadikin, Bandung

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Perbandingan Masalah Mental Emosional dan Karakteristik Pasien Remaja dengan Talasemia Mayor di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Qory Aulia Sukma; Rodman Tarigan; Lynna Lidyana
Sari Pediatri Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.1.2021.23-7

Abstract

Latar belakang. Talasemia adalah penyakit genetik hematologik yang berdampak terhadap perubahan fisik dan kegiatan sehari-hari pasien sehingga berpengaruh pada psikososial pasien, terutama pasien remaja yang mengalami perubahan emosional pada fase transisi menuju dewasa.Tujuan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbandingan masalah mental emosional dengan karakteristik pasien remaja talasemia mayor di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode. Penelitian ini adalah studi deskriptif-analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan pada bulan Agustus– September 2019. Subjek penelitian adalah 96 pasien talasemia di Poli Talasemia RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan kelompok usia 11-17 tahun yang mengisi self-assessment Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ).Hasil. Dari 96 subjek penelitian, 49 (51%) adalah perempuan. Enam puluh empat (67%) adalah kelompok usia 11-14 tahun, dan 46 (48%) di antaranya adalah siswa SMP. Gambaran masalah mental emosional pasien meliputi masalah emosional 17 (18%), conduct 12 (12%), hiperaktivitas 8 (8%), dan masalah hubungan dengan teman sebaya 7 (7%). Kesimpulan. Tidak ada perbedaan antara masalah mental emosional dan karakteristik pasien remaja dengan talasemia mayor.
Perbedaan antara Pemberian MPASI Komersil dan Buatan Rumah Tangga dengan Kejadian Perawakan Pendek pada Anak Usia 11-23 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Jatinangor Tisnasari Hafsah; Nisita Widyastari; Rodman Tarigan; Viramitha Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.295-301

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek masih menjadi masalah yang cukup serius di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi pendek secara nasional adalah 37,2%. Pemilihan dan pemberian makanan pendamping ASI yang tepat berperan sangat penting demi memenuhi kebutuhan gizi anak, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan guna mencapai pertumbuhan yang optimal. Tujuan. Mengetahui perbedaan antara pemberian makanan pendamping ASI komersil dan buatan rumah tangga terhadap kejadian perawakan pendek pada anak usia 11-23 bulan.Metode. Jumlah subjek penelitian adalah sebanyak 82 anak kasus dan kontrol yang dipilih menggunakan metode consecutive sampling secara berpasangan. Mengacu pada kurva pertumbuhan WHO, kasus adalah perawakan pendek yang didefinisikan sebagai anak dengan z-score TB/U <-2 SD dan kontrol adalah anak yang tidak pendek. Kedua kelompok dipilih secara matching berdasarkan usia dan jenis kelamin.Hasil. Jenis pemberian makanan pendamping ASI ketika usia 9-11 bulan merupakan faktor dominan yang dapat menyebabkan perawakan pendek.Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian jenis makanan pendamping ASI komersil dan buatan rumah tangga yang diberikan pada rentang usia 9-11 bulan dengan kejadian perawakan pendek pada anak usia 11-23 bulan (OR=0,22;p=0,01).
Hubungan Stunting dengan Gangguan Kognitif pada Usia Remaja Awal di Kecamatan Jatinangor Rafa Fathia Suhud; Eddy Fadlyana; Elsa Pudji Setiawati; Siti Aminah; Rodman Tarigan
Sari Pediatri Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.2.2021.115-20

Abstract

Latar belakang. Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan nasional maupun dunia. Diperkirakan stunting berhubungan dengan penurunan dalam tingkat kognitif, kapasitas belajar, motorik, dan fungsi bahasa.Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan stunting dengan gangguan kognitif pada usia remaja awal di Kecamatan Jatinangor.Metode. Jenis penelitian ini merupakan studi penelitian analitik komparatif dengan metode potong lintang. Kriteria inklusi penelitian ini adalah murid sekolah dasar kelas 5-6 di Kecamatan Jatinangor. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah pengambilan data yang tidak lengkap dan memiliki penyakit kronik. Pengambilan data berupa karakteristik subjek, antropometri dilakukan sesuai dengan prosedur WHO, dan fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) Folstein. Analisis data menggunakan Fisher’s Exact Test.Hasil. Penelitian ini terdiri dari 58 subjek yang terdiri dari 57% perempuan dan 43% laki-laki dengan rentang usia 10-12 tahun. Terdapat 26% subjek yang termasuk kategori stunting dan 26% yang termasuk kategori Mini Mental State Examination tidak normal. Berdasarkan hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Fisher’s Exact Test didapatkan hubungan antara stunting dengan gangguan kognitif dengan nilai p=0,013.Kesimpulan. Dari hasil penelitian ini ditemukan terdapat hubungan bermakna antara stunting dengan gangguan kognitif pada usia remaja awal di Kecamatan Jatinangor.
Hubungan Gangguan Tidur dan Prestasi Akademik pada Siswa Kelas III, IV, dan V Sekolah Dasar di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat Inge Yasmien; Rodman Tarigan; Lynna Lidyana
Sari Pediatri Vol 21, No 5 (2020)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.5.2020.310-16

Abstract

Latar belakang. Dampak gangguan tidur yang melibatkan beberapa aspek dan angka kejadian gangguan tidur yang cukup tinggi masih kurang mendapatkan perhatian dari orang tua anak maupun tenaga medis. Gangguan tidur dikaitkan dengan fungsi kognitif dan keberhasilan akademik anak.Tujuan. Menggambarkan prevalensi gangguan tidur pada anak usia sekolah dasar serta mengetahui pengaruh gangguan tidur dan faktor sosiodemografi terhadap prestasi akademik di kawasan Jatinangor.Metode. Desain penelitian potong lintang dilakukan di tiga sekolah dasar kelas 3, 4, dan 5 di kawasan Jatinangor pada bulan Agustus-September 2019. Orang tua mengisi lembar kuesioner skala gangguan tidur untuk anak (SDSC) dan kuesioner karakteristik subjek. Prestasi akademik dinilai dengan membandingkan nilai rata-rata individu terhadap nilai rata-rata satu kelas.Hasil. Subjek yang dapat dianalisis berjumlah 101 anak. Sebanyak 65,3% subjek mengalami gangguan tidur dan 49,5% subjek memiliki nilai di bawah nilai rata-rata kelas. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan berarti antara gangguan tidur dengan hasil prestasi akademik anak (p=0,044). Terdapat juga hubungan yang berarti antara pendidikan orang tua (p=0,042) dan jenis kelamin (p=0,037) dengan hasil prestasi akademik anak. Kesimpulan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara gangguan tidur dan prestasi akademik. Faktor sosiodemograsi yang berpengaruh terhadap prestasi akademik adalah jenis kelamin dan pendidikan orang tua anak.
Kualitas Hidup Anak dengan Penyakit Ginjal Kronik di Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung Fairuz Sani; Rodman Tarigan; Ahmedz Widiasta
Sari Pediatri Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.1.2022.31-5

Abstract

Latar belakang. Penyakit ginjal kronik (PGK) dapat mengakibatkan kualitas hidup anak penderita menjadi menurun baik secara fisik, emosional, sosial, maupun prestasi belajar. Terdapat sekitar 52 kasus PGK per tahunnya yang terjadi di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.Tujuan. Mengetahui kualitas hidup anak pasien penyakit ginjal kronik di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode. Penelitian menggunakan metode deskriptif kategorikal dengan rancangan potong lintang (Cross-sectional) pada periode Juli – Agustus 2019. Subjek penelitian terdiri atas seluruh pasien anak berusia 2-18 tahun dan orangtua pasien dengan PGK. Sampel penelitian diperoleh dengan metode konsekutif. Subjek diekslusi apabila pasien anak PGK sedang mengalami eksaserbasi akut dan pasien atau orangtua pasien yang tidak kooperatif. Data diperoleh menggunakan kuesioner PedsQL 4.0 Generic Core Scales.Hasil. Sebanyak 60% anak dengan PGK di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung memiliki kualitas hidup yang buruk berdasarkan self-report dengan rata-rata skor total yaitu 56,85 ± 7,53. Berdasarkan parent-report, kualitas hidup anak dengan PGK termasuk ke dalam kategori yang buruk dengan rata-rata skor total sebesar 69,43±17,07.Kesimpulan. Sebagian besar anak dengan PGK yang ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung memiliki kualitas hidup yang buruk. Skor total terendah terdapat pada pasien anak dengan PGK yang sudah memasuki derajat akhir (PGK 5).
Faktor-Faktor Penentu Vaccine Hesitancy pada Orang Tua Anak Usia 6-12 Tahun terhadap Vaksin COVID-19 di Kabupaten Bandung Nirwani, Bunga; Dhamayanti, Meita; Solek, Purboyo; Lukmanul Hakim, Dzulfikar Djalil; Alam, Anggraini; Tarigan, Rodman
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.283-91

Abstract

Latar belakang. Hingga 18 Mei 2020, 584 anak terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia, mendorong upaya pencegahan melalui vaksinasi anak. Kendati Ikatan Dokter Anak Indonesia mendukung vaksinasi COVID-19 pada anak usia 6–11 tahun, terdapat keraguan (hesitancy) dan penolakan vaksin yang perlu dipahami faktornya.Tujuan. Penelitian bertujuan mengeksplorasi adanya keraguan terkait vaksinasi COVID-19 pada anak dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi orang tua.Metode. Penelitian analitik kuantitatif dengan desain potong lintang, menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya yang merupakan bagian dari riset Academic Leadership Grant meliputi data demografis subjek penelitian, tingkat pengetahuan subjek penelitian mengenai COVID-19, serta status keraguan subjek penelitian terhadap vaksin COVID-19. Hasil. Didapat 613 subjek penelitian yaitu orang tua yang memiliki setidaknya satu orang anak berusia 6-12 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Dari 613 subjek, sebagian besar memiliki skor pengetahuan COVID-19 yang baik pada 419 orang (68,4%) dan sebagian besar menunjukkan tanpa keraguan pada 546 (89,1%). Pendidikan terakhir (p=0,002 <0,05) dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga (p=0,007 <0,05) merupakan faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap skor pengetahuan COVID-19.Kesimpulan. Tingkat pendidikan dan riwayat infeksi COVID-19 pada keluarga merupakan faktor yang signifikan secara statistik terhadap tingkat pengetahuan orangtua anak usia 6-12 tahun mengenai COVID-19. Tidak terdapat faktor yang signifikan secara statistik terhadap vaccine hesitancy pada orangtua anak usia 6-12 tahun.