Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENDIDIKAN PESANTREN DALAM PRESPEKTIF GENDER anik faridah
Kurikula : Jurnal Pendidikan Vol 5 No 1 (2020): Kurikula: Jural Pendidikan Vol 5 No 1 Tahun 2020
Publisher : Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.037 KB) | DOI: 10.56997/kurikula.v5i1.494

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat Muslim dan ikut terlibat langsung dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan telah memberikan kotribusi yang cukup signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.Pendidikan pesantren dan gender adalah dua hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan, sebab penggagas pendidikan untuk perempuan adalah melalui didirikannya Madrasah diniyah yang diselenggrakan di lembaga pendidikan pesantren, sehingga kini, kita bisa  melihat kiprah perempuan disegala sektor sekarang sudah mulai memiliki jabatan dan kedudukan, baik dalam ranah kultural maupun structural. Dalam arti, jika dahulu ada anggapan bahwa perempuan adalah orang kedua, maka sekarang anggapan tersebut sudah  tidak relevan lagi. Namun jika kita telisik lagi, munculnya tokoh-tokoh perempuan di arena public bahkan hanya sering terdengar sebagai ikon persamaan kesempatan, dan bukan sebagai manifestasi yang konsisten dari kebijakan berbasis kesetaraan gender. Pada titik inilah “bias gender” dirasakan masih kental ditemukan dalam berbagai segmen kehidupan masyarakat. Pada umumnya pergerakan perempuan itu muncul sebagai jawab atas respon terhadap permasalahan yang muncul. Pada masa awal abad XX hingga masa kemerdekaan; strategi yang ditempuh oleh gerakan perempuan adalah untuk meningkatkan kedudukan perempuan dan mencapai Indonesia merdeka.[1] Pasca kemerdekaan; keterlibatan dan eksistensi perempuan adalah selalu berupaya meningkatkan kesejahteraan dan pemberdayaan bagi kemajuan kaum perempuan disegala aspek kehidupan, baik melalui pendidikan dan pengajaran di sekolah atau di pesantren maupun eksistensinya di dunia kerja dan politik.[1] Samsul Nizar, Sejarah Sosial & Dinamika Intelektual Pendidikan Islam di Nusantara, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013),  206-207.Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tradisionalyangtumbuhdanberkembangditengah-tengahmasyarakatMuslimdan ikut terlibat langsungdalam upayamencerdaskankehidupan bangsa dan telah memberikankotribusiyangcukupsignifikan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan pesantren dan gender adalah dua hal yang selalumenarik untuk diperbincangkan, sebab penggagas pendidikan untukperempuan adalah melalui didirikannya Madrasah diniyah yang diselenggrakandilembagapendidikanpesantren,sehinggakini,kitabisamelihatkiprahperempuandisegalasektorsekarangsudahmulaimemilikijabatandankedudukan, baikdalamranahkulturalmaupunstructural.Dalamarti,jikadahuluadaanggapanbahwaperempuanadalahorangkedua, maka sekarang anggapan tersebut sudah  tidak relevanlagi.Namun jika kita telisik lagi, munculnya tokoh-tokoh perempuandiarena publicbahkanhanyaseringterdengar sebagaiikonpersamaankesempatan,danbukan sebagai manifestasiyangkonsisten dari kebijakanberbasis kesetaraan gender.Pada titik inilah “bias gender” dirasakanmasihkental ditemukandalamberbagai segmenkehidupan masyarakat.  Pada umumnya pergerakan perempuan itu muncul sebagaijawab atas respon terhadap permasalahan yang muncul. Pada masaawal abad XX hingga masa kemerdekaan; strategi yang ditempuh olehgerakan perempuan adalah untuk meningkatkan kedudukan perempuandan mencapai Indonesia merdeka. Pasca kemerdekaan; keterlibatandan eksistensi perempuan adalah selalu berupaya meningkatkan kesejahteraandanpemberdayaan bagikemajuan kaumperempuan disegalaaspekkehidupan, baikmelalui pendidikandanpengajaran disekolah 1atau di pesantren maupun eksistensinya di dunia kerja dan politik.
PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL Anik Faridah
Investama : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol 7 No 1 (2022): Investama : Jurnal Ekonomi dan Bisnis
Publisher : Investama : Jurnal Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.422 KB)

Abstract

Berbagai kasus SARA (Suku, Agama, Ras dan etnis serta budaya) seringkali menjadi pemicu kerusuhan yang terjadi di Indonesia. Masih segar dalam ingatan kita tentang kasus Tolikara yang terjadi di Tolikara Papua pada 17 Juli 2015, yang menyebabkan beberepa orang tewas, terluka dan kebakaran. Peristiwa itu terjadi pada saat pelaksanaan shalat ‘idul Fitri. Peristiwa Sampit antara Suku Dayak Vs Madura pada tahun 2001, konflik Ambon Tahun 1999, dan terakhir adalah demo aksi 212 yang menamakan aksi damai bela al Qur’an oleh jutaan kaum muslimin dari berbagai ormas Islam se-Indonesia di Jakarta pada 12 desember 2016, atas kasus penistaan Agama Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Djahya Purnama alias Ahok, atas kutipannya terhadap QS. Al Maidah ayat 51. Sehingga memunculkan berbagai kontrofersi dan masih banyak kasus lagi yang suatu saat ia bisa membakar dan pecah seiring terus memanasnya suhu politik, agama, sosial, budaya yang menyulut timbulnya api konflik muncul kembali. Sungguh tragis dan memilukan jika melihat hal itu terus terjadi di Indonesia sebagai Negara demokrasi yang berasaskan pancasila. Illustrasi diatas, menjadi sangat mendesak “membumikan” pendidikan Islam berwawasan multikulturalisme. Sebab sudah waktunya mengkaji kembali konsepsi politik multicultural untuk mengelola keanekaragaman. Mengajarkan para siswa tetap merasa satu saudara meskipun berbeda agama, suku, etnis, hingga bangsa. Menyikapi kebutuhan akan sekolah berwawasan multikulturalisme, sebuah cermin pendidikan keberagaman digambarkan dalam suatu sekolah multicultural dengan memberikan pelajaran character building, religions and civics (CBRC), selain materi pendidikan Agama Islam atau agama lain. Jadi materinya berisi tentang pesan-pesan agama universal yang menekankan pesan kerukunan dalam menjalani hidup dengan latar belakang agama, budaya, etnis dan suku yang berbeda-beda.
GENDER DALAM PENDIDIKAN PESANTREN Anik Faridah
Al-Mabsut: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 12 No 1 (2018): MARET
Publisher : Institut Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56997/almabsut.v12i1.295

Abstract

AbstrakPendidikan pesantren dan gender adalah dua hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan, sebab penggagas pendidikan untuk perempuan adalah melalui didirikannya Madrasah diniyah yang diselenggarakan di lembaga pendidikan pesantren, sehingga kini, kita bisa  melihat kiprah perempuan disegala sector, sekarang perempuan sudah mulai memiliki jabatan dan kedudukan, baik dalam ranah kultural maupun structural, serta kontribusi gerakan perempuan Islam di Indonesia kini juga mulai patut diperhitungkan. Dalam arti, jika dahulu ada anggapan bahwa perempuan adalah orang kedua, maka sekarang anggapan tersebut sudah  tidak relevan lagi.Namun jika kita telisik lagi, munculnya tokoh-tokoh perempuan di arena public bahkan hanya sering terdengar sebagai ikon persamaan kesempatan, dan bukan sebagai manifestasi yang konsisten dari kebijakan berbasis kesetaraan gender.Pada titik inilah “bias gender” dirasakan masih kental ditemukan dalam berbagai segmen kehidupan masyarakat.Dinamika kesetaraan gender melalui pendidikan dan pengajaran di Pesantren (bahkan di sekolah umum), merupakan isu –isu yang yang selalu hangat untuk didiskusikan.Untuk itu itu diperlukan tolak ukur yang jelas untuk dapat melihat persoalan pokok secara lebih jelas.Karena itu, isu eksistensi perempuan (Islam) di Indonesia, khususnya isu terhadap kesetaraan gender melalui pendidikan dan pengajaran di sekolah (terutama di pesantren).Belakangan muncul secara signifikan dan menarik, terutama bila dibanding dengan gerakan para kaum laki-laki.Dalam bebrapa aktivitasnya, gerakan perempuan berada dibawah bayang-bayang dimana organisasi tersebut dilahirkan.Permasalahan tersebut dapat diperluas lagi dengan mempertanyakan tentang kedudukan dan peran yang telah dimainkan kaum perempuan, terutama dilingkungan lembaga pendidikan pesantren di Nusantara. Keywords: pesantren, pendidikan dan gender
STRATEGI ACTIVE LEARNING DENGAN MODEL JIGSAW DALAM PEMBELAJARAN SKI DI SD/MI. Khusnaini Hidayatul; Anik Faridah; Julaikha Noor Hasanah; Ahmad Hasan Yusuf
Jurnal Padamu Negeri Vol. 3 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Padamu Negeri (JPN)
Publisher : CV. Denasya Smart Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69714/bkqq3w70

Abstract

This study aims to describe the effectiveness of the active learning strategy through the jigsaw model in teaching Islamic Cultural History (SKI) at elementary and Islamic elementary schools. The research employed a library research method by reviewing relevant literature, including journals, theses, and previous studies. The findings indicate that the jigsaw model increases students’ activeness, responsibility, and critical thinking skills in understanding SKI material. Through the division of home groups and expert groups, students not only comprehend the material but also teach it to their peers and internalize Islamic moral values derived from historical events. This strategy also promotes collaboration and effective communication among students. Challenges such as limited time and differences in students’ abilities can be overcome through teacher guidance and the use of appropriate learning media. Therefore, the active learning strategy based on the jigsaw model is considered effective in creating interactive, enjoyable, and character-oriented SKI learning.