Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TAFSIR AYAT POLITIK PERSPEKTIF NADIRSYAH HOSEN Rangga Nurseta; M. Irfan Riyadi
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 2 No 1 (2022): Proceeding of The 2nd Conference on Strengthening Islamic Studies in the Digital
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.007 KB)

Abstract

Abstrak : Politik pada dasarnya merupakan fenomena dalam masyarakat yang selalu berkaitan dengan manusia. Pergulatan politik dalam kehidupan manusia selalu mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman berupa teknologi informasi memberikan sebuah dorongan dalam kontribusi penafsiran Al-Qur’an mengenai dinamika politik kekinian. Oleh karena itu, diperlukan dinamika politik yang mampu menyelaraskan norma-norma sosial dengan agama, dan Nadirsyah Hosen memiliki peran penting melalui bidang penafsirannya. Maka, penellitian ini membahas tentang metode penafsiran, kriteria pemimpin dan relevansi tafsirnya. Peneliti menggunakan metode kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan konstektual dalam mengkaji penelitian ini. Keberhasilan dalam penelitian ini, didukung dengan mengkaji 6 ayat Al-Qur’an berkaitan dengan politik yang ditafsirkan oleh Nadiryah Hosen berupa Al-Maidah (51), An-nisa’ (138-139), An-Nisa’ (59), Al-Maidah (44, 45, 47), An-Nisa (108) dan An-Nur (55). Hasil penelitian ini, menjelaskan bahwa dalam melakukan penafsiran ayat politik Nadirsyah Hosen menggunakan metode tematik (maudhu’i) dengan corak adabi al-ijtima’i. Dalam menafsirkan ayat tentang kepemimpinan, dijelaskan bahwa tidak ada syarat khusus bahwa pemimpin harus dari orang Islam. Akan tetapi, orang yang mampu menjungjung tinggi keadilan, bertanggung jawab dan amanah. Sedangkan dalam menafsirkan ayat-ayat tentang kekuasaan, lebih fokus dalam mengkritisi terjadinya politisasi tafsir yang membahas mengenai Al-Maidah (51) terkait kepemimpinan non-muslim, An-nisa’ (138-139) tentang Pilkada dan An-Nisa (108) tentang KPU.
Konsep Qanaah Sebagai Media Terapi Fomo Syndrom Menurut Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Mishbah Siti Asyiyah Nurhidayati; M. Irfan Riyadi
At-Tafasir: Journal of Al-Qur'an Studies and Contextual Tafsir Vol. 2 No. 2 (2025): At-Tafasir: Journal of Al-Qur'an Studies and Contextual Tafsir
Publisher : Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/tafasir.v2i2.11405

Abstract

The phenomenon of Fear of Missing Out (Fomo) Syndrome on social media is currently a relevant issue. Fomo can affect everyone, from teenagers to adults, who actively use social media. Fomo, as a social anxiety characterized by the fear of missing out on experiences that others have, has become a significant issue in the digital era. This study aims to explain the concept of qanaah described by Quraish Shihab in Tafsir Al-Mishbāh as a therapeutic medium for the phenomenon of Fear of Missing Out (Fomo) Syndrome. This study uses a qualitative-based research type (Library Research) with a descriptive analysis approach. The data collection method used by the researcher uses a documentation study, which takes references from several literatures such as books, journals, tafsir books, articles and other relevant literature. The collected data is processed and analyzed using a descriptive analysis method, namely by explaining Quraish Shihab's interpretation systematically. The results of this study indicate that 1). According to Quraish Shihab, qanaah, which is interpreted as a sense of sufficiency and satisfaction with what is owned, offers an alternative perspective in dealing with social pressures and consumerism that trigger Fomo. This concept emphasizes the importance of self-acceptance, gratitude. As stated in Qs. Al-Baqarah (2) verses 207, 152, Qs. Ibrahim (14) verses 7, 43, Qs. At-Taubah (9) verse 59, Qs. Yusuf verse 20 and Qs. Al-Hajj verse 36. By internalizing qanaah, a person can reduce anxiety related to the loss of experience and build a healthier psychological balance. 2). This qanaah concept can be an effective therapy media to overcome Fomo Syndrome. by instilling an attitude of consent, gratitude and asceticism.