Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

IMPLEMENTASI PERMENPAREKRAF NO. 4 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR USAHA BIRO PERJALANAN WISATA PADA PELAKU USAHA BIRO PEJALANAN WISATA HAJI DAN UMROH DI YOGYAKARTA Elisa Dwi Rohani; Cerry Surya Pradana
Jurnal IPTA (Industri Perjalanan Wisata) Vol 8 No 2 (2020): Jurnal IPTA (December 2020)
Publisher : Department of Tour and Travel Studies, Faculty of Tourism, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/IPTA.2020.v08.i02.p04

Abstract

There are not a few travel agencies that move in the field of Hajj and Umrah that do not have business legality, therefore there needs to be supervision and application of business standards for businesses BPW Hajj and Umrah. The business standard of this travel agency not only applies to BPW who are active in inbound and outbound tour packages but this regulation also applies to BPW which focuses on Hajj and Umrah spiritual travel. Even every BPW Hajj and Umrah is required to have a business certificate of travel agency services in order to obtain a permit for The Umrah Ibadah Travel (PPIU). This research will be carried out on BPW Hajj and Umrah who have certified BPW business field in Yogyakarta which aims to see the extent to which standardization of this business can be applied to businesses and what obstacles faced in the application of business standards. This research uses qualitative research method to obtain data and information needed data collection techniques used in this research including Indepth Interview, observation and policy studies. The results of this study showed that the fundamental problems that are addressed by BPW Hajj and Umrah businesses do not have a valid business license, current and adequate, do not have cooperation with outside parties, especially with vendors, often found BPW business which is a cooperation between friends and family members, as well as the lack of socialization of BPW standards to BPW Hajj and Umrah businesses that are more focused on Umrah activities.
Pendidikan Tata Krama dan Sopan Santun dalam Pertunjukan Tari Klasik Gaya Yogyakarta di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta Cerry Surya Pradana; R Setyastama
Jurnal Gama Societa Vol 1, No 1 (2017): DESEMBER
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.216 KB) | DOI: 10.22146/jgs.34049

Abstract

Yogyakarta merupakan satu di antara beberapa destinasi wisata unggulan di Indonesia. Keunikan dan kelebihankegiatan pariwisata di Yogyakarta, terletak pada budaya lokal yang ada di dalamnya. Di antara budaya lokal tersebut,Tari Klasik Gaya Yogyakarta atau Joged Mataram adalah salah satu daya tariknya. Tarian ini diciptakan oleh SriSultan Hamengku Buwono I, sebagai tarian sakral di Keraton Yogyakarta. Dulunya, tarian ini eksklusif menjadimilik Keraton Yogyakarta, namun sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII, masyarakat umum dapat berlatihdan mementasankannya. Bahkan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tarian ini dijadikanpertunjukan wisata bagi para wisatawan yang datang ke Keraton Yogyakarta. Tarian ini juga mengandung nilai tatakrama dan sopan santun serta etika, baik sebelum, ketika, maupun setelah pementasan. Hingga saat ini, nilai-nilaitersebut tidak hilang bahkan jika hanya digunakan untuk berlatih. Penelitian ini menggunakan metode penelitiandeskriptif dan analisis menggunakan beberapa variabel terkait penelitian. Data diperoleh melalui observasi danwawancara secara mendalam, di samping menggunakan pustaka terkait. Hasil dari penelitian ini, Tari Klasik GayaYogyakarta merupakan kesenian yang sarat nilai dan memiliki nilai di dalamnya. Nilai tersebut berkaitan denganpendidikan tata krama, sopan santun, dan etika. Nilai-nilai ini secara spesifik terkandung pada cara berbicara, caramenempatkan diri, dan cara menghormati orang lain.
Makna Prosesi Upacara Adat Giling dan Suling di Pabrik Gula Madukismo Sebagai Atraksi Wisata Budaya Cerry Surya Pradana
Jurnal Gama Societa Vol 2, No 2 (2018): DESEMBER
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.723 KB) | DOI: 10.22146/jgs.48863

Abstract

Pabrik gula, merupakan salah satu sarana untuk memperoleh pemasukan ekonomi bagi pemerintahan Belanda di Indonesia pada masa lalu. Di Yogyakarta, terdapat 17 (tujuhbelas) pabrik gula yang beroperasi hingga masa penjajahan Jepang. Saat ini hanya ada satu pabrik gula di Yogyakarta, yaitu Pabrik Gula Madukismo yang berada di bawah manajemen PT. Madubaru. Di samping pabrik gula, ada juga pabrik spiritus yang dijalankan. Sejak tahun 1955, pabrik ini memiliki sebuah ritual maupun upacara adat yang dimulai menjelang proses penggilingan dan penyulingan tebu di PT. Madubaru. Kegiatan ini dinamakan Upacara Giling dan Suling. Prosesi Upacara Giling dan Suling, memiliki rangkaian kegiatan yang cukup banyak (sekitar 15 kegiatan tradisi) sebelum akhirnya tebu digiling. Meskipun kegiatan ini telah berjalan lebih dari 50 tahun, akan tetapi saat ini alasan dan makna mengapa kegiatan tersebut dilaksanakan, semakin kabur. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dibalik semua proses dalam Upacara Giling dan Suling yang diadakan oleh PT. Madubaru. Penelitian dilakukan secara kualitatif, dengan menitikberatkan pada hasil dari proses observasi secara langsung dan wawancara secara mendalam (in-depth interview). Di samping itu, studi pustaka yang sesuai dengan tema, juga menjadi acuan dalam penelitian ini, khususnya yang berkaitan dengan menguak makna simbolis maupun filosofis dari berbagai macam sarana upacara yang dilakukan di PT. Madubaru. Hasil analisis dibuat dengan merangkai hasil metode penelitian dengan teori-teori terkait, serta hasil observasi dan wawancara di lapangan. Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tradisi Upacara Giling dan Suling, serta makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga prosesi tersebut tidak menjadi sekedar rutinitas dengan embel-embel ‘menjaga tradisi’, akan tetapi juga menjadi identitas yang dapat dinikmati oleh banyak pihak.  
Tourism Impact on Conservation and Utilization of Borobudur Temple After Being Declared as Ten New Bali Tourist Destination in Indonesia Cerry Surya Pradana; Carlos Iban; R. Setyastama
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 8 No. 2 (2020)
Publisher : Program Pascasarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Borobudur as a world heritage site is one of “10 New Bali Tourist Destination” or “10 Priority Tourist Destination” in Indonesia. The problem arises as government’s aim to attract tourists as many as possible can be contrary to the conservation principles. This study aimed to identify the impact of the establishment of Borobudur Temple as one of 10 priority tourist destinations, specifically in terms of conservation and utilization. In addition, it is aimed to view the readiness and strategy of the manager of Borobudur Temple Heritage Site toward the policy of 10 New Bali Tourist Destination. The method used in this study is descriptive qualitative. Data will be collected by doing observation and in-depth interview as well as literature review. The data are analysed using the hermeneutic paradigm in which researchers expect the interpretations of the manager of Borobudur Temple Heritage Site dealing with the topic of the study. Data analysis is done by using hermeneutic paradigm which is expected to answer the research questions. The preliminary findings of this study, that are based on interview and literature review, state that there is a different job description between BKB and PT. TWCBRB. This study has found out the impact of the establishment of Borobudur Temple as 10 New Bali Tourist Destination in conservation and utilization term.Keywords: Borobudur Temple, heritagetourism, tourism impacts, 10 New Bali, 10 priority tourist destination.
KLASTERISASI WISATA TEMATIK KAWASAN KALIURANG Elisa Dwi Rohani; Cerry Surya Pradana
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 3 No 9: Februari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v3i9.2463

Abstract

Kaliurang merupakan salah satu daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Sleman, yang memilik potensi wisata sangat beragam juga mampu menyediakan kebutuhan bagi para wisatawan sehingga dapat mempermudah wisatawan saat melakukan kegiatan wisata. Fungsi utama kawasan Kaliurang adalah memberikan pelayanan kegiatan wisata bagi daerah tujuan wisata, Yogyakarta dan kota sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi pariwisata dan karakteristik di kawasan Kaliurang yang sesuai dengan arah pembangunan pariwisata DIY serta menyusun konsep besar pengembangan wisata tematik di Kawasan Kaliurang. Hasil dari penelitian ini menunjukan setidaknya ada 10 klaster wisata tematik yang ada di Kawasan Kaliurang yang di kelompokkan berdasarkan komponen Tema wisata, Pasar, Geografis, Jalan penghubung, Transportasi penhubung dan Diferensisasi atraksi diantaranya adalah wisata alam, wisata budaya, wisata minat khusus, wisata heritage, wisata pendidikan, wisata keluarga, wisata kuliner, wisata buatan, wisata event dan wisata bencana.
Tourism Impact on Conservation and Utilization of Borobudur Temple After Being Declared as Ten New Bali Tourist Destination in Indonesia Cerry Surya Pradana; Carlos Iban; R. Setyastama
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 8 No. 2 (2020)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitode.2020.008.02.03

Abstract

Borobudur as a world heritage site is one of 10 New Bali Tourist Destination or 10 Priority Tourist Destination in Indonesia. The problem arises as government's aim to attract tourists as many as possible can be contrary to the conservation principles. This study aimed to identify the impact of the establishment of Borobudur Temple as one of 10 priority tourist destinations, specifically in terms of conservation and utilization. In addition, it is aimed to view the readiness and strategy of the manager of Borobudur Temple Heritage Site toward the policy of 10 New Bali Tourist Destination. The method used in this study is descriptive qualitative. Data will be collected by doing observation and in-depth interview as well as literature review. The data are analysed using the hermeneutic paradigm in which researchers expect the interpretations of the manager of Borobudur Temple Heritage Site dealing with the topic of the study. Data analysis is done by using hermeneutic paradigm which is expected to answer the research questions. The preliminary findings of this study, that are based on interview and literature review, state that there is a different job description between BKB and PT. TWCBRB. This study has found out the impact of the establishment of Borobudur Temple as 10 New Bali Tourist Destination in conservation and utilization term. Keywords: Borobudur Temple, heritagetourism, tourism impacts, 10 New Bali, 10 priority tourist destination.