Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAPPING PHONOLOGICAL CHANGE: A GEOLINGUISTIC STUDY OF /W/ AND /B/ VARIATION IN BAHASA JAWA CIREBON Juwintan; Eri Kurniawan; R. Dian Dia-an Muniroh
English Review: Journal of English Education Vol. 13 No. 2 (2025)
Publisher : University of Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/erjee.v13i2.11849

Abstract

Phonological difference between geographical areas is a primary topic for dialectology and sociolinguistics, especially in multilingual settings like Indonesia. Previous studies of Cirebon Javanese have been mostly concerned with lexical matters and general dialect groupings, whereas the more detailed phonemic differences and their geographical dynamics are understudied. Previous studies of Cirebon Javanese have been mostly concerned with lexical matters and general dialect groupings, whereas the more detailed phonemic differences and their geographical dynamics are understudied. This research is intended to describe the spatial distribution of consonantal phonemes /w/ and /b/ in Cirebon Javanese and identify points of conservatism and innovation. This research applied a descriptive qualitative research design, with data obtained from 534 respondents from 267 villages in four distinct areas (North, East, Central, and Northwest Cirebon). The five key lexical items that showed variation between /w/ and /b/ were examined through structured interviews, phonological coding, and geospatial analysis with the help of QGIS. The /w/ phoneme was predominantly present in the Northern and Eastern regions, with archaic linguistic features. The /b/ phoneme was discovered to be more prevalent in Central Cirebon, with phonological innovation as a result of urbanization and contact with Standard Indonesian. Also, transitional zones with merged forms were discovered in Northwest Cirebon. The geographical, social, and contact factors influence the phonological variation of Cirebon Javanese. This research underscores the need to incorporate spatial technologies into sociophonological investigation and informs a more nuanced understanding of dialect change in multilingual settings. Theoretically, it advances micro-level geolinguistic analysis; practically, it aids dialect documentation and preservation.
Sebuah Makna Simbolik dan Sejarah Budaya Cirebon dalam Motif Batik Paksi Nagaliman: Sebuah Kajian Semiotika Juwintan; Dewi, Rinda Roshita
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 12 No. 2 (2024): Sasindo Unpam
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v12i2.67-75

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi motif batik Paksi Naga Liman beserta elemen-elemennya, serta mendeskripsikan makna yang terkandung dalam setiap lapisan motif tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika berdasarkan teori Charles Sanders Peirce yang dibatasi hanya pada objeknya saja, dengan pendekatan kualitatif melalui metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang diterapkan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif batik Paksi Naga Liman memiliki empat ikon utama, yaitu Songong Agung, Singa, Gapura Kutagara Wadasan, dan Paksi Naga Liman itu sendiri. Selain itu, terdapat empat simbol yang menyertai motif ini, yaitu pohon manggis berdaun besar, pohon manggis berdaun kecil, bunga lili, dan wadasan. Secara keseluruhan, motif ini terbagi menjadi tiga lapisan, di mana masing-masing lapisan memiliki makna tersendiri namun tetap saling berkaitan. Elemen-elemen dalam setiap lapisan motif batik Paksi Naga Liman mencerminkan karakteristik seorang raja dan keraton-keraton di Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Berdasarkan analisis motif batik Paksi Naga Liman, dapat disimpulkan bahwa penciptanya bermaksud menyampaikan pesan mengenai sejarah peradaban Keraton Cirebon sekaligus memberikan pedoman nilai kehidupan kepada masyarakat, yang disimbolkan melalui motif batik.