Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Ecological Aspects of Urban Structure of Balige District Kabupaten Toba, Indonesia Rafika Hilmi Nasution
International Journal of Architecture and Urbanism Vol. 5 No. 3 (2021): International Journal of Architecture and Urbanism
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.319 KB) | DOI: 10.32734/ijau.v5i3.7427

Abstract

Balige is the capital of Toba Samosir Regency. Balige District continues to develop dynamically, marked by the development and changes of the physical city structure Balige. It is about the real implications of a city’s physical growth and development that move dynamically, which can be seen from urban, suburban, and rural land-use patterns. The aim is to determine the ecological aspects of urban structures in the Balige District. The method used in selection is done through secondary data that does not directly provide data to researchers or analyzed documents and concluded. Initially, Balige City was centered on the pier up to Sisingamangaraja’s field, evidenced by water transportation still used today. However, the result of the study showed changes in the pattern of land use due to economic growth and social transformation.
SPATIAL ENTROPHY DAN POLARISASI MORFOLOGI KOTA SEKUNDER DI KEPULAUAN: STUDI KOTA PANGKALPINANG I Gede Wyana Lokantara; Khairunnisak; Nasution, Rafika Hilmi
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 6 No. 2 (2025): VOLUME 6 NOMOR 2 OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v6i2.12692

Abstract

Kota sekunder memainkan peran strategis dalam sistem wilayah nasional sebagai simpul pertumbuhan di luar metropolitan, namun umumnya memiliki keterbatasan kapasitas tata ruang dan daya dukung lingkungan. Pangkalpinang, sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, adalah kota sekunder bercorak kepulauan yang mengalami tekanan signifikan akibat transisi ekonomi dari sektor agraris ke jasa dan perdagangan. Dalam dua dekade terakhir, kota ini menunjukkan pola ekspansi fisik yang semakin tersebar dan sulit dikendalikan, tanpa dukungan sistem diagnosis spasial yang komprehensif terhadap perubahan penggunaan lahan. Penelitian ini menggunakan metode Shannon Entropy untuk menganalisis perubahan keteraturan spasial berdasarkan dua perspektif utama berdasarkan kedekatan terhadap pusat kota (H'p) dan jaringan jalan (H'j), dengan cakupan tujuh kecamatan dalam rentang waktu 2000, 2010, dan 2024. Hasil menunjukkan peningkatan nilai entropy tertinggi di Bukit Intan H'p sebesar 0,3335 menjadi 0,5316 dan Gerunggang dari H'p: 0,3478 menuju 0,4608), yang mencerminkan desentralisasi pembangunan mengikuti struktur jaringan jalan. Pendekatan ini berhasil mengungkap wilayah-wilayah yang mulai kehilangan kontrol spasialnya, sekaligus menawarkan cara pandang baru dalam menilai tekanan terhadap ruang produktif. Temuan ini menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan perlindungan terhadap kawasan dengan tekanan pembangunan tinggi, serta menyumbang pada pemahaman teoretis tentang arah transformasi ruang kota sekunder di kawasan kepulauan. Kata kunci: Kota sekunder; Pangkalpinang; Shannon Entropy, Spasial
RESILIENT VERNACULAR DESIGN OF BAYUNG GEDE: ARCHITECTURAL ADAPTATION OF BALI TO THE HIGHLAND ENVIRONMENT RESILIENT VERNACULAR DESIGN OF BAYUNG GEDE: ADAPTASI ARSITEKTUR BALI TERHADAP LINGKUNGAN DATARAN TINGGI Lokantara, I Gede Wyana; Rafika Hilmi Nasution; Khairunnisak; Aula Sekar Arum Pertiwi
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 5 No 2 (2025): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v5i2.175

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi desain arsitektur vernakular di Desa Bayung Gede, Bangli, Bali, sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi ekologis dataran tinggi. Melalui integrasi antara konsep Tri Mandala dan fungsi ruang terbuka natah, penelitian ini menyoroti bagaimana nilai-nilai tradisional mampu memperkuat ketahanan sosio-ekologis masyarakat lokal di tengah tekanan modernisasi dan perubahan lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan perancangan konseptual berbasis observasi spasial dan interpretasi simbolik, dengan fokus pada elemen arsitektur, tata ruang, serta material bangunan yang ramah lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip vernakular bukan hanya mencerminkan identitas budaya, tetapi juga berperan strategis dalam menciptakan sistem ruang yang adaptif terhadap iklim, topografi, dan dinamika sosial. Prinsip vernakular di Desa Bayung Gede tercermin pada elemen natah sebagai ruang terbuka tradisional yang berfungsi mengatur iklim mikro dan resapan air, serta pada bentuk rumah yang menyesuaikan atap, orientasi, dan material alami sebagai wujud warisan budaya lokal. Temuan ini menegaskan bahwa arsitektur vernakular Bayung Gede merupakan representasi nyata dari keseimbangan antara keberlanjutan ekologis, nilai spiritual, dan kebutuhan fungsional manusia di era kontemporer.
Spatial Utilization Pattern for Sasirangan Craftsmen's House in Sasirangan Village, Banjarmasin Pertiwi, Aula Sekar Arum; Asikin, Damayanti; Wulandari, Lisa Dwi; Khairunnisak, Khairunnisak; Nasution, Rafika Hilmi; Lokantara, I Gede Wyana; Khairuni, Zhilli Izzadati; Yuzni, Siti Zulfa
The Indonesian Journal of Planning and Development Vol 10, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijpd.10.2.76-84

Abstract

The Seberang Masjid region is one of the last places that still looks like Banjar Village, and it has a unique art called sasirangan cloth. The government and the corporate sector changed the name of the region to Kampung Sasirangan in 2010 to make local knowledge more valuable. This development affects the change in the role of homes, which are now used for more than just living in. They are now used for business and manufacturing. The several steps in making sasirangan cloth affect how craftspeople act, which in turn affects how the company house uses space. This study seeks to identify and analyse the spatial utilization patterns in the residences of sasirangan textile craftspeople in Kampung Sasirangan, Banjarmasin. The research methodology employed is a case study utilizing a qualitative approach, incorporating field observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that there are 17 craftsmen's houses on the land, along the riverbanks, and above the river. There are two primary ways that space is used: one building mass and two building masses. Craftsmen do not have a separate place to work; instead, they make the most of the space they already have by changing it to fit the stage of production. Craftsmen who have more complicated production stages use space in a wider range of ways.