Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pengaruh Elemen General Interior Terhadap Kenyamanan Pengunjung Pada Klinik Kecantikan Di Kota Malang Aula Sekar Arum Pertiwi; Rinawati Pudji Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena pertumbuhan pasar industri kosmetik di Indoensia juga berdampak pada perkembangan pasar pada bidang skin care. Perkembangan ini juga terlihat di Kota Malang, ditandai dengan menjamurnya klinik kecantikan. Persaingan pada klinik kecantikan bukan hanya mengenai fasilitas dan pelayanan, namun juga kenyamanan klinik. Ditemukan terdapat 3 klinik kecantikan unggulan di Kota Malang yaitu ZAP Clinic, Natasha Skin Care, dan HAYYU Syar’I Skin Clinic. Klinik kecantikan yang mampu bersaing akan mendapatkan loyalitas pelanggan dengan memperhatikan faktor-faktor tertentu. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah store atmosphere klinik. Pada penelitian terdahulu ditemukan elemen store atmosphere yang paling berpengaruh terhadap kenyamanan adalah elemen general interior. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh elemen general interior terhadap kenyamanan pengunjung pada klinik kecantikan di Kota Malang. Dalam pelakasanannya menggunakan metode deskriptif-kunatitatif untuk mendapatkan hasil yang tepat dan akurat sesuai dengan keadaan sebenarnya. Hasil penelitian ditemukan pengaruh elemen general interior terhadap kenyamanan pengunjung pada klinik kecantikan di Kota Malang sebersar 35,5%. Kemudian ditemukan aspek yang paling signifikan berpengaruh adalah kebersihan dan perabot. Kata kunci: elemen general interior, klinik kecantikan, kenyamanan pengunjung
Lanting House preservation based on river culture in Sasirangan Village, Banjarmasin Aula Sekar Arum Pertiwi; Agung Murti Nugroho
Civil and Environmental Science Journal (CIVENSE) Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.civense.2023.00601.8

Abstract

The shift in time has brought about changes that clearly leave the cultural identity of the archipelago. Sasirangan Village is one of the villages located in the middle of Banjarmasin City. This village still has a strong atmosphere, especially in the diversity of architecture in the area. River culture is still visible in this village, both for daily needs and also land for housing, namely Rumah Lanting. There are 3 Lanting houses in Sasirangan Village. The lack of a number of Lanting Houses left at this time raises a concern that there is a threat of extinction from cultural heritage. In this case, it is necessary to have a study of the architectural concept of the Lanting House to determine the right steps in preserving the Lanting House. The results of this study found that the right effort to preserve the Lanting House in Sasirangan Village was a revitalization effort that did not require material replacement and developed it as a Sasirangan gallery or souvenir shop that supports local wisdom and the identity of Sasirangan Village.
Tipologi Ruang Rumah Usaha Pengrajin Kain Sasirangan Pertiwi, Aula Sekar Arum; Damayanti Asikin; Lisa Dwi Wulandari
RUAS Vol. 21 No. 2 (2023)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2023.021.02.2

Abstract

Sasirangan fabric artisans carry out the production process in their respective houses. The house not only functions as a living space but also as a production space. Sasirangan fabric is a typical craft from Sasirangan Village, Banjarmasin, which is a source of livelihood for the community. The local government has designated Sasirangan Village as a riverfront area so that the existence and uniqueness of artisans's houses are in danger of being lost. The purpose of this case study research on the spatial typology of artists' business houses is to identify the different types of business houses based on the stage of production and space utilization patterns. The analysis was conducted by arranging categories based on function, spatial relationship patterns, and spatial organization. The research results show that six spatial typologies of business houses were found based on their space utilization patterns.
RESILIENT VERNACULAR DESIGN OF BAYUNG GEDE: ARCHITECTURAL ADAPTATION OF BALI TO THE HIGHLAND ENVIRONMENT RESILIENT VERNACULAR DESIGN OF BAYUNG GEDE: ADAPTASI ARSITEKTUR BALI TERHADAP LINGKUNGAN DATARAN TINGGI Lokantara, I Gede Wyana; Rafika Hilmi Nasution; Khairunnisak; Aula Sekar Arum Pertiwi
JURNAL ARSIP UNPAND Vol 5 No 2 (2025): JURNAL ARSIP UNPAND
Publisher : Universitas Pandanaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54325/arsip.v5i2.175

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi desain arsitektur vernakular di Desa Bayung Gede, Bangli, Bali, sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi ekologis dataran tinggi. Melalui integrasi antara konsep Tri Mandala dan fungsi ruang terbuka natah, penelitian ini menyoroti bagaimana nilai-nilai tradisional mampu memperkuat ketahanan sosio-ekologis masyarakat lokal di tengah tekanan modernisasi dan perubahan lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan perancangan konseptual berbasis observasi spasial dan interpretasi simbolik, dengan fokus pada elemen arsitektur, tata ruang, serta material bangunan yang ramah lingkungan. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip vernakular bukan hanya mencerminkan identitas budaya, tetapi juga berperan strategis dalam menciptakan sistem ruang yang adaptif terhadap iklim, topografi, dan dinamika sosial. Prinsip vernakular di Desa Bayung Gede tercermin pada elemen natah sebagai ruang terbuka tradisional yang berfungsi mengatur iklim mikro dan resapan air, serta pada bentuk rumah yang menyesuaikan atap, orientasi, dan material alami sebagai wujud warisan budaya lokal. Temuan ini menegaskan bahwa arsitektur vernakular Bayung Gede merupakan representasi nyata dari keseimbangan antara keberlanjutan ekologis, nilai spiritual, dan kebutuhan fungsional manusia di era kontemporer.
Spatial Utilization Pattern for Sasirangan Craftsmen's House in Sasirangan Village, Banjarmasin Pertiwi, Aula Sekar Arum; Asikin, Damayanti; Wulandari, Lisa Dwi; Khairunnisak, Khairunnisak; Nasution, Rafika Hilmi; Lokantara, I Gede Wyana; Khairuni, Zhilli Izzadati; Yuzni, Siti Zulfa
The Indonesian Journal of Planning and Development Vol 10, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijpd.10.2.76-84

Abstract

The Seberang Masjid region is one of the last places that still looks like Banjar Village, and it has a unique art called sasirangan cloth. The government and the corporate sector changed the name of the region to Kampung Sasirangan in 2010 to make local knowledge more valuable. This development affects the change in the role of homes, which are now used for more than just living in. They are now used for business and manufacturing. The several steps in making sasirangan cloth affect how craftspeople act, which in turn affects how the company house uses space. This study seeks to identify and analyse the spatial utilization patterns in the residences of sasirangan textile craftspeople in Kampung Sasirangan, Banjarmasin. The research methodology employed is a case study utilizing a qualitative approach, incorporating field observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that there are 17 craftsmen's houses on the land, along the riverbanks, and above the river. There are two primary ways that space is used: one building mass and two building masses. Craftsmen do not have a separate place to work; instead, they make the most of the space they already have by changing it to fit the stage of production. Craftsmen who have more complicated production stages use space in a wider range of ways.