This Author published in this journals
All Journal Gatranusantara
Dorcas Langgar
Staf Pengajar pada Program Studi PPKN FKIP Undana

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENERAPAN METODE SIMULASI OLEH GURU PPKN DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP NEGERI 10 KOTA KUPANG Dorcas Langgar
Jurnal Gatranusantara Vol. 19 No. 1 (2021): April
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.149 KB)

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini disesuaikan dengan masalah penelitian yaitu (1) bagaimana penerapan metode simulasi dalam pembelajaran PPKn di kelas VII SMP Negeri 10 Kota Kupang? (2) bagaimana hasil belajar siswa setelah penerapan metode simulasi dalam pembelajaran PPKn di kelas VII SMP Negeri 10 Kota Kupang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan metode simulasi oleh guru dalam pembelajaran PPKn dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMP Negeri 10 Kota Kupang karena metode pembelajaran simulasi merupakan metode pembelajaran berupa tiruan atau berpura-pura sehingga semua siswa berperan aktif dalam penyajian materinya melalui bermain peran. Dengan demikian hasil belajar siswapun dapat meningkat berdasarkan hasil belajar dengan presentasi yang didapat dari nilai rata-rata siswa. Sebelum menerapakn metode simulasi dengan presentasi hasil tes awal siswa yang mendapatkan nilai rata-rata 75-78 sebanyak 9 orang dengan hasil presentasi 21% dari 33 siswa, sedangkan yang memperoleh nilai dari 60-70 dengan hasil presentasi 49% adalah 24 siswa dari 33 siswa, setelah menerapkan metode simulasi hasil belajar siswa meningkat dengan nilai rata-rata 78-100 sebanyak 30 orang dengan hasil presentasi 75% dari 33 siswa, sedangkan nilai rata-rata 70 dari hasil presentasi 7% sebanyak 3 orang dari 33 siswa. Dengan demikian presentasi ketuntasan hasil belajar siswa dengan rumus siswa yang tuntas belajar dikali 100% dibagi jumlah siswa. Dari rumus tersebut sebelum menerapkan metode simulasi hasil presentasi ketuntasan 21% menjadi 75% setelah menerapkan metode simulasi. Berdasarkan pencapaian hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn dengan menerapkan metode simulasi siswa lebih aktif dan lebih cepat memahami materi yang diberikan saat pembelajaran berlangsung, maka disarankan kepada guru untuk menggunakan metode simulasi dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn.
MISI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DOMAIN SOSIO–KULTURAL: EFEKTIVITAS PENDIDIKAN PENGUATAN WAWASAN KEBANGSAAN OLEH BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN BELU Dorcas Langgar
Jurnal Gatranusantara Vol. 20 No. 2 (2022): Edisi Okotober
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil evaluasi program dari keempat komponen pada PPWK yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Belu. Penelitian melalui pendekatan kualitatif, metode evaluasi program stufflebeam CIPP, Langkah penelitian membandingkan kriteria ideal sub indikator komponen CIPP dengan data riil lapangan dari hasil Observasi, Wawancara dan Dokumentasi dan peneliti memberikan bobot ketercapaian setiap sub indikator, berdasarkan teknik kriteria kualitatif dengan pembobotan diperoleh nilai dan predikat setiap komponen pada PPWK. Hasil Penelitian 1) Kegiatan PPWK Badan Kesbangpol Kabupaten Belu berjalan fungsional sesuai standar Permendagri 71/2012 atas dasar SK Bupati Belu dikoordinir Bidang I Ideologi, Wasbang dan Karakter Bangsa, menyasar masyarakat kecamatan perbatasan. Nilai 3.4, sangat efektif. 2) Nilai input 3.0, efektif. Penurunan anggaran. Sarpras memadai. Metode ceramah, diskusi. Evaluasi melalui laporan kegiatan dan pimpinan. Nilai proses 3.31, efektif. Tepat waktu, adanya koordinasi dengan kecamatan dan pemetaan wilayah, hambatan: anggaran, SDM, kepustakaan wasbang. 3) Kualitas cukup tercapai, Kuantitatif terlaksana sesuai agenda. Masyarakat berharap menjangkau desa. Tidak ada survey kepuasan. Nilai3.36, efektif.
KEARIFAN LOKAL MEMINIMALISASI KONFLIK DALAM SISTEM PEMBAGIAN WARISAN MASYARAKAT ADAT TIMOR DI DESA TASINIFU KECAMATAN MUTIS KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Leonard Lobo; Makarius Bria; Dorcas Langgar; Marsi Bani; Soleman Uf
Jurnal Gatranusantara Vol. 20 No. 2 (2022): Edisi Okotober
Publisher : Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan dalam penelitian ini adalah Kearifan Lokal Meminimalisasi Konflik dalam Sistem Pembagian Warisan Masyarakat Adat di Desa Tasinifu Kecamatan Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara. Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk kearifan lokal dan sistem pembagian warisan menurut hukum adat Timor di Desa Tasinifu Kecamatan Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara, mendeskripsikan bentuk-bentuk kearifan lokal dalam sistem pembagian warisan untuk meminimalisasi terjadinya konflik tanah dalam masyarakat adat Timor di Desa Tasinifu Kecamatan Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara dan mendeskripsikan pola penyelesaian sengketa tanah menurut hukum adat masyarakat Timor di Desa Tasinifu Kecamatan Mutis Kabupaten Timor Tengah Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda. Sumber data yang digunakan dikumpulkan baik dari data primer dan data sekunder yang telah diperoleh dari lapangan dalam bentuk kalimat jelas sehingga mudah dipahami. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk kearifan lokal dan sistem pembagian harta warisan menurut hukum adat yaitu permasalahan dalam pembagian harta warisan berdasarkan adat Timor di Desa Tasinifu antara lain permasalahan dalam proses pendaftaran ahli waris hak atas tanah warisan. Masalahnya ada di berkas lamaran yang diajukan sehingga proses sertifikasi menjadi lambat. Selain itu, kehati-hatian prinsip yang perlu dimiliki oleh petugas Kantor Pertanahan Kabupaten Timor Tengah Utara, agar berkas yang akan diproses dapat diselesaikan dengan baik berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wujud kearifan lokal adalah masyarakat Desa Tasinifu yang terjadi seperti ini, memicu munculnya pelmahan hak kepemilikan tanah. Karena hak milik atas tanah adalah hak turun temurun yang paling kuat dan paling lengkap yang dapat dimiliki oleh masyarakat atas tanah, hal ini menjadi persoalan dan persoalan ketika hak milik atas tanah dialihkan kepada pihak lain dan tanah kepada anak sebagai ahli waris dalam suatu proses pewarisan dalam masyarakat hukum adat di Indonesia Desa Tasinifu karena masalah status hukum kepemilikan tanah.