Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Menelaah Makna Kebebasan Individual Berhadapan dengan Protokol Kesehatan Covid 19 Antonis Baju Nujartanto
Media (Jurnal Filsafat dan Teologi) Vol. 2 No. 2 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53396/media.v3i2.38

Abstract

One of the recommended solutions to reduce the spread of the Covid-19 outbreak is the implementation of health protocols, such as washing hands, wearing masks, maintaining social distance, staying away from crowds, and reducing mobility. However, the implementation of health protocols has raised philosophical questions on the meaning of personal freedom. Do health protocols limit or even hinder a person's freedom? This paper aims to look at the meaning of personal freedom in dealing with health protocols during the Covid-19 pandemic. Based on literature studies, the author tries to redefine individual freedom in the context of dealing with a pandemic. Personal freedom is placed in the context of the spirit and efforts to tackle the problems of this pandemic together.
DEMOKRASI DALAM NEGARA AGAMAIS Hubungan antara demokrasi dengan agama dalam pembentukan negara demokratis yang ideal Nujartanto, Antonius Baju
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 3, No 1 (2019): Fides et Ratio
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v3i2.30

Abstract

Democracy is a term which is understood as polical matters. Every nation owns his policy to maintain the practice of a democracy. Particulary in Indonesie, actualy we live our own democracy as a way of life that is based in our political, cultural and sosial’s background. Start from this point of view, we must put our understanding of democracy properly, then the rights of every citizen could have its place. In the other side we put the importance of the religious consciousness in this activity of democracy that rises some particular problemes. This is the point central of this discussion that we want to make it clear.
Mengidentifikasi Fenomena Perceraian di “Kota Seribu Satu Gereja” dalam Kompleksitas Fakta Sosial Religiusitas dan Liquid Modernity Welerubun, Ignasius; Bayu Nujartanto, Antonius
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 1 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i1.5238

Abstract

Julukan kota Manado sebagai "Kota Seribu Satu Gereja" memberi kesan kentalnya kekristenan di daerah ini. Idealnya nilai- nilai kekristenan dihayati dan dihidupi dalam praksis sehari-hari, termasuk nilai dan norma perkawinan sebagai sesuatu yang sakral, sakramental, dan tak dapat diceraikan. Tetapi kenyataannya, angka perceraian dari tahun ke tahun semakin meningkat di daerah ini. Pertanyaannya, apa penyebab yang memicu peningkatan ini? Data dari Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara tahun 2024 menunjukkan beberap faktor seperti perselingkuhan, kekerasan di dalam rumah tangga, ekonomi, dan lain-lain. Kita sementara berada dalam sebuah masyarakat yang oleh Zygmunt Bauman disebut sebagai masyarakat cair (Liquid Modernity) yang mengandung di dalamnya ada yang namanya Liquid Love (cinta yang cair). Apakah kondisi liquid modernity ini ikut memicu peningkatan angka perceraian ini? Karena itu lewat pendekatan fenemonologi yang menjadi metode kerja di dalam penelitian ini, peneliti hendak menemukan bagaimana pasangan-pasangan nikah yang akhirnya bercerai memaknai, menghayati dan mempraktekkan nilai-nilai dan norma perkawinan kekristenan (yang tidak dapat cerai) di dalam kondisi masyarakat cair dengan cinta yang cair ini. Urgensi memahami fenomena perceraian di Kota dengan julukan “kota Seribu Satu Gereja” tidak hanya terbatas pada pengenalan dan pemahaman tentang penyebabnya tetapi memberikan ruang untuk rethinking tentang model pembinaan dan kebijakan strategis pastoral Gereja yang efektif dan efisien sesuai perubahan sosial-budaya yang terjadi.