Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Analisis Pengaruh Kedalaman Saluran Pengarah Aliran Pada Pelimpah (Spillway) Dengan Pemodelan Numerik Reszha Pahlavi Ali; Wasis Wardoyo; Mahendra Andiek Maulana
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 20, No 3 (2022)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1809.67 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v20i3.13349

Abstract

Desain pelimpah samping berpotensi menimbulkan aliran helicoidal. Aliran tersebut berpotensi meningkatkan beban hidrodinamis pada struktur pelimpah. Untuk mencegah hal tersebut maka saluran pengarah aliran harus didesain kecepatan alirannya maksimal 4 meter/detik. Pemodelan numerik dilakukan dengan program OpenFOAM. Data yang dibutuhkan yaitu dimensi, debit, dan tinggi muka air penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh parameter sensitivitas model, menganalisis model numerik terhadap model eksperimen berdasarkan profil muka air, menganalisis hubungan antara rasio kedalaman bendungan dan kedalaman saluran pengarah aliran terhadap parameter hidraulikanya. Didapatkan hasil bahwa model numerik dengan OpenFOAM memiliki performa yang baik. Hal tersebut ditunjukkan oleh rata-rata nilai RMSE untuk setiap simulasi yaitu 0,996 dan nilai koefisien NASH yaitu 0,074. Parameter yang paling sensitif yaitu kerapatan mesh. Rasio (H/P) berpengaruh terhadap profil muka air diatas mercu. Semakin kecil rasio (H/P) maka, semakin besar penurunan muka air yang terjadi. Semakin besar rasio (H/P) maka semakin kecil penurunan muka air yang terjadi.
Analisis Kerentanan Banjir Menggunakan Data Citra Satelit dan Machine Learning di Kota Surabaya Ahmad Saifudin; Mahendra Andiek Maulana; Anak Agung Ngurah Satria Damanegara
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 21, No 3 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2579-891X.v21i3.15910

Abstract

Banjir merupakan bencana alam yang biasanya terjadi saat hujan. Banjir berdampak pada kerusakan sehingga diperlukannya penilaian kerentanan banjir yang efisien. Citra satelit dapat digunakan untuk membantu mendeteksi banjir dalam skala yang luas. Salah satu tantangan dalam mengolah data citra adalah interpretasi citra. Dengan memanfaatkan kemampuan Machine Learning yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis, interpretasi citra dapat dilakukan dengan cepat. Namun, tantangan dari penggunaan citra satelit adalah kurangnya dataset kejadian banjir dalam skala besar. Pada paper ini, kami menyajikan tiga pendekatan Machine Learning, yaitu Bayes, Rain Forest (RF), dan Support Vector Machine (SVM) yang kemudian dianalisis menggunakan metode Frequency Ratio sehingga didapatkan indeks kerentanan banjir.  Dengan memanfaatkan citra Sentinel-1 yang tersedia, analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Kota Surabaya termasuk kerentanan banjir rendah sebesar 61,23 persen dari total luas wilayah.
Model Analytic Hierarchy Process (AHP) dalam Penentuan Strategi Pemilihan Lokasi Mata Air untuk Pembangunan Infrastruktur Irigasi di Kota Batu Vanadani Pranantya; Mahendra Andiek Maulana; Nastasia Festy Margini
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 21, No 3 (2023)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2579-891X.v21i3.17472

Abstract

Potensi mata air di Kota Batu yang digunakan sebagai sumber air irigasi secara keseluruhan belum memiliki infrastruktur irigasi sehingga perlu adanya pengembangan mata air. Pengembangan dilakukan dengan melakukan pembangunan infrastruktur irigasi. Mata air sejumlah 15 lokasi diidentifikasi berdasarkan aspek dari parameter yang meliputi kuantitas, kualitas, kontinuitas, dan jarak. Aspek parameter-parameter yang diidentifikasi digunakan sebagai pedoman dalam pemilihan lokasi mata air yang akan dibangun infrastruktur irigasi. Pemilihan lokasi mata air yang akan dibangun infrastruktur irigasi dilakukan dengan menggunakan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode AHP digunakan untuk menentukan nilai bobot dari setiap parameter dan alternatif. Berdasarkan nilai bobot dari setiap parameter dan alternatif kemudian dilakukan tahapan Sintesis Model AHP. Hasil dari sintesis menunjukkan bahwa dari ke-15 mata air nilai prioritas tertinggi berada di MA-15 (Mata Air Rembyung) dengan nilai 0,119. Hasil dari pemodelan AHP ini yang berupa nilai skala prioritas dapat digunakan dalam penentuan mata air yang akan dikembangkan terlebih dahulu.
SEDIMENT TRANSPORT BEHAVIOUR IN A STRAIT UNDER THE INFLUENCE OF CURRENTS Mahendra Andiek Maulana; A.A. Ngr. Satria Damarnegara
Journal of Marine-Earth Science and Technology Vol. 6 No. 1 (2025): April
Publisher : Marine & Earth Science and Technology Research Center, DRPM, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j27745449.v6i1.8780

Abstract

The Madura Strait, one of the most congested shipping lanes in Indonesia has been an important shipping route since the 13th century until recent days. The problem that exists in Madura strait is excessive sediment supply from river. This condition has disrupted several infrastructure facilities in the Madura Strait as happened at the Petrokimia Gresik port that is experiencing massive sedimentation. As one of the main supporting facilities in the factory, the existence and continuity of the port is important to always be maintained. This is related to the shallowing that often occurs in turning basin area. To estimate the shallowing process due to sedimentation in the pier pool, an analysis using a numerical model approach was applied. Based on the analysis, the current velocity in the turning basin area ranged from 0.10 to 0.20 m/s. In some conditions, the current velocity tends to approach 0 m/s which indicates a sedimentation zone was formed. Further, the analysis of bottom sediment movement shows the density of sediment material around the turning basin area ranged between 0.03 and 0.06 kg/m3. This condition leads seabed shallowing by 5.5 cm/month threatens navigability.