Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Does Lifestyle Affect Dysmenorrhea Intensity? A Cross-Sectional Study: Apakah Gaya Hidup Mempengaruhi Intensitas Dismenore? Sebuah Studi Cross-Sectional Annisa D. P. Hernanto; Arie A. Polim; Vetinly
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 10 No. 3 July 2022
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v10i3.1559

Abstract

Objective : To determine whether or not there is a relationship between lifestyle and dysmenorrhea intensity in FKIK Atma Jaya students. Methods : This research is a cross sectional analytic descriptive study with a minimum sample size of 196 students of the FKIK Atma Jaya class 2017-2019. The degree of pain was assessed using the Verbal Multidimensional Scoring System pain scale. Frequency of fast food consumption were assessed with Food Frequency Questionnaire. Frequency of physical activity were assessed with International Physical Activity Questionnaire. The datas were analyzed using the Kolmogorov-Smirnov normality test, the Mann-Whitney U test, and the Kruskal-Wallis test. Results : The highest percentage of menstrual pain was at grade 1 (painful menstruation; rarely disturbed activity; no systemic symptoms; rarely required analgesics) for the VMSS scale (46.3%). The percentage of fast food consumption in this study was 86.1%. The highest percentage of physical activity in the category of moderate physical activity was 56.2%. The results of this study indicates a significant relationship between consumption of fast food and the intensity of dysmenorrhea with p = 0.017. There were no significant relationship between physical activity and the intensity of dysmenorrhea with p = 0.225 Conclusion : Consumption of fast food were related to the intensity of dysmenorrhea, whereas physical activity was not related with the intensity of dysmenorrhea. Keywords : dysmenorrhea, , fast food consumption, lifestyle, physical activity Abstrak Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan gaya hidup dengan intensitas dismenore pada mahasiswa FKIK Atma Jaya. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik cross sectional dengan jumlah sampel minimal 196 mahasiswa FKIK Atma Jaya angkatan 2017-2019. Derajat nyeri dinilai dengan menggunakan skala nyeri Verbal Multidimensional Scoring System. Frekuensi konsumsi makanan cepat saji dinilai dengan Food Frequency Questionnaire. Frekuensi aktivitas fisik dinilai dengan International Physical Activity Questionnaire. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji Mann-Whitney U, dan uji Kruskal-Wallis. Hasil : Persentase nyeri haid tertinggi pada derajat 1 (nyeri haid; aktivitas jarang terganggu; tidak ada gejala sistemik; jarang memerlukan analgesik) untuk skala VMSS (46,3%). Persentase konsumsi fast food dalam penelitian ini adalah 86,1%. Persentase aktivitas fisik tertinggi pada kategori aktivitas fisik sedang adalah 56,2%. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food dengan intensitas dismenore dengan p = 0,017. Tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan intensitas dismenore dengan p=0,225 Kesimpulan : Konsumsi fast food berhubungan dengan intensitas dismenore, sedangkan aktivitas fisik tidak berhubungan dengan intensitas dismenore. Kata kunci : aktivitas fisik, dismenore, gaya hidup, konsumsi fast food
Hubungan Konsumsi Buah dan Sayur Terhadap Infeksi Saluran Kemih Selima, Ivan Citra; Kurniawan, Felicia; Vetinly; Djaya, Prisillia Nanny; Bororing, Sheella Rima
Bahasa Indonesia Vol 22 No 1 (2023): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v22i1.3104

Abstract

Pendahuluan: Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan penyakit yang menyerang sistem kemih, baik organ maupun salurannya. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi dengan angka tersering kedua pada anak, setelah penyakit infeksi saluran pernafasan dan dapat menimbulkan beban ekonomi negara sehingga harus segera diatasi. Sekitar 56,6% anak usia sekolah tidak mengonsumsi buah dan sayur yang cukup. Hal ini dapat menjadi faktor pendukung tingginya angka kasus ISK di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecukupan makan buah dan sayur dengan kejadian suspek ISK pada anak. Metode: Desain penelitian ini adalah studi observasional potong lintang yang menggunakan analisis data sekunder (ADS). Jumlah sampel sebanyak 331 murid kelas 4-6 dari dua Sekolah Dasar di Jakarta Utara. Data kecukupan konsumsi buah dan sayur didapatkan melalui pengisian kuesioner, sedangkan dugaan ISK diperoleh dari pemeriksaan urinalisis (makroskopik, kimiawi, dan mikroskopik).  Hasil: Terdapat 154 murid kurang mengonsumsi buah dan sayur, serta 9 murid diduga ISK. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara kecukupan konsumsi buah dan sayur dengan kejadian ISK (p=0,378), namun pada responden yang mengonsumsi cukup buah dan sayur memiliki persentase suspek ISK yang lebih kecil dibandingkan dengan responden yang kurang mengonsumsi buah dan sayur. Simpulan: Konsumsi buah dan sayur tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan suspek ISK pada anak. tetapi berdasarkan persentase suspek ISK, anak yang cukup mengonsumsi buah dan sayur memiliki persentase suspek ISK yang lebih rendah. Kata Kunci: urinalisis, pola kebiasaan makan buah dan sayur, infeksi saluran kemih.