I Nengah Wiadnyana Steven Christian
Departemen Bedah, Divisi Bedah Onkologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Bali, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KARAKTERISTIK KANKER PAYUDARA WANITA DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR TAHUN 2014-2015 Janaari Pramana Putri Gelgel; INW Steven Christian
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.787 KB) | DOI: 10.24843/MU.2020.V09.i3.P10

Abstract

Kanker payudara adalah salah satu penyebab tingginya mortalitas wanita di seluruh dunia. Kanker payudara wanita memiliki karakteristik yang berbeda sesuai pola demografi dan klinisnya. Penelitian ini memiliki tujuan mengetahui karakteristik kanker payudara wanita yang akan bermanfaat dalam pencegahan kanker payudara wanita. Metode penelitian menggunakan studi deskriptif retrospektif dengan cross-sectional design, dan menggunakan data sekunder yaitu rekam medis di RSUP Sanglah tahun 2014 sampai 2015. Pengumpulan data dilakukan tanggal 2 Mei 2016 sampai 30 Juni 2016. Dari total 170 sampel, hanya 86 sampel yang memiliki catatan medis lengkap. Variabel yang diteliti adalah umur, tingkat pendidikan, paritas, Indeks Massa Tubuh, jenis histopatologi, grade dan stadium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 86 pasien kanker payudara wanita, 44,2% berumur 40-49 tahun; 41,9% berpendidikan Sekolah Menengah Atas; 75,6% multiparitas; 52,3% memiliki Indeks Massa Tubuh normal; 68,6% memiliki jenis histopatologi Invasive Ductal Carcinoma; 50% grade 2; dan 46,5% stadium IIIB. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah karakteristik kanker payudara wanita di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2014-2015 adalah berumur 40-49 tahun, tingkat pendidikan SMA, multiparitas, memiliki Indeks Massa Tubuh normal, jenis histopatologi Invasive Ductal Carcinoma, grade 2 dan stadium IIIB. Kata Kunci : Karakteristik, Kanker Payudara Wanita, Umur, Tingkat Pendidikan, Paritas, Indeks Massa Tubuh, Jenis Histopatologi, Grade, Stadium
Bilateral Giant Fibroadenoma of The Breast: A Case Report Jasmine Stephanie Christian; Putu Anda Tusta Adiputra; INW Steven Christian
JBN (Jurnal Bedah Nasional) Vol 2 No 2 (2018): JBN (Jurnal Bedah Nasional)
Publisher : Program Studi Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.406 KB) | DOI: 10.24843/JBN.2018.v02.i02.p04

Abstract

Background: fibroadenoma of the breast is one of the ANDI (Aberration of the Normal Development and Involution of the Breast) groups. Benign breast disorders are common in females younger than 30 years, but such masses are not common in juvenile or pre-menarche age groups. The exact pathological diagnosis can be investigated after surgery. For treatment, surgical procedures are needed to remove the lump. Case: a 30-year-old girl visited the outpatient clinic with psychological distress due to the presence of lumps in her both breasts. The lumps have been growing bigger and bigger in the last 3 years. On the physical examination both breasts are huge. FNAB showed the interpretation of atypical ductal hyperplasia and excisional biopsy examination confirmed the presence of bilateral giant fibroadenoma of breast. In this patient, the treatment was carried out in two-staged surgery due to her initial rejection to undergo total breast lumps and tissue removal. Several lumps still remained in the right breast which was indicated for the second surgery. The following surgery was done to remove all of the lumps and breast tissue with reduction breast surgery. Conclusion: conducting breast surgery on the young girl or un-married is not easy as many physical and psychology problems should be considered. Therefore, conducting breast surgery, in this case, should be performed wisely as the recurrence of the lumps was still possible.
Hubungan antara TIL (Tumor Infiltrating Lymphocyte) dan MAI (Mitotic Activity Index) dengan kejadian metastase kelenjar getah bening (KGB) aksila pada operable breast cancer di RSUP Sanglah, Denpasar. I Gede Aditya Krishna Santhi; I Nengah Wiadnyana Steven Christian; I Gede Raka Widiana
Intisari Sains Medis Vol. 10 No. 2 (2019): (Available online: 1 August 2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.19 KB) | DOI: 10.15562/ism.v10i2.427

Abstract

Latar belakang: Kanker payudara merupakan penyakit yang menduduki urutan ketiga di Eropa dan United State sebagai jenis kanker yang menyebabkan kematian. Studi dua dekade terakhir mengungkapkan bahwa Tumor microenvironment (TME)juga merupakan penentu penting perilaku tumor.Tumor padat umumnya terdiri dari berbagai sel kekebalan tubuh, termasuk limfosit T dan B, sel NK, makrofag, dan neutrofil. Imunitas adaptif dan imunosupresi selalu menunjukkan tingkat ekspresi yang berbeda pada tumor, dan banyak gen kekebalan terkait dengan inflamasi. Interaksi antara sel imunitas menentukan induksi atau penghambatan perkembangan tumor, angiogenesis, dan metastasis. Sistem imunitas mempengaruhi surveillance pada pasien kanker. Proliferasi telah dikenali sebagai “hallmark” dari kanker dan merupakan faktor prognostik kanker. Evaluasi dari derajat proliferasi sel dalam jaringan tumor digunakan untuk menilai progresifitas tumor. Penilaian indeks mitosis telah digunakan sebagai “gold standard” dalam menilai agresivitas tumor. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan respon imun pada tumor dalam hal ini sel Lymphocyte dan aktifitas pembelahan sel tumor dengan kejadian penyebaran kanker ke KGB aksila pada operable breast cancer di RSUP Sanglah Denpasar. Metoda:Lima puluh tiga sampel pasien kanker payudara post MRM (Modified Radical Mastectomy) yang berobat di RSUP Sanglah yang mempunyai catatan medis (data klinis, histopatologis), sampel dipilih secara eligible sampling pada rekam medis pasien di Bagian/ SMF Bedah Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah dari tahun 2016 sampai dengan 2018. Penelitian ini merupakan “Cross Sectional Analitik" hubungan antara TIL dan MAI dengan kejadian metastase KGB aksila pada pasien operable breast cancer     secara univariant, bivariat dan multivariant dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 20 for windows. Hasil: menunjukkan analisa dengan uji Chi-square didapatkan pasien dengan low TIL (P= 0,627), intermediate TIL (P= 0,339) dan pasien dengan MAI  ≥ 25 /10 lp (P= 0,531), MAI 13-24 /10 lp (P= 0,531) tidak dijumpai adanya hubungan bermakna dengan kejadian metastase KGB aksila karena tidak signifikan secara statistika.  Simpulan:tidak dijumpai adanya hubungan bermakna, low dan intermediate TIL memiliki kecenderungan metastase KGB aksila pada Operable Breast Cancer lebih tinggi, dan dijumpai pula adanya kecenderungan makin tinggi MAI, semakin tinggi resiko metastase KGB aksila pada operable breast cancer di RSUP Sanglah Denpasar.Hubungan antara TIL (Tumor Infiltrating Lymphocyte) dan MAI (Mitotic Activity Index) dengan kejadian metastase kelenjar getah bening (KGB) aksila pada operable breast cancer di RSUP Sanglah, Denpasar.
Hubungan antara Platelet Lymphocyte Ratio (PLR) dan respon Neoadjuvant Chemotherapy (NAC) CAF pada pasien Locally Advanced Breast Cancer Aryo Wibisono; I Nengah Wiadnyana Steven Christian; Putu Anda Tusta Adiputra
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 2 (2020): (Available online: 1 August 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.635 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i2.754

Abstract

Background: The incidence of LABC (Locally Advanced Breast Cancer) in Indonesia is estimated more than 50%, and in Bali as many as 76.3% from all of breast cancer cases. Response of NAC (Neoadjuvant chemotherapy) in LABC case is not the same on each patient. Currently, there are several biomarkers that can be a predictor of NAC response on LABC. One of them is PLR (platelet lymphocyte ratio). PLR is an easy, cheap and fast marker to be counted, but not all clinicians know its role. Lack of research in the relationship of PLR to NAC CAF (Cyclophospamide, Adriamycin, 5 Flourouracil) response in patients with LABC are currently making researchers interested in studying it.Method: This research is observational analytics, using a retrospective cohort study.  The number of samples was 62 (consecutive sampling), obtained from the medical records of patients who had undergone NAC CAF from 2015-2019 at Sanglah Hospital Denpasar.  PLR value  and initial tumor size were calculated before undergoing chemotherapy, then assessed the NAC CAF response to tumors after undergoing 3 cycles of chemotherapy. Positive response if tumor size is reduced and  negative response if the tumor size is persists or enlarges. In this study use a cut off point of PLR 150.Results: From 62 respondents obtained PLR value ≤ 150 had a positive response of 77.1% and 22.9% had a negative response. From these results obtained a correlation between PLR value with responses to NAC CAF in LABC patients, where low PLR values had  positive responses 1.6 times (IK 95; 1.04 - 2.47) with an output value of p = 0.018.Conclusion: There is a correlation between PLR and NAC CAF response, where a low PLR value (PLR ≤ 150) has a positive response to NAC CAF in LABC patients. Latar Belakang: Angka kejadian LABC (Locally Advanced Breast Cancer) di Indonesia diperkirakan lebih dari 50%, dan di Bali sebanyak 76,3% dari semua kasus kanker payudara. Respon NAC (neoadjuvant chemotherapy) pada kasus LABC tidak sama pada setiap penderita. Saat ini terdapat beberapa biomarker yang dapat menjadi prediktor terhadap respon NAC pada LABC, salah satunya adalah PLR (platelet lymphocyte ratio). PLR merupakan suatu marker yang mudah, murah dan cepat untuk dinilai tetapi masih banyak klinisi yang belum mengetahui perannya. Kurangnya penelitian mengenai hubungan PLR terhadap respon NAC CAF (Cyclophospamide, Adriamycin, 5 Flourouracil) pada pasien LABC saat ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti hal tersebut.Metode: Jenis penelitian analitik observasional menggunakan studi kohort retrospektif, dengan 62 responden (consecutive sampling), yang didapatkan dari rekam medis pasien yang telah menjalani NAC CAF dari tahun 2015-2019 di RSUP Sanglah Denpasar. Nilai  PLR  dan ukuran tumor awal dihitung sebelum kemoterapi, kemudian dinilai respon NAC CAF terhadap tumor setelah menjalani 3 siklus kemoterapi. Respon positif  yaitu jika terjadi reduksi ukuran tumor ≥ 30% dari ukuran tumor awal dan respon negatif  jika terjadi reduksi ukuran tumor < 30%. Penelitian ini menggunakan cut off point  PLR 150,0 yang didapatkan dari penelitian sebelumnya.Hasil: Dari 62 responden didapatkan nilai PLR ≤ 150 mempunyai respon positif sebanyak 77,1% dan 22,9% respon negatif. Dari hasil tersebut didapatkan hubungan antara nilai PLR dengan respon terhadap NAC CAF pada pasien LABC, dimana nilai PLR rendah mempunyai respon positif sebanyak 1.6 kali (IK 95; 1.04 – 2.47) dengan hasil output nilai p = 0.018.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara PLR terhadap respon NAC CAF, dimana nilai PLR yang rendah (≤ 150) mempunyai respon positif terhadap NAC CAF pada pasien LABC. Â