Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Diagnosis dan Penatalaksanaan Idiopathic Macular Hole Meriana Rasyid
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 1 (2018): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v1i1.2551

Abstract

Macular hole pertama kali dilaporkan disebabkan oleh adanya trauma tumpul pada mata. Namun dewasa ini, telah diketahui bahwa keadaan ini dapat terjadi tanpa didahului trauma. Idiopathic macular hole sering terjadi pada usia dekade 6 hingga 7. Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan funduskopi dan optical coherence tomography (OCT) sebagai standar emasnya. Hingga tahun 1991, keadaan ini dianggap tidak dapat diobati / ditangani (untreatable), namun sekarang sudah rutin dilakukan intervensi untuk menutup hole dan memperbaiki tajam penglihatan. Pilihan penatalaksanaan disesuaikan dengan karakteristik idiopathic macular hole. dapat dilakukan dengan vitrektomi kombinasi dengan peeling internal limiting membrane dan tamponade serta posisi face-down post-operatif atau bisa dengan suntikan ocriplasmin intravitreal.
Hubungan faktor genetika terhadap kejadian astigmatisma pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Angkatan 2013 Suni Christina Widjaya; Meriana Rasyid
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5850

Abstract

Astigmatisma merupakan salah satu kelainan refraksi mata yang umum dijumpai diseluruh dunia. Berbagai macam faktor resiko menunjukan keterlibatannya dalam memicu timbulnya astigmatisma, salah satu faktor utamanya adalah genetik. Oleh sebab itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor genetik dengan astigmatisma pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta angkatan 2013. Penelitian ini bersifat analitik cross-sectional yang dilakukan pada 142 responden. Pengumpulan data menggunakan metode non-random consecutive sampling, dengan cara penelitiannya melakukan pengukuran visus mata dan wawancara kuesioner tentang riwayat astigmatisma orangtua. Data yang diperoleh dilakukan uji Chi square dan didapatkan hasil perhitungan resiko dengan Prevalence Rate Ratio (PRR). Dari 141 responden didapatkan responden yang astigmatisma dengan atau tanpa riwayat astigmatisma pada orangtua sebesar 63 orang (44,4 %), orangtua yang astigmatisma dengan atau tanpa riwayat astigmatisma pada anak sebesar 29 orang (20,4%), dan responden astigmatisma dengan orangtua astigmatisma sebesar 20 orang (69,0%). Dari penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara astigmatisma dengan faktor genetik (p-value 0,005). Responden yang memiliki riwayat astigmatisma pada orangtuanya memiliki risiko 1,812 kali lebih besar (PRR = 1,812) terkena astigmatisma dibandingkan responden dengan orang tua tanpa riwayat astigmatisma
Hubungan durasi pemakaian lensa kontak dengan dry eye pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2015 Maisie Thalia; Meriana Rasyid
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5870

Abstract

Dry eye atau mata kering merupakan gangguan pada mata yang disebabkan karena produksi air mata yang sangat kurang atau karena penguapan air mata yang berlebihan. Gejala yang umum dirasakan adalah mata pedih, sensasi adanya benda asing, nyeri, fotofobia, dan penglihatan kabur. Lensa kontak merupakan salah satu alat bantu optik yang banyak digunakan oleh masyarakat luas yang juga merupakan salah satu faktor risiko terjadinya dry eye. Studi ini untuk mengetahui hubungan durasi pemakaian lensa kontak dengan dry eye. Responden adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2015 yang dipilih dengan metode consecutive sampling, menggunakan dua jenis kuesioner (kuesioner McMonnies dan contact lens dry eye questionnaire 8 (CLDEQ-8)) dan pemeriksaan Schirmer’s Test I. Didapatkan bahwa sebanyak 31 (47,7%) responden memakai lensa kontak dengan 24 (77,4%) penggunaan dengan durasi lebih dari 4 jam. Didapatkan 18 (75%) dari 24 responden tersebut menderita dry eye. Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara dry eye dengan durasi pemakaian lensa kontak dengan nilai p-value <0,005 dan nilai risk estimate = 2,625.