Sukmawati Tansil
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pemetaan konsumsi produk cokelat dan kejadian akne vulgaris pada dewasa muda mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Callista Harlim; Meilani Kumala; Sukmawati Tansil
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5839

Abstract

Akne vulgaris (AV) atau jerawat adalah suatu penyakit yang sering terjadi pada usia remaja hingga dewasa muda dan sangat sering mengakibatkan gangguan psikososial seperti kurangnya percaya diri, tidak mau bersosialisasi karena malu, depresi bahkan hingga dapat menyebabkan pengangguran. Konsumsi cokelat semakin meningkat dan saat ini hampir seluruh tempat makan maupun minum menghidangkan cokelat dalam daftarnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sebaran konsumsi produk cokelat dan kejadian akne vulgaris pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional.  Pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling dengan jumlah subyek penelitian sebesar 58 orang. Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar subjek mengalami akne derajat berat (43,1%), diikuti dengan akne derajat sedang (39,7%) dan sisanya diikuti oleh akne derajat sangat berat dan ringan. Sebesar 58,6% subjek mengonsumsi cokelat dalam satu minggu terakhir, mayoritas subjek (75,86%) telah rutin mengonsumsi cokelat lebih dari lima tahun. Jenis cokelat yang paling sering dikonsumsi subjek adalah jenis cokelat lainnya (67,6%) diikuti milk chocolate (26,5%) dan hanya sebagian kecil 5,9% subjek mengonsumsi dark chocolate. Seluruh subjek yang mengonsumsi dark chocolate mengalami akne derajat ringan, subjek yang mengonsumsi milk chocolate paling banyak mengalami akne derajat berat (55,55%), diikuti akne derajat sangat berat (33,33%) dan terakhir akne derajat sedang (11,11%). Subjek yang mengonsumsi cokelat jenis lainnya, mayoritas mengalami akne derajat sedang (43,48%), diikuti oleh akne derajat berat (39,13%) kemudian akne derajat sangat berat (17,39%). Pada penelitian ini terlihat bahwa konsumsi cokelat tidak memperparah akne, akan tetapi komposisi lainnya pada produk cokelat seperti susu yang memperparah akne.
Hubungan antara rerata insulin like growth factor-1 (IGF-1) dan rerata konsumsi susu pada penderita akne vulgaris di RSUK Tebet Sandra Lydiayana Siti Aisyah; Sukmawati Tansil
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5853

Abstract

Akne vulgaris adalah salah satu penyakit kulit yang dapat sembuh sendiri yang disebabkan kelainan kelenjar pilosebasea yang umumnya terlihat pada masa remaja. Prevalensi akne vulgaris mencapai 85% selama masa remaja. Semua tipe akne vulgaris berpotensi meninggalkan gejala sisa. Hampir semua lesi meninggalkan bekas berupa makula eritema sementara setelah kesembuhan. Pada beberapa individu, lesi akne vulgaris dapat mengakibatkan jaringan parut permanen. Jaringan parut permanen akan menyebabkan rasa percaya diri remaja yang berkurang. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti nilai rerata Insulin like growth factor-1 dan rerata konsumsi susu pada penderita akne vulgaris karena remaja sering mengkonsumsi susu untuk membantu pertumbuhannya. Penelitian ini bersifat analitik dengan studi cross sectional dilakukan terhadap 96 responden berusia 15 – 45 tahun yang berobat di RSUK Tebet. Pengumpulan data menggunakan metode non random consecutive sampling, lembar daftar pertanyaan / kuesioner tentang informasi demografi responden serta kebiasaan dan pola makanan responden, kamera untuk pengambilan foto untuk identifikasi akne responden, pengukuran kadar IGF-1. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan uji Anova dan Kruskal-Wallis dan hasilnya tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara nilai rata-rata IFG-1 dengan akne vulgaris, nilai rata-rata konsumsi susu dengan akne vulgaris dengan p value berturut-turut adalah 0.129 dan 0.504.
Perbandingan penggunaan Serum Chiaprotec 4% dan Serum Cutipure 10% dalam mengurangi tanda-tanda inflamasi kulit berjerawat Yessy Khoirunnisa Octavia; Sukmawati Tansil
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7859

Abstract

Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun unit pilosebasea. Serum Cutipure diketahui memiliki sifat anti-inflamasi dan anti-mikroba yang kuat, sedangkan serum Chiaprotect memiliki efek menenangkan dan juga membantu mengurangi peradangan. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk membandingkan serum Chiaprotect dan Cutipure dalam mengurangi tanda inflamasi pada kulit berjerawat. Studi ini merupakan studi analitik dengan desain Quasi-experimental-Time series pada remaja dengan akne vulgaris sebanyak 27 orang. Serum Cutipure diberikan pada pipi kiri sementara serum Chiaprotect pada pipi kanan. Pengukuran tanda inflamasi jerawat dilakukan pada hari pertama sebelum penggunaan, dan kemudian pada hari ke-14 dan ke-21 penggunaan. Uji paired T-test digunakan untuk menilai signifikansi dari penurunan tanda inflamasi pada masing-masing dan juga antara kedua intervensi. Rata-rata tanda inflamasi sebelum menggunakan serum cutipure adalah 3,15 ± 1,74 yang kemudian secara signifikan berkurang pada hari ke-14 (2,56 ± 1,53, p=0,026) dan ke-21 (1,37 ± 1,49, p<0,00001) sesudah penggunaan serum cutipure. Rata-rata tanda inflamasi sebelum menggunakan serum chiaprotect adalah 3,67 ± 2,25 yang kemudian secara signifikan berkurang pada hari ke-14 (2,33 ± 1,64, p<0,00001) dan ke-21 (1,30 ± 1,63, p<0,00001) sesudah penggunaan serum chiaprotect. Serum chiaprotect menunjukkan rerata penurunan tanda inflamasi yang lebih besar daripada serum cutipure pada hari ke-14 dan -21 namun perbedaan rerata tersebut tidak bermakna (p=0,550, p=0,550). Kesimpulan dari penelitian ini adalah serum cutipure dan chiaprotec secara signifikan terbukti mengurangi tanda inflamasi. Serum chiaprotec 4% mengurangi tanda inflamasi lebih banyak daripada serum cutipure 10%, namun secara statistik perbedaan tersebut tidak signifikan.