Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan rerata peningkatan berat badan pasien HIV/AIDS yang mendapat terapi antiretroviral kombinasi dengan Efavirenz atau Nevirapine di RSUD Merauke tahun 2011-2016 Callista Jessica Johansyah; Hari Sutanto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5840

Abstract

Pemantauan respon terapi ARV diperlukan untuk dapat mencapai keberhasilan terapi. Papua adalah daerah dengan prevalensi infeksi HIV yang tinggi, salah satunya adalah Kabupaten Merauke. Pada daerah tersebut akses untuk pemeriksaan laboratorium pemantauan respon terapi masih sangat terbatas, sehingga digunakan pengukuran yang lebih sederhana untuk memantau respon terapi yaitu pengukuran berat badan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan rerata peningkatan berat badan pada pemakaian regimen ARV Tenofovir (TDF)+ Lamivudin (3TC) + Efavirenz (EFV) atau Tenofovir (TDF)+ Lamivudin(3TC) + Nevirapine (NVP) pada pasien HIV/AIDS di RSUD Merauke. Penelitian analitik dengan desain cohort retrospektif, menggunakan data dari rekam medik dan pemilihan sampel secara consecutive sampling. Data sekunder dianalisis dengan uji non-parametrik Mann-Whitney.  Dari 152 data rekam medik, terdapat 98 pasien (64,5%) yang mengalami peningkatan berat badan setelah terapi ARV 6 bulan, 35 pasien (35,7%) diantaranya mengalami peningkatan >10%. Rerata peningkatan berat badan pada kelompok regimen TDF+3TC+EFV yaitu 3,59 kg dan pada kelompok TDF+3TC+NVP yaitu 2,66 kg. Namun tidak didapatkan perbedaan bermakna rerata peningkatan berat badan antara penggunaan regimen TDF+3TC+EFV atau TDF+3TC+NVP pada pasien HIV/AIDS dengan anemia di RSUD Merauke (P=0,067).
Hubungan kecemasan dengan derajat keparahan dispepsia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara angkatan 2014 Josephine Angelia S; Hari Sutanto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5868

Abstract

Dispepsia adalah rasa sakit atau tidak nyaman yang berpusat pada perut bagian atas. Tekanan psikologis, terutama kecemasan terkait dengan dispepsia fungsional dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya dispepsia. Kecemasan merupakan suatu perasaan yang ditandai dengan rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan, bersifat samar, dan sering disertai dengan gejala otonom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan derajat keparahan dispepsia. Penelitian dilakukan dengan metode cross-sectional. Sampel diambil dengan cara stratified random sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Beck Anxiety Inventory (BAI) untuk menilai kecemasan dan Short-Form Leeds Dyspepsia Questionnaire (SF-LDQ) untuk menilai derajat keparahan dispepsia. Korelasi dicari dengan koefisien korelasi. Digunakan uji Spearman karena distribusi data tidak normal. Didapatkan hubungan yang bermakna antara kecemasan dengan derajat keparahan dispepsia (p = 0.018). Kekuatan korelasi antara kedua variabel lemah dengan arah positif (r = 0.355). Kecemasan mempengaruhi derajat keparahan dispepsia, dimana semakin tinggi tingkat kecemasan maka semakin tinggi juga derajat keparahan dispepsia