Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Angka kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan dengan riwayat pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan Reinhart Eugene Sampakang; Herwanto Herwanto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 1 No. 3 (2019): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i1.5859

Abstract

Diare merupakan penyakit menular yang menyebabkan kematian pada peringkat ketiga di Indonesia. Salah satu faktor risiko terjadinya diare adalah orang tua yang tidak memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif sampai 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif merupakan salah satu cara agar anak terlindung dari penyakit seperti diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan dengan riwayat pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan. Penelitian merupakan penelitian deskriptif cross sectional. Sampel penelitian ini adalah anak usia 6-24 bulan yang berkunjung ke Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan. Pemilihan sampel diambil berdasarkan populasi terjangkau dan memenuhi kriteria inklusi. Jumlah anak yang berusia 6-24 bulan didapatkan 75 anak. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian diare dengan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan sebanyak 35 anak (46.7%) dan yang tidak mengalami diare sebanyak 40 anak (53.3%). Angka kejadian diare pada anak usia 6-24 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan lebih sedikit dibandingkan yang tidak mengalami diare.
Hubungan persalinan seksio sesarea dengan hyperbilirubinemia neonatus Hana Adytia; Herwanto Herwanto
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 1 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v2i2.7839

Abstract

Hiperbilirubinemia neonatus merupakan masalah klinis yang umum dihadapi selama periode neonatal. Persalinan seksio sesarea adalah salah satu faktor maternal untuk terbentuknya hiperbilirubinemia. Kejadian hiperbilirubinemia yang diprediksi sebelum melahirkan dapat mencegah komplikasi dan untuk mengenali dengan cepat ikterus pada bayi baru lahir. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persalinan seksio sesarea dengan hiperbilirubinemia neonatus. Studi cohort retrospektif ini dilakukan pada 124 neonatus yang mengalami hiperbilirubinemia di RS Sumber Waras pada tahun 2019. Pengambilan sampel menggunakan teknik non-random consecutive sampling. Data dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Didapatkan 50,8% diantaranya bayi berjenis kelamin laki-laki, 74,2% dilahirkan secara seksio sesarea. Rata-rata pemeriksaan bilirubin dilakukan pada usia lima atau enam hari. Tingkat rata-rata kadar bilirubin total yang didapatkan adalah 14,62;4 mg/dL, dengan rata-rata kadar bilirubin direk adalah 0,64;0,4 mg/dL dan rata-rata kadar bilirubin indirek adalah 13,97;4 mg/dL. Sebanyak 25% bayi memiliki kadar bilirubin total antara 5-12 mg/dL, 70,2% antara 12-20 mg/dL dan 4.8% bayi memiliki kadar bilirubin diatas 20 mg/dL. Tingkat rata-rata kadar bilirubin total pada kelompok seksio searea dan spontan masing-masing adalah 14,39 mg/dL dan 15,3 mg/dL (p value = 0,239). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara persalinan seksio sesarea dengan hiperbilirubinemia neonatus.
PENGARUH POLA ASUH TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSI USIA 3-5 TAHUN DI PUSKESMAS WALANTAKA Amelia Assyifa; Herwanto Herwanto
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 3 (2023): SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i3.16205

Abstract

Pola asuh didefinisikan sebagai gaya pengasuhan orang tua saat membimbing serta mendampingi anak dalam berkembang menjadi dewasa. Terdapat empat tipe pola asuh, seperti authoritarian, authoritative, permissive, dan neglectful. Masa prasekolah yang terjadi pada usia anak 3-5 tahun mengalami golden period sebagai tahapan utama terhadap dampak perkembangan selanjutnya meliputi perkembangan kognitif, motorik, bahasa, emosi dan perilaku. Perkembangan sosial mengacu pada kemampuan anak untuk membentuk dan menjaga hubungan yang bermakna dengan orang lain. Perkembangan emosi adalah kecakapan anak dalam hal mengekspresikan, mengelola emosinya serta menanggapi emosi orang lain dengan tepat. Penelitian ini bertujuan dalam mengetahui hubungan pola asuh yang dijalankan oleh orang tua terhadap perkembangan sosial emosi anak usia 3-5 tahun, pada penelitian ini digunakan metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional kepada 71 responden. Variabel bebas adalah pola asuh. Variabel terikat adalah perkembangan sosial dan emosi. Pola asuh orang tua dinilai menggunakan PSDQ, perkembangan sosial menggunakan KPSP serta perkembangan emosi menggunakan KMPE. Hasil penelitian didapatkan 70 (98,6%) orang tua menerapkan pola asuh otoritatif yang berdampak terhadap perkembangan sosial tidak delay pada 59 (84,3%) anaknya, namun terdapat suspek gangguan perkembangan emosi pada 63 (90%) anaknya. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tipe pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dengan perkembangan sosial anak (p=0,666) dan perkembangan emosi anak (p=0,739). Di sisi lain, terdapat faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosi anak usia 3-5 tahun yakni, profesi orang tua terhadap perkembangan emosi terlihat p-value sebesar 0,018 dan faktor jumlah anak dengan perkembangan emosi yang dilihat dari p-value 0,04 < 0,05.