Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan terhadap Insidensi Scabies: A Literature Review Sitta Rahma; Rochmadina Suci Bestari; Flora Ramona Sigit Prakoeswa; N. Juni Triastuti
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Mahasiswa (Student Paper Presentation) B
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.073 KB)

Abstract

Background: Scabies is a skin infection due to an infestation caused by the female mite Sarcoptes scabiei varieta homini. Scabies is an infectious disease that is currently still difficult to cure, especially for someone living in an area with environment of massive dense population. Personal hygiene is an important risk factor in the incidence of scabies because the worse a person's personal hygiene level, the greater the risk of developing scabies disease was affected to human. This scabies can be transmitted in several ways, such as direct contact on the patient's skin by shaking hands and indirect contact with people affected by scabies, by wearing objects that have been used by the patient such as clothes or towels. Method: This research method is a literature review study. The technique of collecting data from search results using e-databases in the form of PubMed, Google Scholar, and Science Direct with the limitations of the last 10 years which will be eliminated according to the restriction criteria. Result: Based on the tests conducted, 1025 articles were found then screened according to the inclusion and exclusion criteria so that 20 articles were found. From all studies it was found that personal hygiene and environmental sanitation have an effect on the incidence of scabies. Conclusion: There is an influence of personal hygiene and environmental sanitation on the incidence of scabies. Keywords: Sarcoptes scabiei, Personal hygiene, Environmental sanitation.
Leptospirosis dengan Gagal Ginjal Akut pada Laki-Laki 82 Tahun: A Case Report Retno Suryaningsih; Sitta Rahma
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang ditransmisikan baik secara langsung ataupun tidak langsung dari binatang ke manusia (zoonosis) yang ditularkan melalui tikus. Leptospirosis merupakan penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah jika tidak dilakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Penyakit ini ditandai, demam tinggi, menggigil, mual, diare, bahkan penurunan kesadaran dapat disertai nyeri kepala daerah frontal, nyeri otot betis, paha, pinggang terutama saat ditekan. Conjuntival injection dan conjungtival suffusion dengan ikterus merupakan tanda patognomonik untuk leptospirosis. Seorang laki-laki usia 82 tahun datang ke igd dengan keluhan demam dengan suhu 40,4o sejak 3 hari demam naik turun dan menurun apabila diberi obat demam, pada malam hari demam kembali tinggi, badan terasa panas dingin. Mual dan muntah 3x dalam sehari. Satu minggu SMRS lemas, mulai mual, nafsu makan berkurang, batuk kering, dan pilek. Pusing (-), nyeri otot (-). Pemeriksaann hematologi adanya peningkatan leukosit 16.97, netrofil 89.8 dan penurunan pada eritrosit 4.13, hemoglobin 11.3. Pada pemeriksaan kimia klinik didapatkan peningkatan ureum 212 dan kreatin 7.2 Pemeriksaan IgM Leptospirosis didapatkan hasil yaitu positif. Rontgen Thorax PA didapatkan infiltrate paracardial bilateral dan CTR > 0.56 kesan bronkopneumonia dengan kardiomegali. Pasien didiagnosis Leptospirosis (Weil disease), AKI, dan Bronkopneumonia. Pasien mendapat terapi Infus Nacl 0,9% 16 tpm, ceftriaxone 2gram/12 jam IV, sanmol 1gram/8 jam IV, levofloxacin 500 mg/hari IV selama 3 hari, omeprazole 1fl/12jam IV, Ondansetron 8mg/12 jam IV, asetilsistein 500mg/8jam IV, methylprednisolone 31,25mg/12 jam asam folat 1mg 2 x 1 peroral, natrium bicarbonate 500mg 3x1 peroral, episan 3x1 peroral.
Upaya Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Tn. M dengan Hipertensi dan Vitiligo Sitta Rahma; Dessy Wahyuni; Ravi Assaro Al Adib Putra; Athip Naufal; Arsita Rasmi; Burhannudin Ichsan
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2024: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Thalam
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit tidak menular yang saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pasien bernama Tn. M berumur 62 tahun datang ke poli umum Puskesmas Bendosari dengan keluhan pusing berdenyut serta terasa pegal-pegal, kenceng dibagian pundak sejak kemarin, memberat saat dibuat aktifitas berat. Pasien mengatakan ada riwayat bahwa dirinya didapati hipertensi sudah 2 bulan yang lalu sejak melakukan pemeriksaan ke dokter, dari saat itu pasien mengatakan sering minum obat hipertensi, namun pasien mengatakan tidak rutin meminum obat hipertensinya, dan semenjak tahu tensinya tinggi pasien sering mengecek tensinya di posyandu lansia terdekat. Pasien juga mengeluhkan mata kiri merah terasa ganjel, gatel sejak kemarin setelah bepergian dari sawah, Tn.M merasa kemasukan barang atau sesuatu pada mata. Dilakukan pemeriksaan dengan pendekatan keluarga untuk mencari penyebab dan faktor risiko yang ada dalam keluarga pasien. Selanjutnya, penyakit diberikan perawatan secara komprehensif dengan tatalaksana non medikamentosa dan medikamentosa. Dilakukan edukasi pada pasien dan keluarga mengenai penyakit pasien dan pentingnya diet makanan, berolahraga, dan kepatuhan dalam mengkonsumsi obat.