Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Jurnal Artesis

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERDASARKAN KEBUTUHAN OKSIGEN DI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA PUSAT Prima Jiwa Osly; Fathia Robiyatul Adawiyah; Nuryani Tinumbia
Jurnal ARTESIS Vol 1 No 2 (2021): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v1i2.3218

Abstract

Pembangunan berkelanjutan adalah konsep pembangunan yang menyesuaikan antara kepentingan pembangunan dengan pengelolaan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berlangsung secara terus menerus dan konsisten dengan cara menjaga kualitas hidup, yang berjalan bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi, keberlanjutan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Kota Administrasi Jakarta Pusat merupakan salah satu wilayah yang peningkatan jumlah penduduknya bertambah dengan cukup pesat. Faktor lainnya adalah karena secara geografis Jakarta Pusat berada di tengah Ibukota Jakarta. Yang akan semakin banyak perkembangan serta pembangunan infrastruktur seperti perkantoran, apartment ataupun ruko yang dapat mengakibatkan semakin berkurangnya RTH yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan air karena adanya alih fungsi lahan, dari yang sebelumnya terbuka alami menjadi terbangun. Tujuan dari penelitian ini dilakukan guna mengetahui besaran kebutuhan RTH berdasarkan kebutuhan oksigen serta ingin mengetahui preferensi masyarkat mengenai kebutuhan dan pengadaan RTH di Jakarta Pusat. Dengan analisis yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan RTH berdasarkan oksigen dengan metode Gerakis, 1974 yang dikembangkan Wijayanti,2003. Dan analisis yang digunakan untuk mengetahui preferensi masyarakat adalah dengan analytical hierarchy process (AHP). Berdasarkan hasil analisis dengan memproyeksikan 10 tahun kedepan 2021-2031, kebutuhan RTH di Jakarta Pusat belum memenuhi 30% dari luas kota. Luas RTH berdasarkan kebutuhan oksigen yang dibutuhkan pada tahun 2021 seluas 2368,89 hektar, sedangkan luas RTH yang tersedia baru 905,180 hektar atau sekitar 18,81%. Dan perlu menambahkan RTH seluas 538,72 hektar atau 11,19% untuk mencapai 30% minimal perwujudan RTH. Berdasarkan preferensi mengenai pengembangan RTH di Kota Jakarta Pusat, aspek lingkungan mendominasi dengan 65,47% jika dibandingkan dengan aspek lainnya. Dengan memprioritaskan pembangunan penghijauan yang ditunjang dengan kriteria manfaat RTH dan pemanfaatan ruang.
ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU BERDASARKAN KEBUTUHAN OKSIGEN DI KOTA BOGOR Prima Jiwa Osly; Indah Mardiana; Nuryani Tinumbia; Irfan Ihsani
Jurnal ARTESIS Vol 2 No 1 (2022): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v2i1.3763

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk di Kota Bogor menyebabkan kebutuhan ruang terbangun dari tahun ke tahun semakin meningkat, sehingga hal ini berimbas pada penurunan luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bogor setiap tahunnya. Proporsi penyediaan RTH sesuai UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang pada wilayah perkotaan yaitu 30% dari luas wilayah kota. Kota Bogor memiliki luas wilayah ± 11.850 ha sehingga dibutuhkan 3.555 ha yang terdiri dari 20 % RTH publik ± 2.370 ha dan 10 % RTH privat yaitu ±1.185 ha. Pada tahun mendatang, untuk menghindari perubahan dari ruang terbuka hijau menjadi ruang terbangun yang semakin meningkat, dibutuhkan luasan RTH yang diprioritaskan untuk dipertahankan dengan pemenuhan RTH berdasarkan kebutuhan lainnya. Perhitungan ku6i jebutuhan RTH berdasarkan kebutuhan oksigen dilakukan dengan menggunakan metode Gerarkis 1974 yang dikembangkan oleh Wisesa pada tahun1988 dan dikembangkan kembali oleh Wijayanti pada tahun 2003. Metode analytical hierarchy process (AHP) digunakan sebagai penilaian preferensi masyarakat dalam pertimbangan pengembangan RTH di Kota Bogor, dan alat bantuan analisis yang digunakan yaitu software ArcGIS dan expert choice V.11. Proyeksi jumlah penduduk Kota Bogor pada tahun 2031 adalah 1.178.795 jiwa dan proyeksi kebutuhan RTH-nya seluas 12.809 ha. Dengan luas ruang terbuka hijau eksisting sebesar 2,031 ha, untuk memenuhi syarat minimum 30% ruang terbuka hijau di perkotaan Kota Bogor memerlukan sekitar 1,523 ha atau sekitar 12,86% penambahan ruang terbuka hijau.
KINERJA PELAYANAN “BIS KITA” TRANS PAKUAN BOGOR BERDASARKAN PERSEPSI KEPUASAN MASYARAKAT Prima Jiwa Osly; Wita Meutia; Erwin Kurniawan
Jurnal ARTESIS Vol 2 No 2 (2022): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v2i2.4302

Abstract

Bis Kita Trans Pakuan Bogor merupakan salah satu layanan angkutan umum di Kota Bogor yang pelayanannya mirip dengan Transjakarta namun tidak menggunakan lajur khusus. Pelayanan Bis Kita yang seperti transjakarta diharapkan mampu untuk menarik minat masyarakat beralih menggunakan angkutan umum. Selain itu, dengan adanya armada baru diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi umum. tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kepuasan pengguna Bis Kita terhadap Pelayanan yang telah diberikan. Data dalam penelitian diperoleh dengan menyebarkan kuesioner secara online kepada pengguna Bis Kita Trans Pakuan Bogor Koridor 2 Rute Terminal Bubulak - Ciawi. Selanjutnya hasil kuesioner dianalisis dengan Index Performance Analysis (IPA) untuk mengetahui kepuasan pengguna terhadap pelayanan yang ada di Bis Kita Trans Pakuan Bogor. Dari hasil analisis diperoleh variabel kecepatan, “Kecepatan pengemudi sesuai dengan standar pelayanan angkutan umum”, “biskita memiliki jadwal pemberangkatan yang tepat waktu”, “Waktu tunggu biskita di halte <5 menit)”, “Adanya protokol kesehatan yang diterapkan di dalam biskita” perlu ditingkatkan. Variabel-variabel yang telah baik dan perlu dipertahankan antara lain “Terhindar dari tindakan pelecehan seksual”, “terhindar dari tindakan penculikan, pencopetan, dan kriminalitas”, “pengemudi memberikan rasa aman dan nyaman saat perjalanan”, “pengemudi tidak ugal-ugalan dalam mengemudikan biskita”, “kebersihan biskita selalu terjaga”.
ANALISIS PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN KAWASAN AKIBAT PENGGUNAAN LAHAN UNTUK TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU Prima Jiwa Osly; shifa Nurhardiyanti
Jurnal ARTESIS Vol 3 No 1 (2023): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v3i1.5019

Abstract

Banyaknya sampah yang berdatangan ke tempat pembuangan akhir akan terus menghasilkan penumpukan sampah dari waktu ke waktu sehingga menimbulkan masalah di TPST Bantar Gebang yang mana hal ini mendorong tumpukan TPST Bantar Gebang semakin tinggi, salah satunya adalah keterbatasan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengobservasi sebuah kondisi peningkatan persebaran fisik lahan TPST Bantar Gebang dari tahun 1990-2019 dengan SIG berupa analisis perubahan tutupan lahan yang mana sebagai suatu proses perubahan yang terjadi pada tutupan lahan sendiri didefinikan bahwa terjadinya suatu proses adanya perubahan dari penggunaan lahan yang baik bersifat sementara dan permanen yang difaktorkan dari pertumbuhan lingkungan maupun sosial. Penelitian ini menggunakan metode time series dalam analisa pola hubungan antara variabel yang akan dipekirakan dengan variabel waktu. Dalam metode time series ini akan menggunakan model ARIMA (autoregressive integrated moving average) dengan bantuan software Minitab untuk memprediksi kawasan TPST Bantar Bebang di masa depan. Tahapan dalam penelitian ini mencari data primer berupa observasi langsung turun ke lapangan dan sekunder berupa peta dasar kemudian tahap selanjutnya menganalisa data melalui citra landsat hingga menghasilkan persentase luas tutupan lahan beserta klasifikasinya serta data sampah masuk. Prediksi pada tahun 2021 ketinggian sampah mencapai 49,91 meter, maka luasan luasan yang dibutuhkan untuk menampung tumpukan sampah di TPST Bantar Gebang sebesar 10,42 Ha dan luas total Kawasan TPST menjadi sebesar 115,09 Ha dan pada tahun 2026 menyatakan bahwa sampah masuk sebesar 3.970.158 Ton, maka lahan baru yang dibutuhkan adalah 7,68 Ha. Perlu penambahan beberapa pengelolaan untuk pengolahan sampah seperti ITF (Intermediate Treatment Facility) guna mempercepat proses pengurangan volume sampah lama maupun harian dengan kapasitas maksimal agar TPST tetap berumur panjang dan dapat teratasi dengan baik dapat dijadikan kebijakan mitigasi.
KEPUASAN PEJALAN KAKI DALAM MENGGUNAKAN JEMBATAN PENYEBRANGAN ORANG Wita Meutia; Prima Jiwa Osly; Isfan Dino Wichaksana
Jurnal ARTESIS Vol 3 No 2 (2023): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v3i2.5924

Abstract

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Stasiun Bogor merpukan jembatan yang menghubungkan antara Stasiun Bogor ke arah Jl. Kapten Muslihat. Pada JPO di Stasiun Bogor terdapat banyak sekali fasilitas dan hambatan pada landasan JPO yang membuat para pengguna JPO teganggu ketika melintasi JPO Stasiun Bogor. Adanya hambatan ini dapat mengurangi keinginan pejalan kaki dalam menggunakan JPO tersebut. Oleh karena itu perlu dianalisis persepsi pengguna JPO agar nantinya adanya beberapa perbaikan di JPO tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis persepsi pejalan kaki terhadap fasilitas penyebrangan tepatnya di JPO Stasiun Bogor serta menilai efektivitas dari penggunaan JPO. Metode penelitian yang digunakan dengan survei lalu lintas pejalan kaki yang menggunakan JPO dan penyebaran kuesioner. Responden dari penelitian ini adalah pejalan kaki yang menggunakan JPO di Stasiun Bogor. Data volume yang diperoleh dianalisis untuk menilai efektivitas penggunaan JPO. Kemudian data persepsi responden diolah dengan menggunakan Index Performance Analysis (IPA) untuk mengetahui variabel yang perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki. Hasil kajian memperlihatkan bahwa untuk persentase efektivitas dengan rata rata di atas 80% persen yang berarti JPO ini sangat efektif. Kemudian hasil analisis IPA dari persepsi pengguna memperlihatkan terdapat 5 variabel yang harus di perbaiki yaitu variabel 1 (JPO aman dari aksi kejahatan), 2 (JPO aman dilalui anak-anak), 3 (Landasan JPO tidak licin dan berlubang), 4 (Pegangan anak tangga JPO dalam kondisi baik), dan 16 (Tersedianya fasilitas penyandang disabilitas).
ANALISIS KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL (AC-WC) DENGAN LIMBAH PLASTIK LOW DENSITY POLYETHYLENE Yoga Pranata Siregar; Prima Jiwa Osly
Jurnal ARTESIS Vol 3 No 2 (2023): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v3i2.5932

Abstract

Seiring perkembangan dalam campuran aspal beberapa penelitian telah mengembangkan penggunaan limbah plastik sebagai upaya mengurangi sampah plastik yang sulit didaur ulang. Penggunaan plastik sebagai bahan campuran dapat mengoptimalkan karakteristik aspal dengan memperoleh sifat–sifat plastik yang diinginkan. Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas perkerasan dan memanfaatkan limbah plastik, maka penulis ingin melakukan penelitian dengan tujuan menganalisis kadar optimum campuran beraspal AC-WC tanpa dan dengan tambahan limbah Low Density Poly Ethylene (LDPE), serta mendapatkan pengaruh dari kombinasi jenis aspal tersebut. Terdapat 15 benda uji tanpa penambahan LDPE dan 15 benda uji dengan penambahan LDPE 7%. Benda uji tersebut selanjutnya dilakukan pengujian menggunakan alat marshall untuk mengetahui nilai parameter-parameter aspal dan bisa menghasilkan nilai kadar aspal optimum. Dari hasil pengujian aspal menggunakan alat tes Marshall didapat nilai MQ campuran aspal plastik cenderung mengalami peningkatan pada campuran aspal dengan penambahan limbah plastik LDPE. Hal ini berarti nilai kekakuan campuran dengan penambahan limbah plastik LDPE semakin tinggi dan lebih getas. Berdasarkan hasil pengecekan di atas, nilai kadar aspal optimum pada campuran tanpa penambahan limbah plastik LDPE yaitu 6,5% dan pada campuran dengan penambahan limbah plastik LDPE 7% yaitu 6,8%.
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PELANGGAN PENGGUNA JASA MODA TRANSPORTASI COMMUTER LINE STASIUN BOGOR Tigra Cahya Andika; Prima Jiwa Osly
Jurnal ARTESIS Vol 4 No 1 (2024): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v4i1.6775

Abstract

Pentingnya transportasi tersebut dapat dilihat dari peningkatan permintaan angkutan untuk mobilitas manusia dan barang sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk dan perkembangan permukiman di kota-kota, terutama Jabodetabek. Peningkatan jumlah penumpang, keterbatasan cakupan layanan transportasi massal, serta kurangnya integrasi antarmoda mengakibatkan kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan utama, yang pada gilirannya menyebabkan kemacetan yang parah, terutama pada jam sibuk. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kualitas layanan sebagai upaya untuk memenuhi kepuasan pengguna transportasi, dengan usaha yang berkelanjutan dan fokus pada perbaikan demi mencapai kepuasan pelanggan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dan tingkat pelayanan Commuter Line rute Bogor-Manggarai berdasarkan pengguna dan Masyarakat dan untuk menilai tingkat kepuasan pelanggan yang menggunakan layanan commuter line rute Bogor-Manggarai. Dari analisis penelitian ini terdapat tingkat kepuasan pengguna jasa, dimana pengguna jasa merasa puas secara khusus terutama pada kinerja nomor 24 (Ketersediaan tempat duduk yang diprioritaskan untuk lansia, disabilitas, ibu hamil, dan ibu membawa balita di stasiun) dengan memperoleh persentase kenyataan dan harapan sebesar 99,291%. Sebaliknya, tingkat kepuasan paling rendah terjadi pada kinerja 10, yaitu (Kedatangan kereta commuter line tepat waktu), dengan memperoleh persentase sebesar 82,696%.
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN KEPUASAN PENGGUNA JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG Adella Dwi Meviana; Prima Jiwa Osly
Jurnal ARTESIS Vol 4 No 2 (2024): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v4i2.7852

Abstract

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang akan ditinjau dari segi efektivitas dan kepuasan pengguna berada di Stasiun Tanjung Barat dikarenakan daerah tersebut lalu lintas pejalan kaki yang menggunakan fasilitas tersebut cukup tinggi. Pejalan kaki memiliki peran penting dalam aktivitas dan perancangan pembangunan kota. Oleh karena itu, desain ruang kota harus mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan pejalan kaki. Data primer yang dikumpulkan terdiri dari volume penyeberang orang, data geometrik JPO, dan data kuesioner. Sedangkan untuk mengetahui informasi mengenai kepuasan pengguna JPO, diperlukan data karakteristik yaitu meliputi jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan frekuensi penggunaan JPO per minggu. Sedangkan variabel pertanyaan dalam kuesioner yang digunakan yaitu aspek keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan kelengkapan. Kuesioner yang telah dikumpulkan kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya. Pengujian validitas terhadap variabel kepuasan dan kinerja menghasilkan nilai r hitung > r tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen tersebut memiliki validitas yang baik. Menurut hasil uji reliabilitas, variabel kepuasan dan variabel kepentingan masing-masing memiliki nilai cronbach’s alpha sebesar 0,836 dan 0,921. Dari kuesioner yang telah diuji dilakukan analisis kepuasan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas penggunaan JPO sangat tinggi baik pada hari kerja maupun hari libur. Tingkat kepatuhan pengguna dalam memanfaatkan JPO mencapai 99,85% yang menunjukkan bahwa JPO sangat efektif dalam meningkatkan keselamatan penyeberang jalan. Hasil analisis menggunakan metode IPA yaitu sebagian besar pengguna merasa puas dengan fasilitas JPO dengan tingkat kepuasan sebesar 88%, namun ada beberapa hal yang perlu perbaikan yaitu, JPO aman dari aksi kejahatan, nyaman saat menaiki anak tangga, dan tersedianya ramp di sisi tengah.
ESTIMASI BIAYA DAN PENJADWALAN PEMBANGUNAN PROTOTIPE RUANG MODULAR OPERATING THEATRE Aulia Ramahwati; Prima Jiwa Osly
Jurnal ARTESIS Vol 4 No 2 (2024): JURNAL ARTESIS
Publisher : Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/artesis.v4i2.7853

Abstract

Pembangunan rumah sakit khususnya ruang operasi dibangun dengan spesifikasi khusus yang sesuai dengan peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. maka dari itu dilakukan perencanaan pekerjaan ruang operasi ini menggunakan sistem Modular Operating Theatre (MOT). Perencanaan pekerjaan ruang MOT bertujuan untuk menghasilkan estimasi biaya dan penjadwalan pembangunan ruang MOT. Dengan material ruang MOT yang akan ditinjau yaitu dari material dinding yang terbuat dari sandwich panel dan stainless steel, yang selanjutnya akan dilakukan analisa terkait material tersebut. Penelitian ini menggunakan data denah PERMENKES RI No 40 tahun 2022, AHS dari PERMEN PUPR No 1 tahun 2022, dan DHS dari PERGUB DKI Jakarta No 1 tahun 2020. Setelah data didapatkan dilakukan Perencanaan terkait estimasi biaya dan penjadwalan ruang MOT sandwich panel dan ruang MOT stainless steel, modelling menggunakan aplikasi revit dengan pendekatan BIM, selanjutnya hasil modelling akan mengeluarkan volume pekerjaan. Selanjutnya menyusun Bill of Quantity (BOQ). BOQ ini nantinya akan dihitung biaya per meter persegi dalam rekapitulasi harga. Perencanaan jadwal dengan kurva s dan Precedence Diagramming Method (PDM) dengan bantuan Microsoft Excel dan Microsoft Project dengan membuat WBS, menghitung produktivitas, lalu menghitung durasi pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estimasi biaya yang dilakukan dengan pendekatan BIM melalui Revit untuk ruang MOT sandwich panel sebesar Rp. 177.474.090,47 dan untuk ruang MOT stainless steel sebesar Rp. 173.290.235,24. Dan untuk estimasi waktu pekerjaan ruang MOT sandwich panel sebesar 7 hari, sedangkan untuk pelaksanaan pekerjaan ruang MOT stainless steel sebesar 14 hari. Hasil analisa perbandingan dindingnya yang mempunyai kelebihan, pada dinding sandwich panel kemudahan pada proses instalasi dan kelebihan properti isolasi termal. Sedangkan dinding stainless steel mempunyai kelebihan anti korosi dan kemudahan pada pemeliharaan material konstruksinya.