Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTAR ETNIS (Studi Kasus Komunikasi Antar Personal Etnis Nias, Mentawai, dan Minang di Kampus Universitas Ekasakti) Syaiful Ardi
UNES Law Review Vol 5 No 1 (2022): UNES LAW REVIEW (September 2022)
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v5i1.296

Abstract

Ethnic is a social group that has the same cultural and historical traditions, and because of that similarity they have an identity as a subgroup in a wider society. Usually the members of these groups are different from the culture of the people around them because they have certain cultural characteristics from other members of the community such as having their own language, customs, and even their own religion. In this ethnicity or culture, there are many differences such as in terms of religion, language, race and ethnicity. Even intercultural communication is a process of sharing information, ideas or feelings among those with different cultural backgrounds. This study used qualitative research methods. The research subjects were selected using a purposive sampling technique, namely 5 from the Nias ethnic group, 5 from the Mentawai ethnic group and 5 from the Minang ethnic group. To get the data, the writer uses 4 data collection techniques, namely participatory observation (passive, moderate, active and complete participation), interviews, and document studies. The results of this study indicate that interpersonal communication theory becomes a process of interaction between two people which is carried out face to face or through the media. Therefore, in other words, a dialogue or conversation that occurs between two people is personal, direct and intimate. Interpersonal communication (interpersonal) in a different culture between the Nias, Mentawai and Minang ethnic groups is not entirely applied in life, even from these ethnic differences there are still misunderstandings that occur. The way so that there are no more misunderstandings between ethnic groups, then between ethnic groups can maintain inter-ethnic harmony, namely not mocking each other, not blaming each other and should understand each other. Constraints in interpersonal communication between ethnic groups in the form of communicating or associating. To prevent this from happening, the efforts made are to recognize each other, interact a lot between ethnicities, and even do positive activities together. So that misunderstandings in communication do not occur.
KONSTRUKSI MAKNA SKUTER SEBAGAI IDENTITAS SOSIAL PADA KOMUNITAS LSC (LANGKISAU SCOOTER CLUB) Syaiful Ardi; Jefri Nofriyaldi
Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 1 No. 2 (2021): Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/ejpp.v1i2.915

Abstract

Skuter merupakan salah satu jenis sepeda motor tua yang sudah memiliki wadah berkumpul bagi para pengemarnya. Skuter dicirikan dengan rangka melintang menggunakan sistem monokok,memiliki pijakan kaki untuk pengendara,memiliki lingkar roda yang kecil,memakai mesin dan sistem tranmisi yang terpasang pada sumbu roda belakang serta menggunakan sistem tranmisi manual dengan pemindahan gigi serta kopling pada handle sebelah kiri. Pada penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mennggunakan studi fenomenologi Alfred Schuzt teknik pengumpulan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yaitu makna Scooter sebagai identitas sosial antara sesama pengguna scooter makna sosial yang terdapat pada komunitas Isc yaitu karena di dalam komunitas tersebut tedapat suatu iteraksi sosial yang terjadi antara satu dengan yang lainnya di dalam komunitas Isc tersebut dan di dalam komunitas berbagai macam karakter atau interaksi sosial yang di miliki oleh anggaota Isc walaupun banyaknya suatu perbedaan interaksi sosial yang di miliki oleh anggota Isc anggota Isc menghargai perbedaan interaksi sosial tersebut, dan selau membatu antara sesama ketika ada suatu permasalahan yang terjadi. Motif yang terdapat pada komunitas Isc (Langkisau Scooter Club) yaitu ada dua motif dalam teori Schutz mengelompokkannya motif ini menjadi dua bagian yaitu because motive, sebuah motive yang berlandasan masalalu in order to motive sebuah motif yang di jadikan pijakan untuk mencapai sebuah tujuan. indentitas sosial yaitu suatu kesenambungan individu dengan kelompok sebuah identitas sosial berasal dari hubungan antar individu dalam komunitas Isc dalam identitas sosial ini terdapat dua pengalaman yang di rasakan oleh anggota Isc yaitu pengalaman yang menyenangkan dan pengalaman yang tidak menyenangkan
The Effect of Utilization of Social Media Instagram @Nanarfshop on Buying Interest of Fisipol Students University Ekasakti Padang Rahmayani, Okta; Syaiful Ardi; Reski Nofrialdi
Journal of Law, Politic and Humanities Vol. 2 No. 2 (2022): (JLPH) Journal of Law, Politic and Humanities (February 2022)
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (907.789 KB) | DOI: 10.38035/jlph.v2i2.89

Abstract

Social networking sites are one type of virtual communication that helps individuals connect with others. One of the most popular social networking sites and has the most users worldwide is Instagram. Instagram, which was previously only used by users to share personal photos, has now turned into a means of selling online. In addition to communicating with the closest people, Instagram is also an option for selling stalls. Along with the increase in Instagram users in recent years, many Instagram users use it for online shopping. Students as Instagram users shop a lot online such as clothes, pants, shoes and other items. This study was conducted to find out how much influence Instagram @nanarfshop has on the buying interest of Fisipol students, Ekasakti University, Padang. This type of research is descriptive research with a quantitative approach. The sampling technique used is proportional random sampling, namely sampling from all members of the population is carried out randomly without regard to the strata in the population. The sample in this study was 71 people by distributing questionnaires or questionnaires to Fisipol students, Ekasakti University, Padang. The data were analyzed using statistical methods with the help of SPSS (Statistics Product And Service Solutions) Version 22.0 software. This study shows the hypothesis that there is an influence between the Instagram @nanarfshoop social media variable on the buying interest of Fisipol Students, Ekasakti University Padang by 97% and the rest is influenced by other variables by 3% not in this study.
Tradisi Turun Mandi di Batu Gajah: Antara Kepercayaan, Sosial, dan Budaya Masyarakat Minangkabau Sumartono -; Yulia Putri; Syaiful Ardi; Puryanto -; Yumi Ariyati
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Bisnis Vol 10 No 2: April 2025
Publisher : Universitas Tarakanita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36914/cyhmz637

Abstract

Tujuan penelitian ini mengungkap makna simbolik, fungsi sosial budaya dari tradisi turun mandi di Nagari Batu Gajah, dan upaya menjaga tradisi di tengah arus modernisasi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi komunikasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan tokoh adat, ibu-ibu yang melaksanakan tradisi, serta generasi muda. Hasil penelitian menunjukkan, tradisi turun mandi tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi nilai-nilai adat kepada generasi muda, serta memperkuat struktur sosial masyarakat. Namun, ditemukan tantangan berupa menurunnya pemahaman dan partisipasi generasi muda terhadap tradisi ini, yang dapat mengancam kelestariannya di masa depan.
Peran Polisi Lalu Lintas Dalam Penegakan Hukum Pelanggaran Lalu Lintas di Wilayah Hukum Kepolisian Resor Padang Panjang Syaiful Ardi; Eko Patrio
Jurnal Legalitas (JLE) Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERTIBA PANGKALPINANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58819/jle.v4i1.236

Abstract

Pelanggaran lalu lintas merupakan permasalahan hukum yang sering terjadi di masyarakat dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya, sehingga berdampak pada meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas. Penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas menjadi tanggung jawab Kepolisian Negara Republik Indonesia, khususnya Satuan Lalu Lintas (Satlantas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Polisi Lalu Lintas dalam penegakan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas serta kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaannya di wilayah hukum Kepolisian Resor Padang Panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan yuridis normatif yang didukung oleh pendekatan yuridis empiris. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan penelitian lapangan berupa wawancara dengan anggota Satuan Lalu Lintas Polres Padang Panjang. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Polisi Lalu Lintas dalam penegakan hukum pelanggaran lalu lintas di wilayah hukum Polres Padang Panjang meliputi empat peran, yaitu sebagai pendidik masyarakat di bidang lalu lintas, sebagai penegak hukum, sebagai alat ketertiban masyarakat, dan sebagai pelayan masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya masih ditemui berbagai kendala, antara lain keterbatasan jumlah dan profesionalitas personel, kurangnya sarana dan anggaran, rendahnya kesadaran hukum dan etika berlalu lintas masyarakat, serta sanksi hukum yang relatif ringan sehingga belum menimbulkan efek jera. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya manusia kepolisian, sarana dan prasarana pendukung, serta intensifikasi sosialisasi dan penegakan hukum yang tegas guna menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas.
PERTIMBANGAN KEYAKINAN HAKIM DALAM PUTUSAN PERKARA PIDANA KOPI SIANIDA JESSICA BERDASARKAN CIRCUMSTANTIAL EVIDENCE ATAU BUKTI TIDAK LANGSUNG (Studi Putusan Nomor.777/Pid.B/2016/Pn.Jkt.Pst) Syaiful Ardi; Farrel Rafi Hartadi
Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2024): Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/ejpp.v4i2.1142

Abstract

Pasal 183 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana tentang sistem pembuktian perkara pidana dijelaskan bahwa “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Namun dalam kasus pembunuhan berencana Jessica Kumala Wongso pada Putusan Nomor. 777/Pid.B/2016/Pn.Jkt.Pst hakim menggunakan Circumstantial Evidence sebagai dasar untuk memutuskan perkara, sehingga harus diteliti apa yang menjadi pertimbangan hakim dalam menggunakan circumstantial evicence atau bukti tidak langsung. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan metode pendekatan yuridis Normatif, sumber data yang digunakan adalah data primer. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan, dan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif. Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan: Pertama, Majelis hakim sulit mendapatkan saksi-saksi yang melihat, mendengar atau mengalami sendiri peristiwa yang harus dibuktikan. Dalam pertimbangan yuridis majelis hakim menggunakan bukti tidak langsung atau circumstantial evidence yaitu berupa saksi Testimonium de auditu, keterangan saksi-saksi yang saling bersesuaian dengan keterangan Terdakwa, dan dimana keterangan saksi itu dan keterangan terdakwa masuk kedalam alat bukti petunjuk. Dan rekaman CCTV yang masuk dalam alat bukti petunjuk. Serta keterangan-keterangan ahli yang saling bersesuaian dengan peristiwa yang berada di persidangan. Kedua, Penerapan pidana berdasarkan circumstantial evidence atau bukti tidak langsung yang digunakan yaitu Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan yang direncanakan terlebih dahulu, dengan pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun.