Kadek Shanti Gitaswari Prabhawita, Kadek
Penciptaan Seni Tari, Program Pascasarjana, Institut Seni Indonesia Surakarta Jl. Ki Hajar Dewantara No 19, Surakarta, 57126, Indonesia.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Aplikasi Ngayah Dalam Karya Seni Mari Menari Kadek Kadek Shanti Gitaswari Prabhawita
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 34 No 2 (2019): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v34i2.701

Abstract

Masyarakat Bali percaya jika setiap tindakan yang dilandasi ketulus-ikhlasan (ngayah) akan mendatangkan hal positif, baik bagi individu maupun kehidupan sosial bermasyarakat. Ngayah bukan sebuah kegiatan wajib, mengikat individu seperti yang selama ini berkembang di masyarakat Bali. Ngayah merupakan wujud kesadaran tertinggi manusia sebagai ciptaan Tuhan yang diberkati. Bukan hanya kesadaran dan keikhlasan memberi, tapi kesadaran untuk menerima segalanya dengan ikhlas. Karya ini menginterpretasikan ngayah dengan produk teknologi sebagai medianya. Hal ini merupakan upaya kreatif dalam merespon lingkungan dengan mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dalam karya. Metode pembelajaran tari Bali dalam bentuk produk audio visual diberikan secara berkala kepada masyarakat melalui media sosial instagram dengan harapan masyarakat dapat mengaplikasikannya dimasing-masing tempat. Garapan ini menggabungkan vlog, happening art dan flashmob dalam sebuah pertunjukan. Karya ini dipentaskan di ruang terbuka dengan latar belakang gedung pertokoan Jalan Gatot Subroto, Kemlayan, Solo. Beberapa teori seperti koreografi lingkungan dan konsep hidup dalam ajaran agama Hindu Bali digunakan untuk melandasi dan memperkuat konsep garapan. Pada proses garap diawali dari observasi, mengajar tari dibeberapa tempat, hingga membetuk kelompok yang mewadahi keinginan untuk menampilkan karyanya. Karya ini merupakan wujud dari pengembangan kreativitas seorang pelaku seni dengan memanfaatkan media sosial, mencoba cara baru untuk mengemas sebuah karya tari. Hal ini adalah wujud konkrit dan dampak positif dari perkembangan media sosial terhadap sektor seni.
ASA ESA: A DANCE PERFORMANCE REPRESENTING THE TRIDATU SYMBOL IN BALINESE HINDU COSMOLOGY Prabhawita, Gita; Miftakhul Hauna; Mega Cantik Putri Aditya
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v8i2.3520

Abstract

Asa Esa is a Balinese contemporary dance performance inspired by the sacred Tridatu thread, a symbolic element deeply rooted in Balinese Hindu society. The Tridatu symbolizes the Tri Murti in Balinese Hindu cosmology, representing the unity of three principal deities. This study aims to analyze how the symbolism of the Tridatu is manifested through choreography, music, visual design, and collaborative elements, thereby bridging spiritual values with contemporary artistic expression. The creative process follows Alma M. Hawkins’ method of exploration, improvisation, and performance. Data were collected through literature review, interviews, and observations of Balinese Hindu religious practices. The movement vocabulary combines traditional Balinese dance with contemporary techniques, while the use of lighting, costume, and visual design emphasize the symbolic essence of the Tridatu. The work originates from the exploration of intertwined threads that gradually unravel, evoking multiple layers of spiritual interpretation. Asa Esa represents the belief in spiritual unification embodied in the Tridatu. The findings reveal that the work synthesis of tradition and innovation, conveying symbolic meaning through movement, music, makeup, and stage design, while maintaining both aesthetic and spiritual harmony. The implications highlight the potential of performing arts as a medium for cultural preservation, philosophical reflection, and spiritual communication grounded in local wisdom.