Ria Dewi Eryani
Psikologi, Fakultas Psikologi

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Regulasi Emosi dengan Kepribadian Hardiness pada Siswa SMA Selama Pandemi Covid-19 Chintya Agung Mulyati; Ria Dewi Eryani
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.078 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.702

Abstract

Abstract. The covid-19 pandemic demands adaption and adjustment to new habits, especially for students who are required to be able to follow the distance learning system. This new habit causes emotional changes in students due to the various obstacles they face so that they are expected to be able to regulate emotions in order to be able to carry out their activities well. With the ability to regulate emotions, students can balance their emotion in dealing with stressful situations during PJJ so that they can become individuals who have hardiness. This research is a correlational research with 131 high school students in Cilengkrang sub-district as respondents. The purpose of this research is to see how closely the relationship between emotion regulation ability and hardiness personality is. The measuring instrument used to measure the emotion regulation variable is Gross and Jhon’s (2003) Emotion Regulation Questionnare (ERQ), while for the Hardiness variable, Bartone’s Dispositional Resilience Scale (DRS-15) is used (2007). The analysis technique of this research uses Spearman’s Rank so that r = 0.476 with p = 0.000, that is, there is a positive relationship between hardiness and emotional regulation. That is, the higher the hardiness, the higher the emotional regulation of students in running the PJJ system. Abstrak. Pandemi covid-19 menuntut adaptasi dan penyesuaian diri terhadap kebiasaan baru khususnya kepada siswa yang diharuskan untuk bisa mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh. Kebiasaan baru ini mengakibatkan perubahan emosi pada siswa dikarenakan adanya pelbagai hambatan yang mereka hadapi sehingga mereka diharapkan dapat meregulasi emosi agar mampu melakukan aktivitasnya dengan baik. Dengan kemampuan meregulasi emosi siswa dapat menyeimbangkan emosinya dalam menghadapi situasi yang menekan selama mengikuti PJJ sehingga mampu menjadi pribadi yang memiliki kepribadian hardiness. Penelitian ini merupakan penelitian koresional dengan responden sebanyak 131 siswa/i sekolah menengah atas di kecamatan Cilengkrang. Tujuan dari penelitian ini ingin melihat seberapa erat hubungan antara kemampuan regulasi emosi dengan kepribadian hardiness. Alat ukur yang digunakan dalam mengukur variabel regulasi emosi menggunakan alat ukur Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) milik Gross dan Jhon (2003), sedangkan untuk variabel hardiness menggunakan Dispositional Resilience Scale (DRS-15) dari Bartone (2007). Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah menggunakan Rank Spearman sehingga didapatkannya r = 0.476 dengan p = 0.000, yaitu terdapat hubungan positif antara regulasi emosi dengan kepribadian hardiness. Artinya semakin tinggi kemampuan meregulasi emosinya maka semakin tinggi pula kepribadian hardiness yang dimiliki siswa dalam menjalankan sistem PJJ.
Hubungan Celebrity Worship dengan Self-Esteem pada BTS ARMY di Kota Bandung Ryanda Aziza; Ria Dewi Eryani
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.434 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.740

Abstract

Abstract. K-pop already has many fans around the world, including Indonesia. The phenomenon of liking idols or favourite celebrities is called celebrity worship. Having a favourite idol or celebrity is a positive thing, can be motivation and inspiration. However, it will have a negative impact if it becomes excessive and turns into an obsession where fans are willing to do anything for their idol, even things that endanger the safety of themselves. This can happen to someone with low self-esteem and less social interaction. This study's aim of knowing whether there is a correlation between celebrity worship and self-esteem in BTS ARMY in Bandung, and how the nature of the correlation is. The data gathering of this research carried out using the Celebrity Attitude Scale (CAS) by McCutcheon and Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) by Rosenberg to 100 BTS ARMYs in Bandung. The results show that celebrity worship and self-esteem have a low level of relationship and are negative or inversely proportional. This means that the higher celebrity worship, the lower the individual's self-esteem. ( r = -0.690, p = 0.496, > = 0.05). Abstrak. K-pop telah memiliki banyak penggemar diseluruh dunia termasuk Indonesia. Fenomena menggemari idola atau selebriti favorit disebut dengan celebrity worship. Memiliki idola atau selebriti favorit adalah hal yang positif, bisa menjadi motivasi dan inspirasi. Namun, akan memberikan dampak negatif apabila sudah berlebihan dan berubah menjadi obsesi dimana penggemar rela melakukan apapun demi idolanya, bahkan hal-hal yang membahayakan keselamatan diri dan idola mereka. Hal ini dapat terjadi pada seseorang dengan self-esteem yang rendah dan kurang berinteraksi secara sosial. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara celebrity worship dan self-esteem pada BTS ARMY di kota Bandung, dan bagaimana sifat hubungan nya. Pengambilan data penelitian ini dilakukan dengan skala pengukuran Celebrity Attitude Scale (CAS) oleh McCutcheon dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) oleh Rosenberg kepada 100 orang BTS ARMY di kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa celebrity worship dan self-esteem memiliki tingkat hubungan yang rendah dan bersifat negatif atau berbanding terbalik. Artinya semakin tinggi celebrity worship, maka semakin rendah self-esteem individu. ( r = -0,690, p = 0,496, > a = 0,05).
Hubungan Stres Akademik dengan Motivasi Berprestasi Mahasiswa saat Pembelajaran Daring di Kota Bandung Nabila Firdania; Ria Dewi Eryani
Bandung Conference Series: Psychology Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Psychology Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.851 KB) | DOI: 10.29313/bcsps.v2i1.2239

Abstract

Abstract. The application of student online learning during the Covid-19 pandemic can cause students to feel stressed in the academic field so that it affects achievement motivation during lectures. This study aims to see the relationship between academic stress and student achievement motivation during the pandemic in the city of Bandung. The number of subjects in this study amounted to 214 people with 210 people who fit the research criteria. This study uses quantitative research with a correlational design between academic stress and achievement motivation. The measuring instrument used is Academic Stress compiled by Wardhani (2020) and Achievement Motivation by Reka Adesty (2021), both of which have been re-adapted. Based on the results obtained, there are 121 respondents (57.6%) who have high academic stress with low achievement motivation, which means that there is a strong negative relationship between academic stress and achievement motivation. This means that the higher the academic stress, the lower the achievement motivation and vice versa. Abstrak. Penerapan pembelajaran daring mahasiswa pada saat pandemi Covid-19 dapat menyebabkan mahasiswa merasa stres pada bidang akademik sehingga mempengaruhi motivasi berprestasi saat perkuliahan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan stres akademik dengan motivasi berprestasi mahasiswa saat pandemi di kota Bandung. Jumlah subjek penelitian ini berjumlah 214 orang dengan 210 orang yang sesuai kriteria penelitian. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasional antara stres akademik dengan motivasi berprestasi. Alat ukur yang digunakan yaitu Stres Akademik yang disusun oleh Wardhani (2020) dan Motivasi berprestasi oleh Reka Adesty (2021) yang keduanya telah diadaptasi kembali. Berdasarkan hasil yang diperoleh, terdapat 121 responden (57.6%) memiliki stres akademik tinggi dengan motivasi berprestasi yang rendah, yang artinya terdapat hubungan kearah negatif yang cukup kuat antara stres akademik dengan motivasi berprestasi. Hal ini mengartikan bahwa semakin tinggi stres akademik maka semakin rendah motivasi berprestasi dan demikian pula sebaliknya.