Fadli Rahman
Institut Agama Islam Negeri Palangkaraya

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

QUANTUM IKHLAS The Power of Positive Feeling (Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati) Rahman, Fadli
Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Studi Agama dan Masyarakat
Publisher : LP2M IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.917 KB)

Abstract

Menggugurkan IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolak ukur manusia, pada saat sekarang ini, sepertinya menjadi sebuah kemestian. Mengapa? Karena semenjak era 1990-an, tepatnya sejak Daniel Goleman mempopulerkan temuan para neuroscientist dan psikolog tentang kecerdasan emosi (Emotional Intelligence/EQ), seseorang akan dapat mengerti perasaan orang lain, sehingga muncul kemampuan untuk mendeteksi kekuatan dan kelemahan diri, memaksimalkan kemampuan diri, berempati, memiliki motivasi, dan berinteraksi dengan sesama (social skill). Ditambahkan lagi, Danah Zohar dan Ian Marshall pada tahun awal 2000-an juga mempromosikan temuan mengenai kecerdasan spiritual (spiritual Intelligence/SQ) melalui karya mereka berjudul SQ; Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, yang dengan SQ ini seseorang mampu meraih nilai-nilai, pengalaman, dan kenikmatan spiritual[1]. Kemunculan intelligence yang disebut terakhir ini semakin menambah sempurnanya "keruntuhan" IQ sebagai satu-satunya tolak ukur manusia.Melalui EQ dan SQ, maka ukuran sukses hidup seseorang tidak lagi hanya ditentukan oleh variabel kemampuan IQ (Intelligence Quotient) yang sejak awal abad ke-20 begitu dominan. Begitu buku-buku karya Daniel Goleman, Danah Zohar dan Ian Marshall diterbitkan dalam edisi terjemah [Indonesia], kesadaran terhadap usaha untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri manusia – semisal IQ, EQ dan SQ, dalam rangka meraih sukses hidup – menjadi "trend" berbagai kalangan.Karya-karya tersebut selanjutnya diikuti oleh terbitnya beberapa buku bertemakan spiritualitas dan Tasawuf oleh para penulis lokal. Sebut saja nama Ary Ginanjar (ESQ dan ESQ Power), Agus Mustofa (Dzikir Tauhid), Mohammad Shaleh (Shalat Tahajut dan Kesehatan), dan Abu Sangkan (Shalat Khusyuk), merupakan para penulis handal yang terkait dengan usaha optimalisasi potensi diri manusia (self development) melalui berbagai kecerdasan yang telah disebutkan di atas. Hebatnya lagi, buku-buku tersebut ternyata bisa masuk dalam kategori best seller. Adanya respon dari masyarakat yang luar biasa ini kemudian mengilhami beberapa pegiat kajian spiritual dan tasawuf melakukan terobosan-terobosan baru dengan menawarkan berbagai paket training atau pelatihan, yang juga diminati oleh masyarakat, terutama sekali oleh masyarakat perkotaan (urban) yang selalu berkutat dalam dunia materialisme dan nihilisme modern. Dengan begitu, maka jadilah kegiatan kajian keagamaan dan training spiritualitas sebagai profesi bagi para pegiat spiritual, atau yang biasa disebut dengan spiritual entrepreneur.[2]Di antara ragam usaha dalam rangka optimalisasi ketiga variabel kecerdasan dimaksud, salah satunya adalah melalui – sesuai dengan judul buku yang menjadi review object kali ini – "Quantum Ikhlas: Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati".Quantum Ikhlas, dalam dimensi ini, tidak hanya sekadar sebuah buku bacaan atau literatur semata, tapi juga merupakan special training yang disuguhkan oleh Katahati Institute dalam kerangka self development demi mencapai apa yang dicita-citakan oleh manusia di seantero Jagat Raya ini, kebahagiaan hakiki.Oleh karena itu, untuk mempermudah interaksi kita dengan buku setebal xxxvii + 236 halaman ini, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa  buku ini terdiri dari beberapa bagian besar, yaitu; [1]. Penghargaan dari sekitar 26 tokoh dan 23 media dari berbagai media, [2]. Struktur buku dan beberapa foreword alias Kata Pengantar, [3]. Pendahuluan, [4]. Isi pembahasan buku, yang dibagi pada 9 pembahasan utama, [5]. Tentang penulis, dan [6]. Beberapa keterangan tentang product dan training series Quantum Ikhlas dari Katahati Institute. 
DEKONSTRUKSI SIKAP RELIGIUSITAS (Studi Konsepsi Ghurûr Al-Ghazâlî dalam Kitab Ashnâf Al-Maghrûrîn) Rahman, Fadli
Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Studi Agama dan Masyarakat
Publisher : LP2M IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.917 KB)

Abstract

Dalam khazanah pemikiran Islam, sosok Al-Ghazâlî adalah ikon yang sangat penting.  Al-Subki pernah dengan tegas berkata: “Jika ada nabi lagi setelah Muhammad, maka Al-Ghazâlî -lah orangnya”. Lewat studi naskah, penulis makalah ini mencoba untuk menguak salah satu dari risalah-risalah sufistiknya. Di  karyanya ini, Al-Ghazâlî mendeskripsikan bagaimana sesungguhnya “keterjebakan” (al-ghurûr) berbagai golongan manusia dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan gaya bahasa dan penjelasan yang lugas - pada risalah “Ashnâf Al-Maghrûrîn”- Al-Ghazâlî akhirnya telah melakukan sebuah proses - yang dalam bahasa postmodernisme  adalah dekonstruksi paradigma terhadap pola keberagamaan manusia. 
URBAN SUFISM Kajian Fenomenologis terhadap Kecenderungan Bertasawuf Masyarakat Kota Palangka Raya Rahman, Fadli
Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol 3, No 1 (2009): Jurnal Studi Agama dan Masyarakat
Publisher : LP2M IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.917 KB)

Abstract

The design of the study is early started from the observation on spiritualism movement – especially on the urban sufism – which becomes a phenomenon at the 21st century. In the metropolitan area, includingPalangkaRayaCity, the urban sufism trend phenomena dynamically occurs slowly. The trend can be seen from the emerging of the Islamic study groups, Islamic discussion groups, dzikir groups and so forth which are flooded by urban society.The aim of this phenomenological study is to explore the real occurrence behind the urban sufism phenomena inPalangkaRayaCity. Methodologically, the study makes the followers of Islamic sufism groups as the informant. Besides, the study places the sufism teachers as the key informant. In terms of data collection, the techniques used in the study were participatory observation, in depth interview, and library research. The study applied domain and taxonomy analyses to analyze the data.The result of the study showed that there was an increasing number of sufism religious life in Palangka Raya society. This trend could be seen from the increasing number of the Islamic study groups, Islamic discussion groups, dzikir groups and so forth characterized by the while shirts dominantly for both rural society and educated people. The sufism trend was affected by three integrated domain factors: religious practices, psychological, and social factors. Second, specifically, each of the three factors was divided into: 1) Religious domain, including the wish to study religious values, and spiritual hunger, looking for or try to get meaningful life, through religious line, understanding the Islamic law, and balancing world and hereafter factors. 2) Psychological domain was consisted of stress and depression in life, and looking for or try to get the spiritual peace. 3) Social domain was consisted of prestige and spiritual trend globally spread out, which was considered as a merely factor. Third, the trend of urban Sufism life inPalangkaRayaCitywas mostly affected by nuance factors or on religious domain. 
PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF ULAMA (Studi terhadap Peran Agamawan Muslim dalam Membina Kerukunan Antar-umat Beragama di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Gunung Mas) Rahman, Fadli
Jurnal Studi Agama dan Masyarakat Vol 1, No 2 (2007): Jurnal Studi Agama dan Masyarakat
Publisher : LP2M IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.917 KB)

Abstract

Konsep pluralisme tentu sangat terkait dengan makna multikulturalisme, sementara multikulturalisme itu sendiri dimaknai sebagai sebuah ideologi yang menekankan kesederajatan dalam perbedaan kebudayaan. Pada tataran ini, multikulturalisme menjamin pentingnya sikap saling menghormati antar-kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan berbeda. Suatu sikap (penghormatan) dari suatu kelompok yang memungkinkan bagi setiap kelompok lain, termasuk kelompok minoritas, untuk mengekspresikan kebudayaan mereka tanpa mengalami prasangka buruk dan permusuhan.Multikulturalisme adalah realitas yang bersifat sunnatullah, dan mengingkari sunnatullah sama dengan pengingkaran atas Penciptanya, tetapi dalam kenyataan empiris tampaknya memang tidak mudah untuk mengembangkan sikap inklusivitas dan penghargaan yang tulus atas perbedaan dan keragaman (plural) dalam masyarakat multikultural. Masyarakat multikultural pada umumnya menghadapi problem integrasi dalam magnitude yang tidak pernah dihadapi oleh masyarakat lain. Di antara problem dalam mewujudkan masyarakat multikultural ialah berkembangnya sikap keagamaan eksklusif yang hanya memandang agamanya sendiri yang paling benar, dan yang lain salah. Kondisi ini kemudian diperparah lagi dengan digunakannya truth claim Kitab Suci oleh masing-masing umat dalam rangka justifikasi keabsahan teologis atas yang lain, maka kran multikulturalisme pun semakin tertutup dengan sendirinya.Dalam kerangka antisipasi atas problem sosio-religius di atas, maka dikembangkanlah paham "Pluralisme Agama". Paham ini, walau kemunculannya terasa tiba-tiba dan sempat mencengangkan beberapa pihak, ternyata masih mempunyai banyak makna, dan karena itulah kemudian paham ini dipandang pro dan kontra oleh banyak pihak. Sebenarnya, paham ini bukanlah sesuatu yang baru. Akar-akarnya seumur dengan akar modernisme di Barat dan gagasannya pun timbul dari perspektif dan pengalaman manusia Barat. Bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesia), melalui Musyawarah Nasional-nya tanggal 26-29 Juli 2005, sempat mengeluarkan fatwa tentang masalah ini, yang intinya menyatakan bahwa "Pluralisme" dalam pemikiran keagamaan adalah haram.Majelis ini (baca: MUI) telah mengambil langkah jelas dalam menanggapi "Pluralisme Agama" dimaksud, lantas bagaimana Islamic world view dalam skala lokal membicarakan masalah ini? Sementara pada tataran yang lain, kelompok otoritas keislaman (Ulama Muslim) lokal pun harus dihadapkan pada realitas sosial yang sangat jelas multikulturalnya! Suatu hal yang menuntut kearifan untuk menjawabnya, tidak terkecuali oleh para otoritas Islam di Kota Palangka Raya dan Kabupaten Gunung Mas. Maka, dari sini lah pemaknaan, yang berupa hasil riset, tentang topik ini kemudian di mulai.
Ilmu dan Islam: Mengurai Konsep dan Sumber Ilmu dalam Al-Qur’an dan Hadis Fadli Rahman; Mahyuddin Barni
NALAR Vol 5, No 2 (2021): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v5i2.3821

Abstract

This study aims to explore the meaning or concept of the word “knowledge” often mentioned in the Quran and Hadith. The first step was by taking an inventory of the verses that talk about knowledge and then categorizing them thematically. The data obtained were then analyzed with the descriptive-analytical method. It resulted in three findings. First, the verses related to knowledge in the Quran and Hadith are still general and need interpretation to understand the essential meaning related to the definition or nature of knowledge conceptually. Second, there are three components in acquiring knowledge, namely the senses, reason, and inspiration. Third, interpretation gives birth to different opinions on the sources of knowledge, especially between Al-Ghazali and his rivals. These differences are caused by different perspectives in interpreting the verses of the Qur'an and Hadith. Keywords: Source of knowledge; The concept of knowledge; Knowledge in the Quran; Knowledge in the Hadith
Ilmu dan Islam: Mengurai Konsep dan Sumber Ilmu dalam Al-Qur’an dan Hadis Fadli Rahman; Mahyuddin Barni
NALAR Vol 5, No 2 (2021): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v5i2.3821

Abstract

This study aims to explore the meaning or concept of the word “knowledge” often mentioned in the Quran and Hadith. The first step was by taking an inventory of the verses that talk about knowledge and then categorizing them thematically. The data obtained were then analyzed with the descriptive-analytical method. It resulted in three findings. First, the verses related to knowledge in the Quran and Hadith are still general and need interpretation to understand the essential meaning related to the definition or nature of knowledge conceptually. Second, there are three components in acquiring knowledge, namely the senses, reason, and inspiration. Third, interpretation gives birth to different opinions on the sources of knowledge, especially between Al-Ghazali and his rivals. These differences are caused by different perspectives in interpreting the verses of the Qur'an and Hadith. Keywords: Source of knowledge; The concept of knowledge; Knowledge in the Quran; Knowledge in the Hadith
Difabel dalam Kitab Tafsir Indonesia Kontemporer Rikho Afriyandi; Fadli Rahman
Syams Vol 1, No 2 (2020): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Syams: Jurnal Kajian Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.563 KB)

Abstract

This article explores contemporary (20th century) commentaries in Indonesia to see the views of these commentators on diffables in their interpretation. Until now, people with disabilities are still underestimated. Even long before that, namely from before entering the 20th century, people with disabilities have experienced various discrimination. Various terms of language elements that have the meaning of insulting, degrading, etc. have been widely used, such as people with disabilities, idiots, disorders, blindness, and so on. Protection for persons with disabilities in Indonesia only appeared in 1997 in the form of a law. At the same time, many interpretations were born at that time, namely from the beginning of the 20th century until the emergence of the Law. This paper concludes that: First, diffables are people who have physical or mental disorders that can interfere or constitute an obstacle and obstacle for them to carry out normal activities but still be able to carry out their activities in a different way. Second, Al-Qur’an does not explain diffable explicitly. However, there are several terms he uses regarding diffables, namely summun, bukmun, 'umyun and a'raj, which mean deaf, mute, blind and lame. Al-Qur’an, in its explanation, divides the diffable into two parts, namely physical disabilities and mental disabilities. Physical disabilities as referred to in Al-Qur’an are used to describe the limitations or imperfections that exist in a person or person. Meanwhile, mental diffable is used to refer to people who are blind, deaf, and mute theologically. Third, all Mufassirs who lived during the 20th century, in general really care about the existence of people with disabilities.
Al-Syūra dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar Lutfi Rahman; Fadli Rahman
Syams Vol 2, No 1 (2021): Syams: Jurnal Kajian Keislaman
Publisher : Syams: Jurnal Kajian Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.642 KB)

Abstract