Bambang Pranggono
Perencanaan Wilayah Dan Kota, Fakultas Teknik

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Peningkatan Wisata Religi di Kawasan Masjid Manonjaya di Tasikmalaya: Wilayah Studi : Masjid Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat Muhammad Satria Faldi Fazary; Bambang Pranggono
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.456 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3403

Abstract

Abstract. Religious tourism is one type and has something to do with religious aspects. From the word religion, it is not just a journey, but it has a meaning for spiritual insight. Tasikmalaya Regency has the characteristics of a city of 1000 Islamic boarding schools and many mosques spread across its territory with interesting characteristics, especially the study area at the Great Mosque of Manonjaya. The Great Mosque of Manonjaya is characteristic of Dya Tarik from the structure of the building mixed with neoclassical nuances, the white walls are characteristic of Europe, the roof is an entity of influence from Javanese structures. In terms of its majestic beauty, but has obstacles in terms of tourism management or marketing, if the factors are not identified, tourism will run stagnate, for the purpose of identifying the supporting and inhibiting factors in order to increase tourism in the Great Mosque of Manonjaya, Tasikmalaya Regency. This study uses the MEX method (a combination of qualitative and quantitative methods) which can influence researchers based on tourism concepts such as Accessibility, Amenity, Attractions and Ancillary (Management or Management) and uses a special questionnaire using factor analysis and interviews in its identification . From this method using observation, questionnaires (visitors), interviews (managers or management) of the Great Mosque of Manonjaya, Tasikmalaya Regency closed for questionnaires and interviews. Abstrak. Wisata religi merupakan salah satu jenis dan ada kaitannya dengan aspek keagamaannya. Dari kata religi bukan perjalanan saja tetapi ada maknanya terhadap wawasan spiritual.Kabupaten Tasikmalaya memiliki ciri khas kota 1000 pesantren dan banyak Masjid yang tersebar di wilayahnya dengan ciri khas menarik terutama wilayah studi di Masjid Agung Manonjaya dari segi sejarahnya yang kental merupakan peninggalan kolonial. Masjid Agung Manonjaya ciri khas dya Tarik daru struktur bangunan tercampur oleh nuansa neoklasik, dinding warna putih ciri khas Eropa, atapnya sebuah entitas pengaruh dari struktur Jawa. Dari segi keindahannya yang megah, tetapi memiliki penghambat baik itu pengeolaan ataupun pemasaran wisata, apabila faktor-faktor tidak diidentifikasi wisata akan berjalan stagan, untuk pertujuan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat agar peningkatan wisata di Masjid Agung Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Kajian ini menggunakan metode mex (gabungan metode kualitatif dan kuantitatif) dapat mempengaruh di dalam peneloti berdasarkan konsep wisata seperti Aksesibilitas, Amenitas, Atraksi dan Ancilliarry (pengelolaan atau pengurus), khusus kuesioner mengunakan analisis faktor dan wawancara dalam identifikasinya. Dari metode ini menggunakan observasi, kuesioner (pengunjung), wawancara (pengurus ataupun pengelolaan) Masjid Agung Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya secara tertutup.
Kesiapan Pemerintah Desa Ciburial pada Tata Kelola Pariwisata Halal Nina Agustina; Bambang Pranggono; Imam Indratno
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8359

Abstract

Abstract. Halal tourism is present as a tourism trend that has the potential to increase the current economy. Therefore, as a country where the majority of the population adheres to Islam, Indonesia is very suitable to describe halal tourism. The first step taken by Indonesia is to determine the province and the participation of 6 districts/cities as priority halal destinations, one of which is Bandung Regency. handle Bandung Regency is supported by the issuance of Bandung Regency Regional Regulation No. 6 of 2020 and shocks to areas that are able to present halal tourism such as Cimenyan District. Cimenyan District is a strategic area in West Java. Therefore, as the only Tourism Village in Cimenyan District, Ciburial Village has the potential to be developed as halal tourism. Ciburial Village is a tourist village with a low level of visits. Therefore, one of the strategies that must be carried out is to increase the support of the village government in regulating the governance of halal tourism so that it can fulfill the desire to increase visiting tourists. But before that, the Village Government needed to equip themselves to improve quality in managing halal tourism. In order to see the quality of the Village Government, it is necessary to measure the level of readiness of the Village Government towards the management of halal tourism. This study aims to determine and analyze the readiness of the Ciburial Village Government in managing halal tourism in Ciburial Village. Data collection techniques used in this study were field observations, questionnaires, and literature studies using the readiness model analysis method. Based on the results of the analysis it is known that the readiness level of the Ciburial Village Government for halal tourism governance is at the initiation stage with a score of 3.07. Abstrak. Pariwisata halal hadir menjadi tren pariwisata yang berpotensi meningkatkan ekonomi saat ini. Oleh karena itu, sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, Indonesia sangat cocok untuk mempraktikkan pariwisata halal. Langkah awal yang dilakukan Indonesia adalah menetapkan provinsi dan keikutsertaan 6 Kabupaten / Kota sebagai destinasi halal prioritas, yang mana salah satu yang terlibat adalah Kabupaten Bandung. Keterlibatan Kabupaten Bandung ini didukung dengan penerbitan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung No. 6 Tahun 2020 dan pemetaan terhadap wilayah yang mampu mempresentatifkan pariwisata halal seperti Kecamatan Cimenyan. Kecamatan Cimenyan termasuk kawasan strategis Jawa Barat. Oleh sebab itu, sebagai satu – satunya Desa Wisata yang berada di Kecamatan Cimenyan, Desa Ciburial memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pariwisata halal. Desa Ciburial merupakan desa wisata yang tingkat kunjungan masih rendah. Maka dari itu, salah satu strategi yang harus dilakukan adalah meningkatkan dukungan Pemerintah Desa dalam mengatur tata kelola pariwisata halal sehingga dapat memenuhi keinginan untuk meningkatkan wisatawan yang berkunjung. Namun sebelum itu, Pemerintah Desa perlu membekali diri guna meningkatkan kualitas dalam tata kelola pariwisata halal. Untuk melihat kualitas Pemerintah Desa perlu diukur tingkat kesiapan Pemerintah Desa terhadap tata kelola pariwisata halal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa kesiapan Pemerintah Desa Ciburial pada tata kelola pariwisata halal di Desa Ciburial. Teknik pegumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, kuesioner, dan studi literatur dengan metode analisis model kesiapan. Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa tingkat kesiapan Pemerintah Desa Ciburial pada tata kelola pariwisata halal berada di tahap initation dengan skor 3,07.