Tri Ariani
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Akbidyo

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penggunaan Tracer Berkas Rekam Medis di Klinik Laras Hati Tri Ariani; Nanda Surya Febrianta
Gorontalo Journal of Public Health VOLUME 5 NOMOR 2, OKTOBER 2022
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjph.v5i2.2477

Abstract

Primary Clinic is a health service facility that provides individual health with basic medical services. Regulation of the Indonesian Ministry of Health No. 028 in 2011 concerning clinics, stated it providing services is required to maintain medical records. According to the Director General of Medical Records, the quality of medical record storage in 2006 by sorting to prevent misfiles and using tracer as guidance for storing or returning medical records that come out of storage shelves. Misfile medical records can be minimized with tracers. Tracer is available at Laras Hati Clinic but has never been evaluated for use. This study to know use of tracers in medical record files and problems of using them at Laras Hati Clinic. Type of research is a qualitative descriptive study with content analysis approach. Data collection techniques used in-depth interviews, observation, and documentation studies. Sample in this study consisted of midwives, nurses, registration officers, and medical record unit officers at the Laras Hati Clinic who were defined by inclusion criteria and exclusion criteria. Storage of medical records with a centralized system, the number used is medical record number. Alignment system with SNF (Straight Numbering Filing) system. There are medical records placed in cardboard boxes on the floor, therefore officers have difficulty finding medical record documents, due to lack of storage shelves, use of tracers isn’t optimal because not all officers use tracers in taking medical records, tracers have not been filled in, number of tracers is limited, while patients who visited exceed the availability of tracer. The control card on the tracer isn’t filled, therefore it isn’t possible to track the purpose of medical record file, there is no SOP for using the tracer. Keywords; use; tracer; medical records  Abstrak Klinik Pratama adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar. Menurut Permenkes RI No 028 Tahun 2011 tentang klinik, klinik dalam memberikan pelayanan berkewajiban menyelenggarakan rekam medis. Penyimpanan rekam medis yang baik menurut Dirjen Yanmed Tahun 2006 dengan cara melakukan penyortiran untuk mencegah kesalahan letak (missfile), serta menggunakan tracer sebagai petunjuk arah penyimpanan atau pengembalian rekam medis yang keluar dari rak penyimpanan, rekam medis yang missfile dapat diminimalisir  dengan tracer. Tracer telah tersedia di Klinik Laras Hati, tetapi belum pernah dievaluasi penggunaannya. Mengetahui penggunaan tracer berkas rekam medis dan permasalahan penggunaan tracer di Klinik Laras Hati. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kualitatif  dengan pendekataan content analysis. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari bidan, perawat, petugas registrasi dan petugas unit rekam medis di Klinik Laras Hati yang ditentukan dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Penyimpanan rekam medis dengan system sentralisasi, nomor yang digunakan yaitu nomor rekam medis pasien. Sistem penjajaran dengan sistem SNF (Straight Numbering Filing). Adanya rekam medis yang ditempatkan dalam kardus berada di lantai, sehingga petugas kesulitan mencari dokumen rekam medis, dikarenakan rak penyimpanan kurang, penggunaan tracer kurang maksimal karena tidak semua petugas memanfaatkan tracer dalam pengambilan rekam medis, tracer juga belum diisi, jumlah tracer terbatas, sedangkan pasien yang berkunjung melebihi ketersediaan tracer. Kartu kendali pada tracer yang tidak terisi, sehingga tidak bisa untuk melacak tujuan berkas rekam medis, tidak adanya SOP penggunaan tracer
Prenatal Exercise Using Gym Ball for Mrs. N in the Third Trimester of Pregnancy to Reduce Lower Back Pain at Independent Midwife Practice Anisa Mauliddina Nanik Rahayu; Reni Tri Lestari; Tri Ariani; Eny Retna Ambarwati
International Journal Of Health Science Vol. 5 No. 2 (2025): International Journal of Health
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/ijhs.v5i2.5586

Abstract

 Pregnancy is a physiological condition in which a fetus develops in a woman's uterus. In the third trimester, pregnant women often experience discomfort such as lower back pain due to the enlarged uterus, which causes changes in posture, particularly an enlarged spine (hyperlordosis). Mrs. N is one of the pregnant women who came to PMB Anisa Mauliddina Sleman with complaints of lower back pain in her third trimester. In this case, midwives play a crucial role in helping alleviate discomfort in pregnant women, one of which is through interventions such as prenatal exercises using a gym ball. Objective: To be able to provide prenatal exercise care with a gym ball to Mrs. N during midwifery care during pregnancy at Independent Midwife Practice Anisa Mauliddina. Methode:The type of research method used is descriptive analytic method with a case study approach. This research instrument used the results of examinations, observations or observations of the author, interviews with clients and supporting data listed in the maternal and child health book owned by the client.  The results of research on pain on Ny. N after doing senam gymball 10-15 minutes once every 3 days for 3 days it decreased, starting from the first day pain scale 6 to 2 on day 6. There was a decrease in pain intensity after doing pregnancy exercises with a gym ball on Mrs. N, who was pregnant in the third trimester at Independent Midwife Practice Anisa Mauliddina Godean Sleman.
ANALISIS KUALITATIF PENGETAHUAN, PRAKTIK, DAN TANTANGAN TIM PENDAMPING KELUARGA STUNTING KALURAHAN PANGGUNGHARJO, SEWON, BANTUL Tri Ariani; Ari Andriyani; Endang Khoirunnisa
Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health) Vol. 17 No. 01 (2026): Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Utama Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Pendampingan terhadap calon pengantin (catin), ibu hamil dan pascasalin serta balita sangat penting untuk memastikan kondisi risiko stunting teridentifikasi, difahami, ditindaklanjuti dengan treatment dan upaya-upaya kesehatan dan peningkatan status gizi sehingga risiko yang terdeksi dapat ditekan bahkan dihilangkan. Untuk mengoptimalkan peran keluarga, salah satunya dilakukan proses intervensi dalam bentuk pendampingan petugas BKKBN yang bersinergi dengan Kader PKK, Kader KB maupun bidan, yang disebut sebagai pendamping keluarga. Tujuan: Menganalisis secara kualitatif pengetahuan, praktik, dan tantangan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Stunting di Kalurahan Panggungharjo, Sewon Bantul dalam melakukan pendampingan keluarga. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekataan content analysis dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam atau indept interview. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam. Sampel dalam penelitian ini adalah informan penelitian yaitu TPK stunting di Kalurahan Panggungharjo yang melakukan pendampingan keluarga stunting. Hasil: TPK mengetahui bahwa program pendampingan keluarga bertujuan untuk memberikan dukungan dan bantuan kepada keluarga yang berisiko atau mengalami masalah sosial, TPK mengetahui kondisi keluarga, termasuk status gizi, kesehatan, dan sosial ekonomi, tantangan yang dihadapi oleh TPK saat melakukan pendampingan saat keluarga yang didampingi merasa semua sehat. Saran: TPK stunting meningkatkan koordinasi antar anggota tim dalam melakukan pendampingan keluarga.
ANALISIS DETERMINAN KEJADIAN ANEMIA ZAT BESI PADA BALITA BERDASARKAN TELENURSING KALKULATOR ZAT BESI DI PADUKUHAN KEMBANGPUTIHAN Tri Ariani; M. Muslim; Kurniasari Pratiwi
Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health) Vol. 17 No. 02 (2026): Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Utama Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52299/jks.v17i02.687

Abstract

Latar Belakang: Anemia defisiensi besi pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi tinggi yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, dan daya tahan tubuh anak. Pemanfaatan teknologi telenursing dan kalkulator zat besi berpotensi meningkatkan akses edukasi kesehatan serta membantu skrining risiko kekurangan zat besi secara dini. Tujuan: Menganalisis faktor yang memengaruhi kejadian anemia defisiensi besi pada balita menggunakan pendekatan teknologi telenursing berbasis kalkulator zat besi. Metode: Penelitian dilakukan pada 28 balita melalui wawancara dan pengisian kuesioner menggunakan aplikasi kalkulator zat besi berbasis telenursing. Data karakteristik responden, pola konsumsi sumber zat besi, dan risiko defisiensi besi dianalisis secara statistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia. Hasil: Responden berusia 9–55 bulan dengan variasi berat dan tinggi badan. Sebanyak 89,3% balita berisiko mengalami kekurangan zat besi, dengan risiko tertinggi pada kelompok usia 6–12 bulan dan 25–36 bulan. Sebagian besar (85,7%) termasuk kategori risiko tinggi, terutama dipengaruhi rendahnya konsumsi hati ayam dan sereal fortifikasi. Simpulan: Pendekatan telenursing melalui kalkulator zat besi efektif mengidentifikasi risiko anemia defisiensi besi pada balita dan berpotensi mendukung deteksi dini di layanan kesehatan primer. Integrasi aplikasi e-Nutrie ke dalam skrining gizi rutin di posyandu dan puskesmas direkomendasikan untuk meningkatkan upaya pencegahan anemia.