Khaerun Nisa
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDIDIKAN MODERASI BERAGAMA DI SULAWESI TENGAH Khaerun Nisa; Muhlis Muhlis
EDUCANDUM Vol 8 No 1 (2022): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potret pendidikan moderasi beragama di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, meliputi dukungan pemerintah, peran guru dan inovasi media pembelajaran. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa dalam rangka pengarusutamaan moderasi beragama dalam dunia pendidikan, kehadiran Kemenag Kabupaten Sigi telah melaksanakan diklat subtantif moderasi beragama bagi para guru madrasah. Guru sebagai tombak terakhir dalam pengarusutamaan moderasi beragama kepada peserta didik. Guru menggunakan berbagai jenis media pembelajaran kreatif dengan tetap mempertimbangkan kondisi peserta didik, khususnya dalam situasi pandemi covid-19, agar nilai-nilai moderasi beragama tidak hanya sekadar sending kepada peserta didik, tetapi juga delivered. Adapun media kreatif dalam rangka inovasi pembelajaran moderasi beragama di Kabupaten Sigi yaitu pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis radio di SD Bolapapu Kulawi pada mata pelajaran agama Kristen, google classroom di MA Biromaru, dimana guru akidah akhlak dan guru yang mengampu mata pelajaran umum menginjeksikan nilai-nilai moderasi beragama melalui video pada google classroom yang memuat nilai toleransi dan anti kekerasan. Serta media pembelajaran pohon kebaikan dan board game untuk menanamkan nilai-nilai kasih pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen di SD Bala Keselamatan Watubula. Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, penyelenggaraan diklat subtantif serta teknis moderasi beragama oleh kemenag Sigi perlu dilakukan secara kontinyu dan komprehensif kepada para guru madrasah maupun guru agama binaan kemenag di sekolah umum.
Patterns of Generative AI Use Among Students in Indonesian Islamic Higher Education St Aflahah; AM Saifullah Aldeia; Khaerun Nisa
Proceeding of International Conference of Islamic Education Vol. 4 (2026): Proceeding of International Conference of Islamic Education
Publisher : Institut Islam Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The rapid development of generative artificial intelligence (GenAI) has reshaped learning practices in higher education, particularly in students’ academic activities such as writing, summarizing, translating, and idea generation using tools like ChatGPT and similar applications. However, empirical evidence on how students use GenAI in daily learning practices within Indonesian Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) remains limited. This study aims to map patterns of GenAI use among undergraduate students in PTKIN using a descriptive quantitative survey design. The study involved 283 students from 10 PTKIN across western, central, and eastern Indonesia. Data were collected through a structured online questionnaire and analyzed using descriptive statistics (frequencies and percentages). The findings reveal a very high level of GenAI adoption, with 97.5% of students reporting its use for learning purposes. Usage is intensive, as more than 90% of respondents use GenAI at least several times per week, indicating its integration into academic routines. ChatGPT emerges as the most widely used tool, often complemented by other applications. Access is predominantly through free or freemium services across both mobile and desktop devices. GenAI is mainly used for text-based academic tasks, while multimodal use remains limited. Notably, 70.3% of respondents reported being unaware of official GenAI usage guidelines. Overall, the findings suggest that while GenAI is widely embedded in student learning practices, awareness of institutional guidance remains low.