Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL INTEGRASI PROSES

PEMANFAATAN LIGNIN PADA TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PEREKAT LIGNIN RESORSINOL FORMALDEHIDA (LRF) Alrista Rahmawati; Fioni Ashari Putri; Retno Dewati
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i1.25897

Abstract

Tempurung kelapa mengandung 29% lignin, 27% pentosan, dan 26% selulosa. Kandungan lignin yang terdapat dalam tempurung kelapa dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan perekat LRF (lignin resorsinol formaldehida). Lignin yang digunakan adalah hasil proses delignifikasi menggunakan pelarut etanol 40%. Perekat LRF dibuat dengan cara mensubtitusikan serbuk lignin hasil isolasi lindi hitam sebesar 2,5; 5; 7,5; 10; dan 12,5 gram dengan perbandingan massa resorsinol dan variasi waktu pemanasan selama 20, 25, 30, 35, dan 40 menit. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat perekat LRF kemudian dibandingkan dengan perekat komersial dan syarat mutu perekat pada SNI 06-4567-1998. Dari hasil analisis diperoleh warna perekat LRF berwarna coklat kehitaman yang telah sesuai persyaratan SNI dengan pH sebesar 9,97-11,04, densitas 1,17 – 1,28 g/ml, dan hasil uji daya rekat yang sesuai dengan perekat komersial sebesar 3,65 kg/cm2 pada subtitusi serbuk lignin 2,5 gram dan waktu pemanasan selama 20 menit.
SINTESIS KARBON AKTIF DARI SHORT FLAMING COAL LOKAL INDONESIA DENGAN AKTIVATOR KOH SEBAGAI ADSORBEN Yonathan Juanto; Izam Arrazhi; Retno Dewati; Sani Sani
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i2.26997

Abstract

Batu bara merupakan batuan organik yang terbentuk dari fosil tumbuhan yang berwarna gelap dan terasosiasi oleh kandungan mineral seperti abu dan belerang. Ada 3 tingkatan yang terdapat dalam batu bara antara lain lignit, bituminus, dan antrasit. Antrasit merupakan jenis batu bara terbaik dikarenakan memiliki kandungan karbon terbesar diantara ketiganya, untuk itu pada penelitian ini digunakan batu bara jenis Antrasit. Kandungan karbon yang terdapat pada batu bara dapat dimanfaatkan untuk menjadi karbon aktif yang berfungsi sebagai adsorben. Metode yang digunakan yaitu gabungan antara metode fisika dan kimia, dimulai dengan proses dehidrasi, karbonisasi, dan aktivasi. Hasil yang didapatkan ialah rasio penggunaan KOH dan suhu optimum terbaik untuk mengaktivasi batu bara antrasit ada pada perbandingan batu bara terhadap KOH 1:5 pada suhu 700°C dengan kadar air sebesar 9,9%, kadar abu sebesar 9,9%, kadar zat terbang sebesar 13%, kadar karbon terikat sebesar 77,1%, serapan iodin sebesar 1040,58 mg/g, dan luas permukaan sebesar 317,328 m2/g.
PENENTUAN KONDISI TERBAIK PENYISIHAN ION Ca2+ DAN Mg2+ DARI AIR LAUT MENGGUNAKAN NATRIUM KARBONAT (Na2CO3) DAN AMONIUM HIDROKSIDA (NH4OH) Septianingsih, Dilla; Zulianti, Mei Fifa; Dewati, Retno; Sani, Sani
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 14, No 1 (2025)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v14i1.32090

Abstract

Air laut mengandung beragam ion logam, terutama ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) yang menyebabkan masalah di berbagai industri, seperti pembentukan kerak pada peralatan industri dan pengolahan air minum.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi terbaik dalam penghilangan ion Ca2+ dan Mg2+ menggunakan Na₂CO₃ sebagai agen pengikat kalsium dan magnesium dan penambahan NH4OH sebagai bahan pengikat magnesium pada tahap kedua. Proses penghilangan dilakukan melalui reaksi pengendapan dengan variasi konsentrasi Na₂CO₃ yaitu 0,1, 0,2, 0,3, 0,4, dan 0,5 M, serta suhu operasi 30, 45, 60, 75, dan 90 °C. Waktu pengadukan ditetapkan selama 5 menit, diikuti dengan pengendapan selama 1 jam. Konsentrasi NH4OH ditetapkan pada 6,49 M berdasarkan hasil perhitungan stoikiometri. Kadar ion Ca²⁺ dan Mg²⁺ sebelum dilakukan perlakuan dan sesudah perlakuan dianalisis menggunakan metode titrasi kompleksometri dan atomic absorption spectrometry (AAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi Na₂CO₃ dan suhu operasi berbanding lurus dengan persen penyisihan ion Ca²⁺ dan Mg²⁺. Analisis statistik menggunakan ANOVA dua arah juga menunjukkan nilai p < 0,05. Kondisi terbaik didapatkan pada penambahan natrium karbonat pada konsentrasi 0,5 M dan suhu 90 °C, dengan persen penyisihan  ion Ca²⁺ mencapai 97,85% dan ion Mg²⁺ sebesar 96,91%. Hasil penyisihan tersebut belum memenuhi standar SNI, karena kadar ion Ca2+ dan ion Mg2+ didapatkan sebesar 180,351 mg/L dan 182,288 mg/L, sedangkan standar SNI pada air minum kadar Ca2+ sebesar 10 mg/L dan kadar Mg2+ sebesar 150 mg/L. Penelitian ini mendukung pengembangan pra-pengolahan air laut yang lebih efisien dengan menurunkan kadar ion Ca²⁺ dan Mg²⁺ dalam industri air minum.