Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi apa yang dikembangkan? Studi tentang bisnis bibit porang Jember Yeni Ida Kurniawati; Bagus Putu Yudhia Kurniawan; Muksin Muksin; Andarula Galushasti
Jurnal Ilmiah Inovasi Vol 22 No 2 (2022): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jii.v22i2.3342

Abstract

Tanaman porang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan merupakan komoditas ekspor unggulan, ketersediaan benih yang terbatas menjadi kendala. Hingga saat ini, masih ada satu varietas yang dilepas oleh pemerintah, sehingga tidak semua permintaan bibit porang dapat dipenuhi. Penelitian ini menggabungkan penelitian eksplorasi, deskriptif, dan penjelasan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi mendalam tentang pembobotan dan pemeringkatan serta menyiapkan beberapa alternatif strategi pengembangan bisnis yang dapat diimplementasikan melalui kajian teori dan penelitian sebelumnya sebelum melanjutkan penelitian deskriptif. Metode analisis data yang digunakan untuk mengetahui alternatif strategi pengembangan bisnis adalah matriks SWOT. Lima alternatif strategi dapat direkomendasikan untuk mengembangkan bisnis benih porang di Indobreed Agro Nusantara. Kekuatan utama industri adalah formula teknis, sedangkan kelemahan sektor ini adalah pengadaan  benih porang. Peluang utama adalah peningkatan permintaan, sedangkan ancaman dari industri adalah peraturan pemerintah tentang distribusi produk porang. Penelitian ini memperoleh beberapa alternatif strategi yang dapat direkomendasikan untuk diimplementasikan untuk mengembangkan usaha benih porang di Indobreed Agro Nusantara. Yakni, modal usaha dapat ditambah dengan menerapkan pinjaman usaha masyarakat kepada bank. Kapasitas produksi tambahan. Memodifikasi bentuk luar produk menjadi tepung porang mengikuti tingkat monopoli industri produk porang yang ada.
Revealing the True Cost of Food: A Life Cycle Assessment for Sustainability in the Agri-Food Sector Dian Rizky; Alwan Abdurahman; Bagus Putu Yudhia Kurniawan; Retno Sari Mahanani; Ida Adha Anrosana Pongoh; Datik Lestari
Futures in Agro-Food Economics and Logistics Analytics Journal Vol. 1 No. 2 (2025): June
Publisher : PT Litera Integra Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67580/fafela.v1i2.15

Abstract

The spice industry, especially the production of vanilla (Vanilla planifolia), plays an important role in Indonesia's agricultural economy. However, the complexity of the vanilla cultivation and post-harvest process has the potential to create significant ecological stress. This study aims to evaluate the environmental impact of vanilla production in Indonesia using the Life Cycle Assessment (LCA) approach based on ISO 14040/14044 standards and the ReCiPe 2016 method. The functional unit used is one kilogram of dry vanilla, ready for consumption, with a cradle-to-gate system limit. Data was collected from a combination of field surveys, farmer interviews, and Ecoinvent's secondary database. The results of the analysis show that the cultivation stage contributes the greatest to Global Warming Potential, eutrophication, and acidification, mainly due to the use of nitrogen fertilizers and conventional irrigation systems. The biomass combustion-based post-harvest drying process also contributes to SO₂ and NOₓ emissions. The variability between production areas (Papua, Bali, and East Java) indicates the importance of a local context-based approach in mitigation strategies. This study recommends the adoption of low-emission drying technologies, the use of organic fertilizers, and efficient irrigation as technical steps, as well as the need to integrate LCA in national agricultural policies. This study confirms the strategic role of LCA not only as an evaluative tool but also as the foundation of the sustainability policy of the spice sector in Indonesia.