Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN BUDAYA DENGAN PROSES PENYEMBUHAN SELAMA PERAWATAN MASA NIFAS Ita Susanti
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 10, No 2 (2022): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK X 2022
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.905 KB) | DOI: 10.22373/pbio.v10i1.14336

Abstract

Masa nifas merupakan periode kritis dalam proses keberlangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir. Pada umumnya kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi pada satu bulan pertama post partum. Oleh karena itu, pada masa nifas sangat diperlukan perawatan kesehatan yang intensif untuk mencegah risiko kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Adat istiadat negatif yang membentuk perilaku masyarakat hingga menjadi suatu kebiasaan masyarakat menjadi penghambat pola hidup sehat di lingkungan masyarakat, salah satu diantaranya yaitu kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan pemenuhan nutrisi khususnya pada ibu nifas. Derajat kesehatan yang optimal sangat erat kaitannya dengan pemenuhan nutrisi yang seimbang baik kuantitas maupun kualitas dari nutrisi yang di konsumsi oleh setiap individu. Masyarakat meyakini bahwa budaya yang diwariskan oleh leluhur secara turun-temurun dalam perawatan ibu nifas memberikan banyak dampak yang positif dan menguntungkan bagi masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor penghambat dalam meningkatlkan derajat kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah study literature review yaitu dengan mengunjungi beberapa halaman artikel dari word wide web dengan pemaparan secara naratif untuk melihat berbagai hasil penelitian tentang kebudayaan masyarakat dalam perawatan masa nifas. Berdasarkan beberapa hasil penelitian diperoleh bahwa faktor budaya berhubungan dengan proses penyembuhan selama perawatan masa nifas. Ibu yang menjalankan masa nifas dengan budaya yang positif akan berpengaruh terhadap status derajat kesehatannya.
PENYULUHAN PENCEGAHAN STUNTING PADA IBU DENGAN BALITA DI PUSKESMAS KUTA MALAKA ACEH BESAR Cut Rahmi Muharrina; Ita Susanti; Nurlaila; Shinta Amalia; Angela Zulbaini; Maulida; Sri Eva Ridha
JOURNAL OF SUSTAINABLE COMMUNITY SERVICE Vol. 1 No. 1 (2020): DECEMBER
Publisher : Transpublika Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55047/jscs.v1i1.318

Abstract

Reducing the prevalence of stunting in children under five is the main agenda of the Government of Indonesia. The Secretariat of the Vice President coordinates efforts to accelerate stunting prevention so that it converges, both in planning, implementation, including monitoring and evaluation at various levels of government, including villages. The Setwapres encourages the involvement of all parties in accelerating stunting prevention so that the prevalence will fall to 14% by 2024. Stunting is caused by multi-dimensional factors and is not only caused by poor nutrition experienced by pregnant women and children under five. Several factors that influence the incidence of stunting include maternal factors, home environment factors, low food quality, inadequate feeding, food and drink safety, breastfeeding (breastfeeding phase), infection, political economy, health and health services, education, social and culture, agriculture and food systems, water, sanitation and the environment. The prevalence of stunting in Indonesia is higher than other countries in Southeast Asia, such as Myanmar at 35%, Vietnam at 23%, and Thailand at 16%. Seeing this situation, of course, very worrying for the younger generation. This is because the incidence of stunting will have an impact on the growth and development of children in the long term. The method used is Pre Test and Post Test using a questionnaire. Based on the results of the counseling there was an increase in respondents' knowledge of stunting, which was in the good category as much as 19 (52.8%). In conclusion, there is a significant increase in respondents' knowledge after being given counseling.