Rezkia Zahara Lubis
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI NASI HADAP-HADAPAN DALAM PESTA PERNIKAHAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI KOTA TANJUNGBALAI: Indonesia Rezkia Zahara Lubis
Al-IHKAM Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram Vol. 13 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/alihkam.v13i1.3186

Abstract

Fenomena tradisi nasi hadap-hadapan dalam acara pesta pernikahan yang terjadi di Kota Tanjungbalai, yang mana ada dampak pada masa pandemi covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tradisi nasi hadap-hadapan dalam pesta pernikahan pada masa covid-19 di Kota Tanjungbalai. Penelitian yang digunakan merupakan penelitian studi kasus, metode yang digunakan adalah dokumentasi, wawancara dan observasi. Penelitian ini bersifat deskriptif-analisis yang menggambarkan sesuatu fakta apa adanya secara sistematis dan akurat, kemudian menganalisanya secara cermat dan teliti, serta menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan informasi bahwa dalam tradisi nasi hadap-hadapan dalam pesta pernikahan sangat bisa berdampak pada penularan covid-19 yang merupakan virus dengan penularan yang tercepat. Acara tradisi nasi hadap-hadapan dalam pesta pernikahan tetap dilaksanakan dalam situasi pandemi covid-19 karena tradisi tersebut merupakan adat turun-temurun dan sebagai salah satu inti acara di pesta pernikahan dengan para tamu tetap pada protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak).
Teknologi Three-Parent Baby dan Implikasinya terhadap Nasab Perspektif Sadd adz-Dzari’ah Nida Rafiqa Izzati; N. Nurnazli; Abdul Qodir Zaelani; M. Natsir Asnawi; Rezkia Zahara Lubis
Jurnal Interpretasi Hukum Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Interpretasi Hukum
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/juinhum.6.1.11831.97-107

Abstract

The Three-Parent Baby Technology (TPBT) is a medical innovation aimed at preventing the hereditary transmission of mitochondrial disorders by combining genetic material from two women and one man. While offering a health solution, this technology raises significant issues in Islamic law, particularly regarding lineage clarity (nasab). This study addresses three main focuses: first, the concept and development of TPBT in medical science; second, the principle of sadd adz-dzari’ah as a method of legal determination in Islam; and third, the analysis of TPBT from the sadd adz-dzari’ah perspective and its implications for lineage in Islamic family law. Employing a qualitative approach through library research, this study draws from primary and secondary sources in Islamic legal discourse. The findings indicate that while TPBT is clinically effective, it remains uncertain in terms of long-term safety. In Islamic law, sadd adz-dzari’ah functions as a legal method that prevents harm by closing avenues leading to potential damage (mafsadat). From this perspective, TPBT risks obscuring lineage, violating Sharia principles of reproduction, posing long-term health risks (for both the woman undergoing the procedure and the resulting child), exploiting women, enabling genetic engineering abuse, and conflicting with the concept of qadha and qadar. Based on its inherent potential for harm, TPBT falls into the category of acts that are intrinsically prohibited due to their destructive nature. Scholars agree that such actions must be prevented. Therefore, through the lens of sadd adz-dzari’ah, TPBT is assessed as causing more harm than benefit and is deemed inappropriate for implementation in Islamic family law.