Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Cadar Perempuan Madura; Konstruksi Makna dan Motif Penggunaan Cadar bagi Perempuan Madura Amiruddin; Hafid
Al-Manhaj: Journal of Indonesian Islamic Family Law Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-manhaj.v4i2.7317

Abstract

Women who wear the veil are often branded as radical Muslim women and even terrorists. This stereotype originates from the many radical Islamic and terrorist families, most of whom wear the veil. Even though many Muslim women who wear the veil are not affiliated with radical Islamic groups and terrorists, for this reason, this study aims to reveal the meaning of the veil and the motives for wearing the veil for Madurese women. The method used in this study is a qualitative research method with the phenomenological approach of Alfred Schutz. The results showed that the veil has many meanings, namely the veil has meaning as a protector, self-control, covering deficiencies (disgrace), a form of obedience to teachers, and as a barrier so that men do not sin. The reasons for Madurese women to wear the veil are: carrying out religious orders, moving, maintaining honor, carrying out the orders of their husbands and teachers, following the trend of Muslim clothing, and covering the shortage of women.
Pendidikan Islam dalam Pandangan Syekh Nawawi Al-Bantani dan Implementasinya di Era Globalisasi Mukhlis Mukhlis; Hafid
Kariman: Jurnal Pendidikan dan Keislaman Vol. 9 No. 2 (2021): Jurnal Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.734 KB) | DOI: 10.52185/kariman.v9i2.190

Abstract

Pemikran Pendidikan Islam Syekh Nawawi Al-Bantani lebih menekankan kepada Tauhid dan mengimani bahwa allah itu maha Esa, yang di sertai dengan perbuatan yang baik sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan hadist.  Tidak hanya itu, dalam pemikiran beliau manusia dalam menjalankan kehidupan di dunia harus memiliki akhlakul karimah seperti yang sudah di contohkan Nabi Muhammad Saw. Ide dasar pendidikan Syekh Nawawi Al-Bantani yang bisa diimplementasikan pada era globalisasi saat ini meliputi: Nilai Pendidikan  Hablum Minallah , Hablum minannas, Hablum minal Alam, Hubungan manusia dengan dunia, Hubungan manusia dengan akhirat  dan yang terakhir Hubungan manusia dengan ilmu.
KOMODIFIKASI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI: KRITIK TERHADAP KOMERSIALISASI MASA KANAK-KANAK DAN KESENJANGAN AKSES PAUD Ach. Syaiful; Hafid; Faizatul Fitriyah
GHULAMUNA: JOURNAL OF EARLY CHILDHOOD EDUCATION Vol. 3 No. 2 (2026): GHULAMUNA : Journal of Early Childhood Education
Publisher : Lembaga PInstitut Kariman Wirayudha Sumenep Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52185/ghulamuna.v3i1.845

Abstract

Artikel ini mengkaji secara kritis fenomena komodifikasi dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam konteks modernitas yang mengubah esensi PAUD dari praktik yang sesuai perkembangan anak (developmentally appropriate practice) menjadi komoditas yang dapat dipasarkan. Melalui pendekatan kritik sosial dan analisis teoretis, penelitian ini mengungkapkan bagaimana logika kapitalisme telah merasuki sistem PAUD, mengubah lembaga prasekolah menjadi entitas yang berorientasi pasar dengan praktik branding dan marketing yang intensif. Transformasi ini menimbulkan ironi fundamental: pendidikan anak usia dini yang seharusnya mengutamakan perkembangan anak dan pembelajaran berbasis bermain justru terkungkung dalam logika transaksional yang menekankan akselerasi akademik dan persiapan sekolah formal. Komodifikasi PAUD menciptakan akses eksklusif berdasarkan kemampuan ekonomi, menghasilkan stratifikasi pendidikan yang tajam sejak tahap paling awal perkembangan anak. Artikel ini menganalisis fenomena branding PAUD dalam kerangka teori modernitas refleksif Giddens dan mengkaji dilema antara pragmatisme pasar dan praktik yang sesuai perkembangan anak dalam pendidikan usia dini. Temuan penelitian menunjukkan bahwa PAUD modern menghadapi ketegangan antara kecemasan orang tua akan “kesiapan sekolah,” tekanan komersial untuk pencapaian akademik, dan prinsip-prinsip fundamental pedagogi yang berpusat pada anak dan berbasis bermain. Artikel ini menyimpulkan perlunya reorientasi pendidikan anak usia dini yang mampu menyeimbangkan pengembangan keterampilan dengan perkembangan anak holistik yang mencakup dimensi kognitif, sosio-emosional, fisik, dan spiritual untuk mewujudkan PAUD yang berkeadilan dan membebaskan.
Kepemimpinan dan Kerja Sama untuk Meraih Mutu Pendidikan: (Re-aktualisasi Peran Sumber Daya Manusia melalui Total Quality Management dalam Manajemen Pendidikan Islam) Musayyidi Musayyidi; Hafid; Matlani
Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman Vol. 12 No. 1 (2024): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52185/kariman.v12i1.374

Abstract

There are four basic efforts that must be made in a product/service producing institution to produc  better quality, in this case an islamic  educational institution, namely : (1) Creating a “win win” situation  an not “win win” situation. “lose win” between parties  with an interest  in product / service  producing  institutions  (stakehoulders). In this case, especially between  the leadhership / owner of the institution and the staff  of the institution, there must  be mutually  beneficial  conditions  for each  other in achieving  thue quality  of the products / service produced by the institutions (2) it is necessary  to develop instrinsic motivation in everyone involved in the process  of achieving product / service  quality. Every person  must grow  motivated  that the result  of their activites reach  a certain  quality that  continues to improve, especially  in accordance  with the needs and expectations of user / subcribbes. (3) every leader must be oriented towards  long-term process and results. Impelementing TQM is not a short-term change process, but a consistent  and continous  log-term  effort (4) in mobilizing  all institutional  capabilities  to achieve the specified  quality, cooperation must  be developed be results.  There should  be no competion between  them that interferes with the process of achieving quality results  they are a unit that must work together and cannot  be separated from each other to produce quality products / services as expected.
Parenting Education Berbasis Nilai-Nilai Pendidikan Islam sebagai Upaya Pencegahan Pernikahan Dini di Desa Aengmerah Sumenep Amiruddin Amiruddin; Hafid; Jamiliya Susantin
Kariman: Jurnal Pendidikan Keislaman Vol. 11 No. 2 (2023): Pendidikan dan Keislaman
Publisher : Institut Kariman Wirayudha Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52185/kariman.v11i2.1069

Abstract

Pernikahan dini masih menjadi masalah sosial yang belum terselesaikan, khususnya di daerah pedesaan Kabupaten Sumenep, Madura. Salah satu akar penyebab utamanya adalah pemahaman yang terbatas di kalangan orang tua tentang nilai-nilai pendidikan Islam, yang menekankan pentingnya pengetahuan, pengasuhan anak yang berlandaskan Islam, dan kewajiban untuk melindungi anak-anak dari praktik-praktik yang membahayakan masa depan mereka. Artikel ini menyajikan temuan dari program pengabdian masyarakat yang dilakukan di Desa Aengmerah, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, dengan menggunakan metode Penelitian Aksi Partisipatif (PAR). Program ini mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan Islam ke dalam sesi pendidikan orang tua untuk memperkuat kapasitas orang tua dalam mencegah pernikahan dini. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kesadaran orang tua tentang pentingnya pendidikan anak, pemahaman yang lebih dalam tentang konsekuensi negatif pernikahan dini, dan pergeseran yang berarti menuju praktik pengasuhan anak yang lebih selaras dengan ajaran Islam. Program ini memberikan bukti bahwa pendekatan berbasis pendidikan Islam yang melibatkan orang tua secara langsung lebih efektif dalam mendorong perubahan sikap daripada inisiatif penyuluhan yang hanya menargetkan anak-anak.