Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Arketipe Kepribadian Naomi: Suatu Kajian Psikoanalitikal Carl Gustav Jung Feliana Eliza Kasemetan; Yulius Yusak Ranimpi; Merry Kristina Rungkat
GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Vol. 7 No. 2 (2022): Gema Teologika: Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21460/gema.2022.72.884

Abstract

AbstractNaomi is one of the characters in the book of Ruth who experiences many challenges. The death of her husband and two sons left Naomi as a widow. Naomi has to survive with the status as a widow who has limitations in social circles. This paper aims to analyze and describe Naomi’s personality archetypes using Jung’s psychoanalytic studies. The method used is descriptive analytic which is traced through historical traces, characterizations and conversations in the story. The results of the study prove that Naomi is able to survive and has the support of the archetypes contained within her. The archetypes are: anima-animus, shadow, persona, self, and the great mother. With the support of archetypes, Naomi is able to survive and show her best qualities. AbstrakNaomi adalah salah satu tokoh dalam kitab Rut yang mengalami banyak tantangan. Kematian suami dan kedua putra membuat Naomi hidup menjanda. Naomi harus bertahan hidup dengan status janda yang memiliki keterbatasan dalam lingkungan sosial. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan arketipe kepribadian Naomi menggunakan kajian psikoanalitikal Jung. Metode yang dipakai adalah deskriptif analitik yang ditelusuri melalui jejak historis, penokohan dan percakapan dalam cerita. Hasil penelitian membuktikan bahwa Naomi mampu bertahan hidup dan mendapat dukungan dari arketipe yang terdapat dalam dirinya. Arketipe tersebut adalah: animus (pikiran), shadow (bayangan), persona (topeng), self (diri), dan the great mother (ibu agung). Adanya dukungan dari arketipe membuat Naomi mampu bertahan hidup dan menunjukkan kualitas terbaik dirinya.
Pergumulan Spiritualitas dan Regulasi Emosi Elia dalam 1 Raja-Raja 19:3-4 Menurut James Gross Semua Anugerah Hansela Neolaka; Merry Kristina Rungkat; Yulius Yusak Ranimpi
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 1 (2025): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i1.341

Abstract

This paper examines Elijah's spiritual struggles and emotional regulation using an interdisciplinary hermeneutic approach and literature review. Elijah struggled with fear due to the conflict with Jezebel and the Israelites about the spread of Baal worship (interpersonal struggles). The situation shook Elijah's spirituality and led to his disappointment with God (divine struggles). The pressure on his mind showed intrapersonal struggles, which culminated in a desire to die. Elijah's emotion regulation process can be seen since he chose to flee as a form of situation selection. To relieve emotional pressure, he modifies the situation by resting and sleeping (situation modification). Eating and drinking in response to the angel's gift reflects attentional deployment. Elijah's cognitive change occurred through God's intervention in the form of a divine encounter and reinforcement. This process reached its final stage in response modulation, where Elijah forgot his desire to die and chose to continue his prophetic duties.
Concept of Monotheism in Isaiah 45 as a Basic Alternative to Addressing the Reality of Religious Plurality in Indonesia Novita Sari Sembiring; Cindy Quartyamina Koan; Merry Kristina Rungkat
Khazanah Theologia Vol. 4 No. 2 (2022): Khazanah Theologia
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/kt.v4i2.17873

Abstract

Religious plurality is an unavoidable reality in Indonesia. This research seeks to explain the attitudes that Christians may embrace in responding to the reality of religious plurality in Indonesia. The alternatives to the study are based on the implications of Isaiah 45, which is part of the Christian Bible. Researchers looked at the characteristics of Isaiah 45 and the concept of monotheism to get the implications of the concept of monotheism in Isaiah 45 for alternatives to Indonesian Christians. This type of research is qualitative descriptive research with the use of hermeneutic methods and socio-historical approaches. Researchers conduct a literature study of sources related to the research topic. The results explain that the implications of the concept of monotheism in Isaiah 45 show that Yahweh, who is God, is not exclusive in relationships with mankind. Based on the implications of the concept of monotheism in Isaiah 45, Christians can choose transformative inclusive attitudes in establishing relations with other religious people.
Strategi Politik Yosia: Analisis Hermeneutik Sosio-Historis terhadap II Raja-raja 23:1-27 menurut Politik Tubuh Michel Foucault Merry Kristina Rungkat
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 6, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v6i2.531

Abstract

The relationship between religion and politics in biblical texts often reveals complex dynamics of power. One significant example can be found in King Josiah’s religious reform. This article examines King Josiah’s political strategy in 2 Kings 23:1–27 by applying Michel Foucault’s concept of politics of the body. The purpose of this study is to demonstrate that Josiah’s religious reforms were not merely efforts to purify the worship of Yahweh but also means to strengthen his political power and legitimacy. Using a qualitative descriptive method and a socio-historical hermeneutical approach, this research analyzes the textual and contextual aspects of Josiah’s reform. The findings show that Josiah’s physical actions, such as gathering the people, destroying idol worship sites, removing foreign priests, and restoring the Passover celebration, functioned as mechanisms of power to regulate both individual and social bodies of Judah. These actions reveal the interconnection between religion and politics in shaping national identity and authority. The study concludes that the politics of the body in Josiah’s reform provides a critical framework for understanding the relationship between power, religion, and social control in both ancient and contemporary contexts.AbstrakRelasi antara agama dan politik dalam teks-teks Alkitab sering kali memperlihatkan dinamika kekuasaan yang kompleks. Salah satu contoh yang signifikan dapat ditemukan dalam reformasi keagamaan Raja Yosia. Artikel ini mengkaji strategi politik Raja Yosia dalam 2 Raja-raja 23:1–27 dengan menerapkan konsep politics of the body dari Michel Foucault. Tujuan penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa reformasi keagamaan Yosia bukan sekadar upaya memurnikan penyembahan kepada Yahweh, tetapi juga sarana untuk memperkuat kekuasaan dan legitimasi politiknya. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan hermeneutik sosio-historis, penelitian ini menganalisis aspek tekstual dan kontekstual dari reformasi Yosia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan-tindakan fisik Yosia, seperti mengumpulkan rakyat, menghancurkan tempat pemujaan berhala, menyingkirkan imam-imam asing, dan memulihkan perayaan Paskah berfungsi sebagai mekanisme kekuasaan untuk mengatur tubuh individu maupun tubuh sosial Yehuda. Tindakan-tindakan tersebut memperlihatkan keterkaitan antara agama dan politik dalam membentuk identitas dan otoritas bangsa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa politics of the body dalam reformasi Yosia memberikan kerangka kritis untuk memahami hubungan antara kekuasaan, agama, dan kontrol sosial, baik dalam konteks kuno maupun kontemporer.
Pergumulan Spiritual dan Strategi Koping Religius Raja Hizkia dalam II Raja-Raja 20:1-6 Ezra Tanamal; Merry Kristina Rungkat; Yulius Yusak Ranimpi
Vox Dei: Jurnal Teologi dan Pastoral Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Ekumene Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pergumulan spiritual dan strategi koping religius Raja Hizkia berdasarkan teks 2 Raja-raja 20:1-6, yang memuat kisah Raja Hizkia ketika mengalami sakit bahkan dinubuatkan akan mati oleh Nabi Yesaya. Hizkia digambarkan sangat putus asa yang nampak dalam tangisan dan sikapnya ketika mendengar nubuatan tentang kematiannya dan dalam keputusasaan tersebut Hizkia memilih untuk menaikkan doa kepada Allah sebagai wujud penyerahan diri karena dia menyadari bahwa pergumulan yang dialami terjadi di luar kendalinya sebagai manusia yang terbatas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik interdisipliner dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu studi kepustakaan dari buku maupun jurnal yang membahas tentang Kitab 2 Raja-raja 20:1-6, kehidupan Raja Hizkia, serta berbagai tulisan mengenai pergumulan spiritual dan strategi koping religius. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat ditemukan bahwa pergumulan spiritual yang dialami Hizkia termasuk dalam divine struggle yang seringkali muncul pada kasus yang terjadi di luar keterbatasan manusia seperti kematian dan dalam konteks pergumulan Hizkia, dia meyakini Tuhan sebagai yang Mahakuasa. Mengatasi pergumulan tersebut, Hizkia menggunakan koping religius positif dengan pendekatan deferring yang nampak dalam sikap Hizkia ketika menghadapi pergumulan tersebut, yakni memilih untuk berpaling kepada Tuhan sebagai satu-satunya sosok yang dapat menolongnya untuk mengatasi pergumulan yang dia alami.   Kata kunci: Raja Hizkia; pergumulan spiritual; strategi koping religius.
Etika Sosial dalam Imamat 19:18 sebagai Landasan Praksis Sila Kedua Pancasila Hagai Zefanya Putra; Merry Kristina Rungkat
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 10, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v10i2.1912

Abstract

Abstract. This article discusses how the principle of social ethics in Leviticus 19:18 can relate to the humanitarian values contained in the second principle of Pancasila, namely "Just and Civilized Humanity." This research uses a textual hermeneutic approach with Mahatma Gandhi's social ethics as its analytical lens. The result of the study showed that the prohibition of revenge and holding grudges in the heart and the command to love others demonstrate a social ethical structure rooted in relationships and responsibilities between community members. These values are in line with the principles of the second principle of Pancasila which emphasizes justice, human dignity, and social responsibility. Thus, Christians are called to uphold the values of Pancasila not only in the normative level but also in social practice.Abstrak. Artikel ini membahas bagaimana prinsip etika sosial dalam Imamat 19:18 dapat dihubungkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam sila kedua Pancasila, yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutik tekstual dengan etika sosial Mahatma Gandhi sebagai lensa analisisnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa larangan membalas dendam dan menyimpan dendam dalam hati serta perintah untuk mengasihi sesama menunjukkan suatu bangunan etika sosial yang berakar pada relasi dan tanggung jawab antar anggota komunitas. Nilai-nilai ini sejalan dengan asas sila kedua Pancasila yang menegaskan keadilan, martabat manusia, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, umat Kristiani dipanggil untuk menegakkan nilai-nilai Pancasila bukan hanya dalam tataran normatif, pun juga dalam praksis sosial.
Makna Kasih dalam Imamat 19:18 menurut Tinjauan Etika Deontologis Immanuel Kant Tabitha Laras Wasti Septaningrum; Merry Kristina Rungkat
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 15 No 1 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v15i1.346

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menafsirkan makna kasih dalam Imamat 19:18 melalui perspektif etika deontologis Immanuel Kant, sebuah prinsip moral yang menekankan tanggung jawab terhadap sesama tanpa pamrih. Pendekatan etika deontologis Kant digunakan untuk menyoroti dimensi kewajiban moral dalam perintah kasih tersebut, di mana tindakan moral dinilai bukan dari akibatnya, melainkan dari motivasi yang bersumber pada rasa hormat terhadap hukum moral. Melalui analisis tekstual dan refleksi filosofis, penelitian ini menunjukkan bahwa kasih dalam Imamat 19:18 tidak sekadar merupakan emosi interpersonal, melainkan suatu bentuk ketaatan etis yang berakar pada kesadaran akan kehendak Allah sebagai sumber moralitas. Dengan demikian, konsep kasih Alkitabiah sejalan dengan prinsip Kantian tentang tindakan moral yang dilakukan demi kewajiban, bukan demi keuntungan pribadi. Artikel ini diharapkan memperkaya dialog antara teologi biblika dan filsafat moral modern, serta menawarkan pemahaman etis yang lebih mendalam tentang kasih sebagai dasar kehidupan religius dan sosial.