Irwan Dwi Arianto
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Indonesian people’s resilience detection method based on big data Catur Suratnoaji; Irwan Dwi Arianto; Syifa Syarifah Alamiyah
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v10i2.41900

Abstract

The resilience condition of the Indonesian people in facing threats, disturbances, obstacles, and challenges (AGHT) can be identified through conversations on social media. The conversational data of social media users is important data for understanding the national resilience of the Indonesian people. The method developed is more explorative, descriptive, and quantitative by describing the variable: volume of social media users, user profiles, reach, conversation trends, types of issues, top tweets, emotion, sentiment, people who influence (top influencer), intermediary (bridge), and robot analysis (bot analysis). The research sample is from March 1, 2022, to May 1, 2022. Consideration of the timing is due to many public reactions to the “three periods” issue. The results of this study indicate that the three-period issue is the most dominant compared to other topics. The issue of “three periods” spread throughout Indonesia, and the most dominant was in DKI Jakarta Province. The social media users’ profile shows that the issue of three periods is mostly discussed by users between the ages of 19 and 29. Men are more dominant in discussing the “three periods” issue than women. Most Indonesian people reject the three-period issue. It shows that the resilience of the Indonesian people is exceptional because they can confront negative issues.
AKTIVISME TAGAR #SAVENOVIAWIDYASARI DI TWITTER Yulis Nila Sari; Irwan Dwi Arianto
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 8 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i8.2023.4084-4095

Abstract

Penggunaan internet di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, APJII pada November 2016 penggunaan internet ditemukan sebanyak 129,2 juta atau 97,4% dari total keseluruhan pengguna internet lebih sering mengakses media sosial. Di masa pandemi COVID-19 penggunaan Twitter meningkat hingga 20% pengguna tiap harinya. Aktivisme dengan tagar #savenoviawidyasari menjadi salah satu gerakan sosial yang memanfaatkan Twitter sebagai saluran komunikasi saat pandemi COVID-19. Pada tanggal 4 Desember 2021 itu setidaknya ada lebih dari 21 ribu pengunggah tweet yang menyertakan #savenoviawidyasari untuk menuntut keadilan bagi korban bernama Novia Widyasari. Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana aktivisme digital dalam kasus #savenoviawidyasari di Twitter. Metode yang digunakan yakni Netnografi berbasis data site Kozinets. Dalam menggunakan metode netnografi pengumpulan dan penyususan semua bentuk digital membentuk unit, sub struktur, dan struktur makna budaya. Aktivisme digital menurut Sandor Vegh dibagi dalam tiga kategori diantaranya kesadaran, mobilisasi, aksi dan reaksi. Sedangkan teori yang digunakan dalam melakukan analisis temuan menggunakan Network Society Manuel Castells. Ditemukan hasil bahwa kesadaran aktivisme dilihat dari jumlah suka dan komentar, mobilisasi dilakukan secara online dengan hashtag, dan aksi tuntutan hukum. Isu lainnya terkait #savenoviawidyasari seperti #percumalaporpolisi dan sahkan RUU TPKS. Segala gerakan aktivisme digital yang menunjukkan ketidakbecusan polisi berujung dengan tagar #percumalaporpolisi.