Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ESTIMASI NILAI PAJAK EMISI KENDARAAN ANGKUTAN KOTA DI KOTA BOGOR Indah Risyani; Rizal Bahtiar
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 9 No 3 (2022): Desember
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v9i3.34830

Abstract

Kota Bogor merupakan kota penyangga Ibukota DKI Jakarta sehingga menyebabkan mobilitas masyarakat untuk bepergian sangat tinggi. Mobilitas masyarakat yang tinggi mengakibatkan kebutuhan akan transportasi semakin meningkat, sehingga tidak jarang menimbulkan kemacetan yang berdampak pada meningkatnya konsumsi bahan bakar dan meningkatnya jumlah emisi gas rumah kaca. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) mengestimasi jumlah emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh angkutan kota di Kota Bogor; 2) mengestimasi luas lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dibutuhkan untuk menyerap sisa emisi CO2 kendaraan yang dihasilkan oleh angkutan kota di Kota Bogor; 3) mengestimasi nilai pajak emisi gas CO2 yang dihasilkan oleh angkutan kota di Kota Bogor; 4) merumuskan implikasi kebijakan penerapan pajak emisi kendaraan untuk angkutan kota di Kota Bogor. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode TIER-1, analisis deskriptif kuantitatif, biaya penanganan emisi, dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan total emisi yang dihasilkan oleh angkot di Kota Bogor adalah sebesar 231.845 ton/tahun. Sisa emisi gas CO2 angkot yang tidak dapat terserap oleh RTH adalah sebesar 47.790 ton/tahun, sehingga dibutuhkan pembangunan RTH baru seluas 1.253 ha untuk menyerap sisa emisi yang dihasilkan oleh angkot. Berdasarkan hasil estimasi nilai pajak emisi bagi angkot adalah sebesar Rp29.412.916/unit/tahun dengan asumsi 1 atau Rp12.457.407/unit/tahun dengan asumsi 2. Implikasi kebijakan dari pajak emisi yaitu pengemudi angkot dapat melakukan internalisasi biaya eksternal dengan melakukan program konversi bahan bakar dari bahan bakar minyak menjadi bahan bakar gas.
ANALISIS PERAN SUBSIDI DALAM PENGELOLAAN AIR IRIGASI PADA DAERAH DATARAN RENDAH DI DESA PLUMBON KABUPATEN INDRAMAYU Dirwanto; Rizal Bahtiar
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2023): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v10i1.35375

Abstract

Kabupaten Indramayu memiliki sentral produksi padi sawah tertinggi di Jawa Barat, yaitu sebesar 1.291.983 ton pada tahun 2011-2015. Kondisi lahan sawah di Indramayu yang merupakan lahan dataran rendah mengharuskan sawah diairi oleh sistem irigasi buatan dengan sistem pembayaran iuran. Sistem tersebut menggunakan sistem bagi hasil panen sebesar 10% dari penerimaan usaha tani. Namun iuran tersebut dianggap terlalu mahal oleh petani sehingga banyak di antaranya yang memilih untuk tidak membayar iuran irigasi. Akibatnya, terjadi kekurangan pendanaan biaya operasional dan pemeliharaan irigasi. Tujuan umum penelitian ini adalah menentukan langkah-langkah yang dapat diterapkan untuk menutupi kekurangan pendanaan operasional dan pemeliharaan jaringan irigasi. Tujuan khusus penelitian ini, yaitu mengidentifikasi sistem iuran air irigasi, mengetahui faktor yang mempengaruhi iuran irigasi, dan menentukan strategi kebijakan dalam pengelolaan irigasi yang efektif. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif struktur biaya Mitra Cai, analisis logistik biner, dan metode Analytical Hierarcy Process (AHP). Hasil dari AHP kebijakan keputusan yang kompleks adalah mengoptimalkan penarikan iuran irigasi, melakukan transparansi penggunaan pendanaan Mitra Cai, dan membuat koperasi Mitra Cai. Implikasi kebijakan dari faktor utama kesejahteraan petani yaitu mengoptimalkan iuran irigasi dengan aturan tegas dan tertulis yang diresmikan dalam peraturan desa dan AD ART Mitra Cai.
BUDIDAYA POLIKULTUR UDANG VANAME DAN BANDENG DI LAHAN BEKAS TPI DI DESA LONTAR, KECAMATAN KEMIRI, KABUPATEN TANGERANG Rizal Bahtiar
Bekasi Development Innovation Journal Vol 1 No 1 (2022): Bekasi Development Innovation Journal
Publisher : Balitbangda Kabupaten Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan teknologi polikultur dalam budidaya ikan akan menghasilkan peningkatan keuntungan dan efisiensi usaha budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan memanfaatkan lahan bekas TPI Lontar untuk menjadi area budidaya ikan dengan sistem polikultur ikan bandeng dan udang Vaname. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) analisa kualitas air dan tanah di laboratorium, digunakan untuk menganalisa kelayakan teknis pengembangan teknologi budidaya polikultur bandeng dan udang Vaname, (2) analisa usaha budidaya perikanan untuk mengetahui nilai keuntungan, Revenue/Cost (R/C), dan sistem pemasaran. Berdasarkan hasil laboratorium pengujian air tambak menunjukkan terdapat beberapa parameter yang tidak sesuai untuk usaha budidaya ikan. Parameter tersebut adalah Total Dissolves Solids (TDS), Dissolved Oxygen (DO), Hidrogen Sulfida (H2S), Biological Oxygen Demand (BOD), dan Chemical Oxygen Demand (COD), sehingga dibutuhkan pengelolaan air. Pegukuran pH air sebesar 6,12 dan pH KCl sebesar 5,55 menandakan bahwa air dan tanah dalam kondisi asam, sehingga dibutuhkan pemupukan dengan menggunakan kapur sebanyak 2.000 kg/Ha. Hasil analisa usaha menunjukkan keuntungan usaha budidaya dengan teknologi polikultur sebesar Rp. 14.344.083/tahun. Nilai R/C (Revenue/Cost) dari usaha adalah sebesar 1,81. Pemasaran hasil budidaya ikan dengan cara pembeli (istilahnya “bakul”) membeli langsung ke lokasi para petambak. Sistem pembayaran dengan sistem tempo yaitu 1 minggu. Kesimpulan adalah usaha budidaya ikan membutuhkan kualitas air dan tanah yang baik. Sistem polikultur membuat usaha budidaya ikan jauh lebih efisien dari pengeluaran biaya dan meningkatkan pendapatan pembudidaya.
ESTIMASI KERUGIAN EKONOMI AKIBAT COVID-19 TERHADAP SEKTOR PERDAGANGAN DI KOTA PEKANBARU Rizal Bahtiar
Bekasi Development Innovation Journal Vol 1 No 1 (2022): Bekasi Development Innovation Journal
Publisher : Balitbangda Kabupaten Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memasuki pandemi COVID-19 pada tahun 2020, mengakibatkan sektor perdagangan terdampak. Pemerintah mengeluarkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) kemudian dilanjutkan dengan adaptasi kebiasaan baru (new normal). Akibat kebijakan tersebut unit usaha mengalami kerugian. Maka dari itu, tujuan dari penelitian ini: (1) menganalisis persepsi pelaku usaha terhadap COVID-19 serta kebijakan yang telah diberlakukan di Kota Pekanbaru, (2) mengestimasi besar kerugian pelaku usaha sandang, pangan, apotek, (3) menganalisis tingkat risiko usaha terhadap mal, swalayan, pasar, (4) menganalisis langkah strategi dalam pemulihan sektor perdagangan. Penelitian ini menggunakan skala likert, kehilangan pendapatan, penilaian risiko, dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pelaku usaha kebijakan PSBB berdampak terhadap perekonomian namun kasus COVID-19 tidak terlalu tinggi berbanding terbalik dengan new normal dan pelaku usaha setuju bahwa vaksin menjadi salah satu syarat beraktivitas agar kegiatan kembali normal. Total kerugian pada toko pakaian Rp.65.000.000.000, pedagang pasar mengalami kerugian Rp.10.000.000.000, apotek mengalami kenaikan Rp.12.000.000.000. Penilaian risiko dibagi menjadi 3 yaitu penilaian risiko terhadap mal, swalayan, pasar. Mitigasi yang dilakukan peningkatan protokol kesehatan, vaksin sebagai salah satu syarat kegiatan, serta mulai mengggunakan pedulilindungi agar pengunjung dapat terkontrol. Langkah dan strategi untuk meminimalisir kerugian adalah pengembangan marketplace web untuk mal, penyediaan sarana untuk UMKM melakukan promosi, dan serbuan vaksinasi.
Pelatihan Aquascape: Pemeliharaan Dan Perawatan Aquascape Untuk Penguatan Usaha Perajin Aquascape A Faroby Falatehan; YUSMAN; Sriwulan Ferindian Falatehan; Rizal Bahtiar
SULUH: Jurnal Abdimas Vol 6 No 1 (2024): SULUH: Jurnal Abdimas Agustus
Publisher : FEB-UP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/suluh.v6i1.6018

Abstract

This aquascape training is a training held by Lecturers Serving Innovation at the Bogor Agricultural Institute. This training is the second training from the Lecturer Serving Innovation at the Bogor Agricultural Institute which contains information about aquascape maintenance and maintenance. The aim of this training is to strengthen the position of aquascape craftsmen in their business. The training was attended by 15 people and was held at the Food Security and Fisheries Service Office. Participants were asked to participate in practicing caring for and maintaining aquascape. One of the benefits of this training is the gathering of aquascape craftsmen, so that after this training it is hoped that they will be able to create an institution to strengthen the position of aquascape craftsmen, especially in the local government in Cirebon Regency.
Alumni Perceptions On Aquascape Enterprise Training In Cirebon A Faroby Falatehan; Yusman Syaukat; Rizal Bahtiar
Jurnal Riset Bisnis Vol. 6 No. 2 (2023): April
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jrb.v6i2.4367

Abstract

The implementation of the Aquascape training is one of the activities of the IPB University's Dosen Pulang Kampung Program. This activity aims to enable ornamental fish cultivators to increase income through business diversification, namely making aquascapes. In order to know the impact of this activity, it is necessary to analyze the perceptions of the training alumni after the training activities took place. Based on the results of the Likert analysis, the training alumni highly agreed with this activity. The alumni stated that with this activity they would be able to increase their skills in making Aquascape, networks and income. The alumni of the training expected that the training will be held again with a longer time and more participants.
Ekonomi Sirkular dalam Pengelolaan Sampah Organik Menggunakan Lalat Tentara Hitam Rizal Bahtiar; Kamelia Kamelia
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 29 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.29.1.68

Abstract

The problem of organic waste can be solved by applying circular economy principles, namely in waste management using black soldier fly (BSF) maggots. These larvae can decompose organic waste into compost that can be used in agricultural activities. The results of adult larvae can be used as feed in livestock and fish because they contain high protein. The objectives of this study are (1) to identify the amount of organic waste absorption with BSF larval farming business, (2) to analyze the financial feasibility of cultivation in BSF Maggot Cultivation business units in Balaraja and in Tunas, (3) to analyze business efficiency in animal husbandry and fisheries through a circular economy system in the use of BSF larval feed. The research used descriptive-quantitative analysis, financial feasibility analysis, and business efficiency analysis. The results showed that the amount of waste absorption from larval farming business activities reached 430.7 tons/year, with the total land area needed for cultivation being 137,855 m2. The results of the business financial feasibility study show that the Tunas and Balaraja Units are feasible because they have met the eligibility criteria for NPV > 0, Net B/C > 1, IRR > interest rate, and PP > the life of the project. Business efficiency proves that fisheries and livestock business activities integrated into BSF larval cultivation are more efficient in spending on the cost of commercial feed used and provide higher profits in their businesses. Keywords: business efficiency, BSF, circular economy, financial feasibility, maggot black soldier fly, organic waste
Perbandingan Pendapatan dan Efisiensi Produksi Usaha Ternak Sapi Perah Terintegrasi dan Konvensional di Bogor: Analysis of Income and Production Efficiency of Integrated and Conventional Dairy Farming Businesses in Bogor Siti Anggi; Rizal Bahtiar; Fitria Dewi Raswatie
Indonesian Journal of Agricultural Resource and Environmental Economics Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/yspdae42

Abstract

Dairy farming plays a strategic role in supporting the national supply of fresh milk and improving farmers' welfare. However, the industry still faces several challenges, including suboptimal production efficiency, limited feed availability, and high operational costs. One approach to addressing these challenges is the implementation of an integrated dairy farming system, which integrates livestock production with resource utilization and waste management to improve production efficiency. This study was conducted on dairy farms implementing an integrated farming system in the Livestock Farming Area (KUNAK) of Pamijahan and Cibungbulang, as well as conventional dairy farms in Kebon Pedes Village. Differences in management practices between the integrated and conventional farming systems were presumed to affect milk production, farm income, and the efficiency of dairy farming. This study aimed to analyze the factors affecting milk production as well as to analyze farm income and the levels of technical, allocative, and economic efficiency in integrated and conventional dairy farming systems. The analytical methods included production factor analysis using Maximum Likelihood Estimation (MLE), income analysis using the Revenue-Cost (R/C) Ratio, and Stochastic Frontier Analysis (SFA) to measure technical, allocative, and economic efficiency. The results showed that forage, concentrate feed, tofu by-product, and labor had a positive and significant effect on milk production. Dairy farms implementing the integrated farming system generated higher income than those adopting the conventional system. Furthermore, both farming systems achieved technical and allocative efficiency (≥0.70). Economically, the integrated farming system achieved economic efficiency (≥0.70), whereas the conventional farming system had not yet achieved economic efficiency (<0.70). Usaha peternakan sapi perah memiliki peran strategis dalam mendukung produksi susu segar nasional dan peningkatan kesejahteraan peternak. Namun, usaha ini masih menghadapi kendala seperti efisiensi produksi yang belum optimal, ketersediaan pakan, dan tingginya biaya operasional. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penerapan sistem peternakan terintegrasi, yaitu sistem yang mengintegrasikan usaha ternak dengan pemanfaatan sumber daya dan pengelolaan limbah untuk meningkatkan efisiensi produksi. Penelitian ini dilakukan pada peternakan sapi perah dengan sistem terintegrasi di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Pamijahan dan Cibungbulang serta sistem konvensional di Kelurahan Kebon Pedes. Perbedaan sistem pengelolaan antara sistem terintegrasi dan sistem konvensional diduga memengaruhi produksi, pendapatan, dan efisiensi usaha ternak sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi susu serta menganalisis pendapatan dan tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi pada usaha ternak sapi perah dengan sistem terintegrasi dan konvensional. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis faktor produksi dengan menggunakan Maximum Likelihood Estimation (MLE), analisis pendapatan dengan menggunakan R/C ratio, serta Stochastic Frontier Analysis (SFA) untuk mengukur efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan hijauan, pakan konsentrat, pakan ampas tahu, dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi susu. Usaha ternak sapi perah dengan sistem terintegrasi menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional. Selain itu, kedua sistem telah efisien secara teknis dan alokatif (≥0,70). Secara ekonomi, sistem peternakan terintegrasi telah mencapai efisiensi ekonomi (≥0,70), sedangkan sistem konvensional masih belum efisien secara ekonomi (<0,70).