Bambang Yuniarto
a:1:{s:5:"en_US";s:38:"IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat";}

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Peran Humaniora Terhadap Tradisi Sedekah Laut Bambang Yuniarto; Arib Mubarok; Ali Ridho; Rozihi Rozihi; Nida Nadia
Jurnal sosial dan sains Vol. 2 No. 11 (2022): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3992.68 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v2i11.520

Abstract

Latar Belakang :. Ritual sedekah laut adalah salah satu ritual yang dilakukan satu kali dalam setahun oleh masyarakat nelayan di desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes yang merupakan bentuk budaya yang memberikan sedekah ke laut yang dilakukan masyarakat untuk menjaga kesimbangan lingkungan pesisir pantai serta melestarikan warisan nenek moyang. Tradisi ritual sedekah laut di desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes merupakan bagian dari tradisi yang juga dilakukan oleh masyarakat nelayan di sepanjang pesisir utara laut jawa. Tujuan : Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui terjadinya perubahan tradisi upacara sedekah laut masyarakat desa Prapag Kidul, kecamatan Losari, kabupaten Brebes. Metode : adapun metode yang akan digunakan adalah metode penelitian sejarah, karena penelitiannya berhubungan dengan kenyataan yang terjadi pada masa lampau. Hasil : Dalam konteks culture of histories, prilaku manusia yang membentuk budaya sudah ada sejak manusia itu berada dalam kandungan, dimana anak mencatat dari segala aktifitas yang dilakukan oleh orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai atau ajaran-ajaran Islam mulai dimasukkan dalam kegiatan upacara sedekah laut, sehingga nampak akulturasi yang kuat antara budaya asal, larung sajen: Jawa, dengan budaya baru, Islam. Kesimpulan: Peranan Tradisi Sedekah Laut di bidang sosial budaya sangat penting yaitu untuk memelihara budaya masyarakat sekitarnya, dengan terpeliharanya budaya masyarakat, maka dalam kehidupan sehari-hari masyarakat telah mematuhi norma-norma sosial budaya yang ada dalam masyarakat tersebut. Kaitannya dengan persfektif agama terdapat beberapa hukum ada yang membolehkan dan ada juga yang tidak membolehkan yang mana semua itu memiliki alas an masing-masing. Terlepas dari itu banyak dari kalangan masyarakat menilai bahwa tradisi sedekah laut boleh karena terdapat nilai-nilai positif yaitu berupa rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan lewat jalur laut.
Persepsi Masyarakat Terhadap Dukun Dalam Pandangan Islam Bambang Yuniarto; Dede Rosada Kolbi; Reni Marliani; Ta’ti Mamlakah
Jurnal sosial dan sains Vol. 2 No. 11 (2022): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v2i11.521

Abstract

Latar Belakang :. Sebagian manusia (masyarakat) yang menghadapi berbagai masalah yang sulit diselesaikan dan penyakit yang sulit disembuhkan secara medis, keinginan yang sulit untuk diraih dengan doa usaha, sehingga tumbuh rasa frustasi dan akhirnya mencari alternatif lain, diantaranya dunia mistik, sihir, paranormal, ahli spiritual dan perdukunan Tujuan : untuk mengamati bagaimana persepsi masyarakat terhadap dukun atau paranormal. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memaknai secara mendalam bagaimana persepsi masyarakat terhadap dukun dan bagaimana dalam pandangan Islam Hasil : Walaupun mereka mengetahui sihir, dukun dan tenung diharamkan agama, tapi nyatanya masih banyak muslim yang terlibat dalam praktik perdukunan dan ilmu ghaib, baik yang sifatnya penyembuh maupun penangkal yang sering dilakukan oleh paranormal, bahkan ada diantara mereka berkedok kyai, haji, guru atau yang khusus berprofesi sebagai dukun kampung. Kecenderungan sebagian masyarakat mempercayai kekuatan dan baroqah guru masih tinggi, keadaan ini sangat memprihatinkan, ditambah dengan munculnya promosi diberbagai iklan dan media masa yang menunjukkan kemampuan dan kehebatannya, sehingga masyarakat dengan mudah terpancing dan terjebak mempercayai ramalan-ramalan, penyembuhan penyakit, mengatasi masalah urusan kehidupan dan keadaan masa depan. Kesimpulan: Meskipun dalam Islam sudah dilarang akan tetapi masih ada masyarakat muslim yang percaya akan dukun dan ilmu sihir. Semua keyakinan tentang dunia perdukunan dan ilmu-ilmu ghaib dikembalikan lagi pada pribadi masing-masing, karna masyarakat yang percaya akan hal-hal sepereti itu juga memiliki sudut pandang tersendiri, begitu pula sebaliknya masyarakat yang tidak percaya akan hal-hal seperti itu juga memiliki sudut pandang tersendiri. Semuanya dikembalikan lagi pada perspektif masing-masing.
Pendidikan Pancasila Dalam Kurikulum Merdeka Bambang Yuniarto; Marwah lama’atushabakh; Maryanto Maryanto; Amar Habibi
Jurnal sosial dan sains Vol. 2 No. 11 (2022): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1289.11 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v2i11.522

Abstract

Latar Belakang : Di Indonesia, isu pendidikan menjadi isu sentral dan bahkan diamanatkan oleh konstitusi untuk menjadi priotitas utama dalam anggaran belanja negara. Semua komponen mempunyai andil yang penting, tidak terkecuali kurikulum yang mana dapat dikatakan penyangga utama dalam sebuah proses belajar mengajar. Beberapa pakar bahkan mengatakan bahwa kurikulum merupakan jantung bagi pendidikan, baik buruknya hasil pendidikan ditentukan oleh kurikulum, apakah mampu membangaun kesadaran kritis terhadap peserta didik ataukah tidak. Tujuan : untuk mengamati pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kehasan, kondisi, potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Metode : Jenis metode yang akan digunakan oleh penulis adalah studi Pustaka. Studi kepustakaan merupakan segala upaya yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan suatu data informasi yang relevan dengan topik atau permasalahan yang diangkat. Hasil : Kebijakan kampus merdeka, yang salah satu tataran praksisnya, difokuskan pada kegiatan akademik atau pembelajaran. Tentu perlu dianalisis dan dielaborasikan melalui pendekatan keilmuan Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga meminimalisir terjadinya ketimpangan antara cita-cita dan realitas. Dalam konteks pembelajaran pada kebijakan kampus merdeka, sesungguhnya lebih mengarah pada upaya memberikan peluang lebih, agar mahasiswa menguasai disiplin ilmu yang beragam. Tujuan pembelajaran Pendidikan Kewaganegaraan, pada era modern saat ini, perlu mengakomodir terbentuknya daya literasi digital, kreatifitas, inovasi, dan sifat kritis peserta didik. Kesimpulan: Perkembangan kurikulum PPKn di Indonesia berkembang secara dinamis ini pada prinsipnya disesuaikan dengan kebutuhan serta visi-misi dari pemerintah yang mempengaruhi dalam pembentukan kebijakan kurikulum pendidikan di Indonesia. Tetapi dalam pelaksanaannya terdapat kekuatan yang menjadi fondasi dalam pelaksanaan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, yaitu Pancasila, UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, politik, hukum, nilai, moral, kearifan lokal, dan kebhinekaan dalam berkebudayaan.