Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Persepsi Masyarakat Terhadap Dukun Dalam Pandangan Islam Bambang Yuniarto; Dede Rosada Kolbi; Reni Marliani; Ta’ti Mamlakah
Jurnal sosial dan sains Vol. 2 No. 11 (2022): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1495 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v2i11.521

Abstract

Latar Belakang :. Sebagian manusia (masyarakat) yang menghadapi berbagai masalah yang sulit diselesaikan dan penyakit yang sulit disembuhkan secara medis, keinginan yang sulit untuk diraih dengan doa usaha, sehingga tumbuh rasa frustasi dan akhirnya mencari alternatif lain, diantaranya dunia mistik, sihir, paranormal, ahli spiritual dan perdukunan Tujuan : untuk mengamati bagaimana persepsi masyarakat terhadap dukun atau paranormal. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memaknai secara mendalam bagaimana persepsi masyarakat terhadap dukun dan bagaimana dalam pandangan Islam Hasil : Walaupun mereka mengetahui sihir, dukun dan tenung diharamkan agama, tapi nyatanya masih banyak muslim yang terlibat dalam praktik perdukunan dan ilmu ghaib, baik yang sifatnya penyembuh maupun penangkal yang sering dilakukan oleh paranormal, bahkan ada diantara mereka berkedok kyai, haji, guru atau yang khusus berprofesi sebagai dukun kampung. Kecenderungan sebagian masyarakat mempercayai kekuatan dan baroqah guru masih tinggi, keadaan ini sangat memprihatinkan, ditambah dengan munculnya promosi diberbagai iklan dan media masa yang menunjukkan kemampuan dan kehebatannya, sehingga masyarakat dengan mudah terpancing dan terjebak mempercayai ramalan-ramalan, penyembuhan penyakit, mengatasi masalah urusan kehidupan dan keadaan masa depan. Kesimpulan: Meskipun dalam Islam sudah dilarang akan tetapi masih ada masyarakat muslim yang percaya akan dukun dan ilmu sihir. Semua keyakinan tentang dunia perdukunan dan ilmu-ilmu ghaib dikembalikan lagi pada pribadi masing-masing, karna masyarakat yang percaya akan hal-hal sepereti itu juga memiliki sudut pandang tersendiri, begitu pula sebaliknya masyarakat yang tidak percaya akan hal-hal seperti itu juga memiliki sudut pandang tersendiri. Semuanya dikembalikan lagi pada perspektif masing-masing.