Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pembentukan Karangtaruna Desa Waijarang Sebagai Main Power Pemberdayaan Pemuda Oleh Mahasiswa KKNT-PPM Unwira 2022 Lede Adju; Andriano G. Suban Yunior; Kornelius Laga Waleng; Yosefina Peni Bean; Agripina Alma Frida Paus; Ermilando Lobain; Leonardus Rivaldiy Ganggut; Maria Longa Pegan; Charles Bay Koda; Eko Rahaman Kadir; Chrisleman Adi Putra Amalo; Ulrikus Jeferius Naya; Frafilius Don Bosko Manu; Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia Vol 1 No 4 (2022): Agustus: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Gajah Putih, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55542/jppmi.v1i4.323

Abstract

Karangtaruna merupakan sebuah organisasi sosial yang menjadi kekuatan kaum muda di desa. Pembentukan karangtaruna desa oleh mahasiswa KKNT-PPM Unwira 2022 merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mengambil peran khusus dalam pemberdayaan pemuda desa. Tujuan pembentukan karangtaruna ini adalah bentuk partisipasi aktif dan kepedulian terhadap permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat desa. Kegiatan yang dilakukan di Kantor desa Waijarang Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata memberikan banyak manfaat. Manfaat kegiatan ini adalah pemuda secara lebih spesifik wajib menjadi penerus tanggungjawab kelompok sosial dengan bebas ruang berkreasi sehingga langkah-langkah dinamis yang dirumuskan maupun direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik. Selain itu pembentukan karangtaruna telah memberikan warna positif dalam membangun peran masing-masing pemuda dan pemudi dalam mempersiapkan momen kemerdekaan tahun ini
Konsep Amancalistung Sebagai Kontribusi Edukatif Mahasiswa KKN-T PPM Di Desa Laranwutun Ile Ape Karolus Renggo; Mario L. A. Wuwur; Sergio M. Gonsalves; Katharina B. Dey; Anastasia D. Gergoria; Nehwil M. Atamau; Roland R. Lutu Edo; Aloysius P. D Goran; Maria Y. Pehok Bataona; Maria Yuliana Inang; Dedi Yohanis Otu; Rudolfus W. Wongo; Rafael Ola Niha; Fesilitas B. W. Tobin; Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia Vol 1 No 4 (2022): Agustus: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Gajah Putih, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55542/jppmi.v1i4.324

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan Amancalistung yakni anak mantap membaca, menulis dan berhitung selama kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di kelas 1, 2 dan 3. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode Fun Learning. Metode pembelajaran ini merupakan metode dimana seorang guru dapat menciptakan suasana hangat dan menyenangkan apapun yang kita ajarkan akan mudah diterima dengan senang hati mudah di terima maka siswa/i akan mudah melakukan suatu perubahan. Dari hasil kegiatan tersebut, ditemukan bahwa seluruh peserta didik sangat senang dan sangat tertarik dengan konsep ini sehingga mereka benar benar terlibat aktif selama kegiatan itu berlangsung. Ada beberapa kendala masih ditemukan sebagian besar siswa belum bisa menulis dan membaca secara baik. Hasil pendampingan yang dilakukan selama 7 kali pertemuan telah banyak membantu peserta didik sehingga hampir 50% dari mereka telah bisa menulis dan membaca walaupun belum sempurna.
“KONSELOR SADAR BUDAYA” : STUDI TENTANG TEORI DAN IMPLIKASINYA Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 8, No 1 (2023): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - JANUARI-MARET 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2023.v8i1.47-54

Abstract

Konselor yang sadar budaya akan memandang klien atau konseli sebagai individu yang luar biasa. Hal ini bisa dibuktikan jika konselor memiliki kesadaran dalam menghargai perbedaan budaya dari kliennya sebagai kekuatan dalam mencapai keberhasilan kegiatan layanan. Karakteristik Konselor yang sadar budaya selalu berawal dari bagaimana memahami diri sendiri sebelum memahami pribadi klien dan sampai pada kesadaran untuk memahami kliennya secara utuh. Konselor sadar budaya merupakan salah satu prinsip yang menjadi kekuatan dalam pelaksanaan kegiatan  konseling. Dengan demikian konselor harus memiliki kesadaran akan perbedaan karakteristik baik itu budaya, pribadi, nilai dan moral sehingga akan mencapai suatu tingkat keefektifan dalam setiap perkembangan kegiatan layanan yang diberikan dan muncul sikap terbuka dan saling menghargai antara konselor dan kliennya. Sebagai bentuk Implementasi maka gambaran utuh pelaksanaan kegiatan layanan harus memperhatikan sisi kepribadian dan profesionalitas dari konselor.
The Influence of Multicultural Education on the Tolerance Attitudes of Eighth-Grade Junior High School Students Gracianus Edwin Tue P. Lejap; Yakobus Q. A. Beraheng
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 9 No 2 (2025): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33487/edumaspul.v9i2.9144

Abstract

This study aims to determine the effect of multicultural education on the tolerance attitudes of class VIII students at the UPTD of SMP Negeri 16 Kupang City in the 2024/2025 Academic Year. The research used a quantitative approach with a simple linear regression method. The population was 163 eighth-grade students, and the sample size was 42 students using proportionate stratified random sampling. The research instruments were a multicultural education questionnaire and a student tolerance attitude questionnaire, both of which were tested for validity and reliability. Data analysis was performed using SPSS version 27. The results of the study indicate a positive influence of multicultural education on students' tolerance attitudes with a significance value of 0.020 < 0.05. The coefficient of determination (R Square) value is 0.128, which means that multicultural education contributes 12.8% to students' tolerance attitudes, while 87.2% is influenced by other factors outside this study. The conclusion of this study is that multicultural education has an impact on increasing students' tolerance at SMP Negeri 16, Kupang City. Therefore, the school, subject teachers, and guidance and counseling teachers are expected to integrate multicultural values ​​into the learning process and counseling services, thereby creating an inclusive, harmonious, and respectful learning environment for differences.
The Effectiveness of the Integrated BBT Method (Read-Tiered-Structured) in Improving Reading Literacy among Elementary School Students: A Quasi-Experimental Study Gracianus Edwin Tue P. Lejap; Hildegardis Missa; Madar Alexius; Maria Aloisia Uron Leba
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.9073

Abstract

This study aims to evaluate the effectiveness of the Integrated BBT Method (Reading-Tiered-Structured) in improving elementary school students’ reading literacy. The research employed a quantitative, quasi-experimental one-group pre-test–post-test design involving 56 students from Grades I–VI at SD Inpres Bone, South Central Timor Regency, East Nusa Tenggara, using a saturated sampling technique. The intervention was implemented over four weeks in sequential stages: reading letters, words, sentences, and paragraphs. The research instrument consisted of a reading literacy test developed by the Ministry of Education, Culture, Research, and Technology (Kemdikbudristek), and data were analyzed using a paired-samples t-test. The results indicated a significant improvement in reading literacy, with a significance value (2-tailed) of 0.000 (< 0.05). The t-values across the five levels were -18.044, -37.293, -30.529, -15.152, and -13.550, respectively, with 55 degrees of freedom. The effect size values at the five levels were 3.151571, 6.721453, 5.412058, 2.563162, and 2.281976, respectively, with average post-test achievement exceeding 97% across all levels. The limitations of this study include the absence of a control group and the short duration of the intervention. Theoretically, these findings strengthen the effectiveness of a staged literacy approach, while practically, they provide an applicable model for reading instruction. This study recommends implementing the Integrated BBT Method to strengthen reading literacy policy in Indonesian elementary schools. Keywords: elementary school students, integrated BBT method, quasi-experimental study, reading literacy
Prosocial Behavior and Student Resilience in the Context of Pata Dela Culture: A Study of Senior High School Students in Ngada, Indonesia Stefanus Lio; Dhiu Margaretha; Enasely Mega Wenyi Rohi; Gracianus Edwin Tue P. Lejap; Carmelita Meno Gara
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.9052

Abstract

Resilience is an essential capability that needs to be developed in students to cope with academic and social pressures. Prosocial behavior is considered a factor that can potentially enhance students’ resilience through positive interpersonal interactions. This study aimed to analyze the effect of prosocial behavior on students’ resilience within the context of the Pata Dela culture. A quantitative approach with a survey design was employed. The study involved 119 students, selected using purposive sampling. The sample was limited to students from the Pata Dela cultural background, so the findings may not be widely generalizable. The instruments used included the Prosocial Behavior Scale (Caprara et al., 2005) and the Resilience Scale (Connor & Davidson, 2003). Data were analyzed using simple linear regression. The results indicated that prosocial behavior had a positive and significant effect on student resilience (B = 0.856; t = 7.887; p < 0.001), with a coefficient of determination (R²) of 0.347. This suggests that prosocial behavior accounted for 34.7% of students’ resilience, while the remaining 65.3% was influenced by other factors beyond this study. The findings highlight that the values of the Pata Dela culture serve as a social context that strengthens the relationship between prosocial behavior and resilience. This study contributes to understanding how integrating local cultural contexts, such as Pata Dela, can inform the relationship between prosocial behavior and student resilience, a relationship that has been rarely explored. Keywords: prosocial behavior, resilience, students, pata dela culture
FENOMENA ADAPTASI SOSIAL SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Yuli Ina Ose Mudamakin; Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 12 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i12.1339-1346

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses adaptasi sosial siswa kelas VII di SMP Negeri 16 Kupang, meliputi bentuk-bentuk adaptasi, faktor-faktor yang memengaruhi, serta hambatan yang muncul selama masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri dari 10 siswa kelas VII yang dipilih melalui teknik purposive sampling, serta guru BK dan wali kelas sebagai informan pendukung. Data dikumpulkan menggunakan wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi sosial siswa berlangsung secara bertahap. Pada awal semester, sebagian besar siswa masih pasif dan cenderung mengamati lingkungan baru. Memasuki bulan kedua, siswa mulai menunjukkan perkembangan, seperti berani berkomunikasi, aktif dalam kegiatan kelompok, dan membentuk pertemanan baru. Faktor pendukung utama dalam adaptasi adalah dukungan guru, lingkungan sekolah yang kondusif, serta teman sebaya yang inklusif. Namun demikian, hambatan juga ditemukan, berupa rasa tidak percaya diri, perbedaan latar belakang sosial, serta keberadaan kelompok pertemanan eksklusif yang menghambat interaksi siswa tertentu. Kesimpulannya, adaptasi sosial siswa kelas VII bersifat dinamis dan menunjukkan perkembangan positif seiring meningkatnya interaksi, dukungan guru, serta partisipasi dalam kegiatan sekolah. Upaya sekolah dalam menciptakan lingkungan inklusif terbukti berperan penting dalam memperlancar proses adaptasi.
DAMPAK PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP CYBERBULLYING DI KALANGAN PELAJAR SMP Yohana Y.N. Nahak; Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 12 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i12.1295-1301

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bentuk, pola, motif, serta dampak cyberbullying pada siswa SMP, serta mengidentifikasi upaya penanganan yang dilakukan sekolah. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan kualitatif di SMP Negeri 16 Kupang. Informan dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari siswa kelas VIII, guru BK, dan wali kelas. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi non-partisipan, serta analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cyberbullying muncul dalam bentuk penghinaan melalui pesan digital, penyebaran foto tanpa izin, pengucilan dalam grup, dan penggunaan akun palsu. Interaksi digital siswa sangat intens dan terkait erat dengan dinamika sosial di dunia nyata. Motif pelaku meliputi balas dendam, kebutuhan pengakuan kelompok, serta tindakan iseng yang berulang. Dampak terhadap korban mencakup kecemasan, penurunan motivasi belajar, menarik diri dari pergaulan, dan perubahan perilaku digital. Sekolah telah melakukan konseling, mediasi, dan pemanggilan orang tua, namun program literasi digital belum berjalan optimal. Kesimpulannya, cyberbullying merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi interaksi pertemanan dan penggunaan media digital, sehingga penanganannya memerlukan pendekatan komprehensif melibatkan sekolah, orang tua, dan siswa.
PERAN KONSELOR SEKOLAH DALAM MENANGANI PACARAN TIDAK SEHAT DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS PADA SISWA SMP Maria A. Date Tukan; Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 12 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i12.1264-1271

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana konselor sekolah menjalankan perannya dalam menangani perilaku pacaran tidak sehat di era digital pada siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di SMP Negeri 16 Kupang, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan penelaahan dokumen. Analisis dilakukan dengan model Miles Huberman yang mencakup proses reduksi data, penyajian informasi, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa bentuk perilaku pacaran tidak sehat yang paling sering muncul adalah kontrol berlebihan melalui media sosial, tuntutan berbagi kata sandi, pemantauan aktivitas digital, konflik yang terjadi di ruang daring, dan tekanan emosional. Dampak dari perilaku tersebut tampak pada ketidakstabilan emosi siswa, kecenderungan menarik diri dari pergaulan, serta menurunnya kehadiran dan motivasi belajar. Temuan lain menunjukkan bahwa pemahaman siswa mengenai hubungan yang sehat masih sangat terbatas. Dalam situasi ini, konselor sekolah memiliki peran kunci melalui program preventif berupa edukasi dan bimbingan klasikal, serta intervensi kuratif seperti asesmen, konseling individu dan kelompok, kunjungan rumah, hingga mediasi restoratif. Penelitian menyimpulkan bahwa intervensi konselor yang terencana dan berkesinambungan mampu meningkatkan pemahaman siswa tentang relasi yang sehat sekaligus menekan dampak negatif pacaran tidak sehat terhadap fungsi sosial dan prestasi akademik mereka
EKSPLORASI FAKTOR SOSIAL-PSIKOLOGIS DIBALIK PERILAKU MEMBOLOS: STUDI KASUS PADA SISWA DENGAN KEJADIAN BERULANG Yohanes B.I.G Soge; Gracianus Edwin Tue P. Lejap
Ristekdik : Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol 10, No 12 (2025): RISTEKDIK: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING - DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/ristekdik.2025.v10i12.1256-1263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam faktor-faktor yang memengaruhi perilaku membolos siswa di SMP Negeri 16 Kupang, dan menganalisis bagaimana dinamika sosial, psikologis, dan lingkungan sekolah berkontribusi terhadap munculnya dan terulangnya perilaku tersebut. Ruang lingkup penelitian meliputi identifikasi penyebab, pola perilaku, dan implikasi pendidikan dari fenomena membolos. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling, terdiri dari tujuh siswa dengan riwayat membolos berulang, tiga konselor bimbingan, dan informan pendukung seperti kepala sekolah, wali kelas, dan guru mata pelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil studi ini menunjukkan bahwa membolos tidak hanya dipicu oleh keputusan individu, tetapi juga respons terhadap tekanan teman sebaya, dinamika pertemanan, dan iklim kelas yang tidak mendukung. Faktor psikologis seperti kecemasan terhadap guru, kebosanan dalam belajar, tujuan belajar yang rendah, dan efikasi diri akademik berkontribusi terhadap perilaku menghindar. Lebih lanjut, kondisi keluarga dengan pengawasan yang rendah dan tuntutan pekerjaan rumah juga berkontribusi terhadap ketidakhadiran siswa. Kesimpulan studi ini menegaskan bahwa membolos merupakan fenomena multidimensi yang membutuhkan intervensi komprehensif. Upaya pencegahan perlu mengintegrasikan perbaikan iklim sekolah, penguatan hubungan guru-siswa, peningkatan kapasitas psikologis siswa, dan pemberian dukungan keluarga untuk mengurangi ketidakhadiran dan meningkatkan kesejahteraan akademik siswa secara berkelanjutan.