Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kajian Analisis Penerapan Teori Konstruktivis Melalui Pendekatan RME Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika I Nyoman Bagus Pramartha; Naswan Suharsono; Wayan Mudana
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v7i4.464

Abstract

Konstruktivisme adalah teori belajar yang mempersepsikan belajar sebagai proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman. Masalah sulitnya menerjemahkan teori pembelajaran ini ke dalam praktik belajar mengajar telah menjadi perdebatan di kalangan peneliti pendidikan. Menurut pandangan konstruktivis, belajar adalah proses pemecahan masalah dengan cara yang tepat. Pembinaan ini harus dilakukan oleh siswa sebagai pembelajar. Siswa harus terlibat aktif, berpikir aktif, menyusun dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Pendekatan konstruktivis menekankan bahwa peran utama dalam kegiatan pembelajaran adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mewujudkan pengalaman belajar siswa adalah realistic mathematics education (RME). Pendekatan pembelajaran RME dapat membantu siswa dalam mengingat materi pelajaran sebelumnya, dan melatih siswa dalam belajar menemukan konsep melalui eksperimen. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran RME mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa.
Kajian Analisis Penerapan Teori Konstruktivis Melalui Pendekatan RME Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika I Nyoman Bagus Pramartha; Naswan Suharsono; Wayan Mudana
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v7i4.464

Abstract

Konstruktivisme adalah teori belajar yang mempersepsikan belajar sebagai proses membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman. Masalah sulitnya menerjemahkan teori pembelajaran ini ke dalam praktik belajar mengajar telah menjadi perdebatan di kalangan peneliti pendidikan. Menurut pandangan konstruktivis, belajar adalah proses pemecahan masalah dengan cara yang tepat. Pembinaan ini harus dilakukan oleh siswa sebagai pembelajar. Siswa harus terlibat aktif, berpikir aktif, menyusun dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Pendekatan konstruktivis menekankan bahwa peran utama dalam kegiatan pembelajaran adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mewujudkan pengalaman belajar siswa adalah realistic mathematics education (RME). Pendekatan pembelajaran RME dapat membantu siswa dalam mengingat materi pelajaran sebelumnya, dan melatih siswa dalam belajar menemukan konsep melalui eksperimen. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pembelajaran RME mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa.
MEMBANGUN KESADARAN MULTIKULTURAL MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PENDIDIKAN INKLUSIF DI SEKOLAH Ni Luh Ika Windayani; Ni Wayan Risna Dewi; Bestari Laia; I Putu Sriartha; Wayan Mudana
Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jipcb.v11i2.2889

Abstract

Penelitian bertujuan mendalami konsep pendidikan multikultural dan menganalisis bagaimana implementasinya dapat memperkaya pengalaman belajar siswa serta membangun pemahaman yang lebih mendalam mengenai keragaman budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian teori. Dengan menganalisis hasil penelitian dan studi kasus yang relevan, kajian teori ini memberikan wawasan mengenai bagaimana model pendidikan multikultural dapat menjadi sarana efektif untuk mengubah pola pikir siswa, mendorong toleransi, dan membangun pemahaman yang lebih luas mengenai keberagaman budaya. Pendekatan pendidikan multikultural menekankan pentingnya mengintegrasikan elemen-elemen budaya yang beragam ke dalam kurikulum dan pengalaman belajar. Kajian teori ini menyelidiki berbagai model pendidikan multikultural yang telah diterapkan di berbagai sekolah, menyoroti keberhasilan dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaannya. Artikel ini juga mengeksplorasi dampak implementasi model pendidikan multikultural pada peningkatan kesadaran multikultural di kalangan siswa. Kesimpulannya, penelitian ini menyajikan kerangka konseptual mengenai implementasi model pendidikan multikultural sebagai upaya meningkatkan kesadaran multikultural di lingkungan sekolah. Diharapkan bahwa temuan ini dapat memberikan kontribusi positif bagi para pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan dalam mengembangkan strategi yang lebih inklusif dan berorientasi pada keberagaman budaya di dunia pendidikan.
Implementasi Pendidikan Multikultural Melalui Tradisi Perang Topat: Pembelajaran Toleransi dan Solidaritas Antaragama di Lombok Ida Bagus Alit Arta Wiguna; I Putu Sriartha; Wayan Mudana; I Made Pageh
Widya Sandhi Vol 17 No 1 (2026)
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53977/ws.v17i1.3463

Abstract

This article discusses the implementation of multicultural education in the tradition of the Topat War in Lombok, which involved Sasak Muslim and Balinese Hindu communities. The purpose of this study is to explore how the Topat War ritual functions as a means of teaching tolerance and interfaith solidarity in a multicultural society. The method used is a qualitative approach with interviews, participatory observation, and document analysis. The research findings show that the Topat Waris is not only a cultural ritual, but also a forum for multicultural education that strengthens interfaith relations through practices of cooperation and mutual respect. However, the application of these values to informal education is still limited. This article contributes by proposing a model of multicultural education based on local wisdom that can be applied in the formal education curriculum, connecting local traditions with social value-based education. The results of this study emphasize the importance of integrating multicultural education into the formal education system to create a more inclusive and harmonious society.
Rekonfigurasi Peran Gender dalam Keluarga Fatherless: Tanggung Jawab Ganda Ibu dalam Ekonomi, Pengambilan Keputusan, dan Pendidikan Anak dalam Perspektif Sosio-Antropologi Agustinasari Agustinasari; Ni Komang Dwi Eka Yuliati; I Putu Sriartha; Wayan Mudana; I Made Pageh
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 15 No. 4 (2025): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v15i4.3913

Abstract

Artikel ini menganalisis rekonfigurasi peran gender dalam keluarga fatherless dengan menyoroti tanggung jawab ganda ibu pada tiga ranah utama: penyediaan ekonomi, pengambilan keputusan, dan pendidikan anak, dalam perspektif sosiologi keluarga dan antropologi kekerabatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian literatur terhadap 9 artikel ilmiah yang dipilih melalui penelusuran sistematis di Google Scholar, dengan kriteria membahas keluarga tanpa ayah dan relasi gender pada ranah ekonomi, keputusan, dan pengasuhan dalam lima tahun terakhir. Analisis isi dan sintesis tematik menunjukkan bahwa absennya ayah mendorong ibu menggabungkan fungsi instrumental sebagai pencari nafkah dan fungsi ekspresif sebagai pengasuh utama, sementara keluarga besar berperan sebagai safety net dan pengasuh pengganti melalui dukungan ekonomi, pengawasan, dan pendidikan karakter anak. Pergeseran ini mengakibatkan ketidakseimbangan disiplin dan dukungan emosional di tingkat keluarga, tetapi sekaligus melahirkan pola keluarga yang lebih berpusat pada ibu serta mekanisme ekonomi moral kekerabatan yang menopang keberlangsungan rumah tangga. Kajian ini menegaskan bahwa keluarga fatherless tidak hanya memproduksi risiko, tetapi juga menunjukkan daya tahan melalui dukungan kekerabatan dan komunitas.
Integrasi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran Matematika: Tren, Praktik, dan Implikasinya terhadap Literasi Numerasi Abad ke-21 Sebuah Systematic Literature Review Dewi Sartika; Lisda Ramdhani; I Made Pageh; I Putu Sriartha; Wayan Mudana
SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah Vol. 5 No. 1 (2026): SENTRI : Jurnal Riset Ilmiah, Januari 2026
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/sentri.v5i1.5467

Abstract

This study aims to analyses the trends, practices, and implications of integrating multicultural education into mathematics learning to strengthen 21st-century numeracy literacy through a Systematic Literature Review (SLR) approach. Contemporary mathematics education faces global demands to deliver learning that not only emphasizes cognitive achievement but is also sensitive to cultural diversity, responsive to technological advancement, and relevant to modern life. Ethnomathematics, digital literacy, multiliteracies, and culturally responsive pedagogy have emerged as key components increasingly integrated into mathematics instruction to enhance creativity, critical thinking skills, numeracy literacy, and active student engagement. This review examined 23 articles published between 2018 and 2025 related to ethnomathematics, multicultural pedagogy, numeracy literacy, and educational technology. The findings indicate that integrating multicultural education significantly strengthens conceptual understanding, promotes higher-order thinking skills (HOTS), supports the development of students’ cultural identity, and increases motivation and learning engagement. Ethnomathematics has proven effective as a bridge connecting formal mathematical concepts with local cultural practices, while the use of technologies such as e-learning platforms, mobile modules, and digital media enables more contextual, adaptive, and inclusive learning environments. However, several gaps were identified in the existing literature. First, most studies remain fragmented, focusing separately on ethnomathematics or digital literacy without proposing a comprehensive integrative framework that systematically combines multicultural, numeracy, and technological dimensions within mathematics learning. Second, longitudinal studies examining the long-term impact of multicultural approaches on 21st-century numeracy literacy outcomes are still limited. Third, cross-cultural and cross-educational-level comparative research remains scarce, restricting the generalizability of findings across diverse contexts. Therefore, further research is needed to develop holistic conceptual and practical models that reinforce the strategic role of multicultural mathematics education in preparing numerate, inclusive, and globally adaptive generations.