Anindita SHM Kusuma
Mataram University

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Metakognitif dengan Pemahaman Konsep Mahasiswa Pada Pembelajaran Menggunakan Model Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) Anindita SHM Kusuma; Zulhan W Baskara
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 7 No. 4b (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v7i4b.882

Abstract

Metakognitif yang terbentuk dalam diri seseorang menjadi kemampuan bagi seseorang tersebut untuk mengevaluasi, mengakses pembelajaran dan memahami konsep dalam pembelajaran. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep mahasiswa PGSD pada pembelajaran menggunakan model pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP). Sampel di dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas 4B Sore Program Studi PGSD yang sedang menempuh matakuliah Metode Penelitian Kuantitatif. Keterampilan metakognitif diukur dengan rubrik keterampilan metakognitif terintegrasi dengan tes esai (achievement test) dan pemahaman konsep mahasiswa diukur menggunakan soal tes esai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep mahasiswa pada pembelajaran menggunakan model PBMP dengan nilai koefisien korelasi (r) adalah sebesar 0.864 (sangat tinggi). Arah hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep adalah hubungan positif. Nilai koefisien determinasi (r2) hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep adalah sebesar 0.746 atau 74.6%. Persamaan garis regresi hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep mahasiswa pada pembelajaran menggunakan model PBMP adalah .
Hubungan Metakognitif dengan Pemahaman Konsep Mahasiswa Pada Pembelajaran Menggunakan Model Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan (PBMP) Anindita SHM Kusuma; Zulhan W Baskara
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 7 No. 4b (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v7i4b.882

Abstract

Metakognitif yang terbentuk dalam diri seseorang menjadi kemampuan bagi seseorang tersebut untuk mengevaluasi, mengakses pembelajaran dan memahami konsep dalam pembelajaran. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep mahasiswa PGSD pada pembelajaran menggunakan model pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (PBMP). Sampel di dalam penelitian ini adalah mahasiswa kelas 4B Sore Program Studi PGSD yang sedang menempuh matakuliah Metode Penelitian Kuantitatif. Keterampilan metakognitif diukur dengan rubrik keterampilan metakognitif terintegrasi dengan tes esai (achievement test) dan pemahaman konsep mahasiswa diukur menggunakan soal tes esai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep mahasiswa pada pembelajaran menggunakan model PBMP dengan nilai koefisien korelasi (r) adalah sebesar 0.864 (sangat tinggi). Arah hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep adalah hubungan positif. Nilai koefisien determinasi (r2) hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep adalah sebesar 0.746 atau 74.6%. Persamaan garis regresi hubungan metakognitif dengan pemahaman konsep mahasiswa pada pembelajaran menggunakan model PBMP adalah .
Kecenderungan Gaya Belajar Siswa SMP dan SMA di Kota Mataram Baiq Sri Handayani; Tri Ayu Lestari; Eni Suyantri; Anindita SHM Kusuma
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 8 No. 4 (2023): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v8i4.3183

Abstract

Setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda sehingga dalam menerima, mengolah dan mengingat informasi yang diperoleh juga berbeda-beda. Proses penyerapan informasi oleh individu/peserta didik menurut tingkatannya terdiri dari cepat, sedang, dan lambat. Setiap peserta didik sering kali harus menempuh cara yang berbeda-beda agar informasi dapat diterima dengan baik dan masuk ke dalam ingatan dalam jangka yang panjang. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa SMP dan SMA di kota mataram dan sampelnya terdiri dari SMP (SMP 6, SMP 13, SMP 12, SMP 8, SMP12, SMP 3, SMP 18), dan SMA (SMA 5, SMA 6, SMA 4, SMA 10, SMA 3). Instrumen penelitian dalam bentuk kuisioner digunakan untuk mengukur gaya belajar visual, auditori, kinestetik, gaya belajar, dan audio visual siswa. Kuisioner gaya belajar pada penelitian ini berisikan 20 pertanyaan dengan empat alternatif jawaban. Berikut pedoman kunci jawaban kuisioner gaya belajar siswa. Hasil penelitian ini diperoleh kecenderungan gaya belajar siswa SMP tertinggi pada gaya belajar audio visual yaitu sebesar 48,33% dan terendah gaya belajar kinestetik sebesar 2.36 %. Pada siswa SMA juga menunjukkan hasil yang sama didominansi oleh gaya belajar audio visual sebasar sebesar 51.52% dan terendah yaitu gaya belajar kinestetik sebesar 3.37%.
The Ethnobiology of Merarik Kodeq in Lombok Anindita SHM Kusuma; Hestiani Putri; Luh Putu Sasmita Sridewi Putri; I Wayan Aditya Arya Murthi; Laelatun Hadawiyah; Zainul Arofah
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 2 (2025): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i2.3587

Abstract

The tradition of Merarik Kodeq, or early marriage, remains a serious issue for the Sasak community in West Nusa Tenggara. The aim of this study is to explore the ethnobiological perspective on the Merarik Kodeq culture in West Lombok and to identify the efforts made by the local government of West Lombok Regency to curb the growing prevalence of Merarik Kodeq. This study uses a descriptive qualitative method. Informants were selected using purposive sampling based on specific criteria, namely couples who married at an early age. The results show that the average age of early marriage in Sekotong Barat Village is 16–17 years. At this age, reproductive organs are still in the developmental stage, especially the female reproductive system, which functions as the place for fetal development. Therefore, pregnancies occurring at this age pose a high risk of miscarriage, birth defects, and even maternal and infant mortality. In response to the increasing rate of Merarik Kodeq or early marriage, the local government initiated a movement known as the Anti-Merarik Kodeq Movement.