Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemikiran Ibn Āsyūr Tentang Qawai’d Al-Maqāṣid Al-Lughawiyah Serta Implikasinya Dalam Menafsirkan Al-Qur’an Fatmah Taufik Hidayat
An-Nida' Vol 45, No 1 (2021): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i1.19275

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemikiran Ibn ‘Asyur tentang al-Qawaid al-Maqasidi al-Lughawiyah serta impilkasinya dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tafsir maqasidi sebagai salah satu corak tafsir yang berupaya mengungkap makna-makna Al-Qur’an dengan nuansa maqasid syariah. Penelitian ini terfokus pada ragam maqasid yang membahas tentang al qawaid al-lughwiyah almaqasidi dalam menafsirkan Al-Qur'a. Rumusan masalah dari artikel ini adalah bagaimana struktur dasar Maqāsid Muhammad aṭ-Ṭāhir Bin Āsyūr dalam tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, dan bagaimana implikasi bahasa Al-Qur’an dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an sesuai Maqāsid terutama dalam merespon isu-isu kontemporer. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi qawaid almaqasid yang telah diterapkan Ibn. Āsyūr dalam tafsirnya, dan menguraikan implikasi teoretis yang berkaitan dengan qawaid al maqāsid fi nash Al-Qur’an dalam penafsiran ayat dan surat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini  adalah studi kepustakaan deskriptif (library research) berdasarkan pada beberapa buku dan jurnal yang mengkaji tentang tafsir maqasidi Ibn Asyur dengan melakukan istiqra' (induksi) Qaidah al-Lughawiya lilmaqasid dalam tafsir tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa langkah dan cara Ibn Asyur menginterpretasi maqashidi dalam ayat Al-Quran, dengan cara menyesuaikan kepada nash al-Quran dari segi aspek bahasa, bahwa al Qawaid al lughawiyah al maqasidiyah sebagai sebuah metode, tafsir maqasidi, mengharuskan adanya rekonstruksi penafsiran Al-Qur’an yang berbasis kepada Nash alqur’an.  Berkaitan dengan qawaid ushuliyah shari‘ah sebagai alat analisis dalam suatu prosedur yang digunakan untuk memahami Al-Qur’an, sehingga menghasilkan produk yang menitik-beratkan kajiannya pada nilai-nilai maqāsid ayat yang ditafsirkannya.
Marahil Zuhur At-tafasir lil Al-Qur’an Al-Karim Fi Indonesia: Dirasah Tarikhiyah Nazhariyah Jon Pamil; Syahrul Rahman; Fatmah Taufik Hidayat
WARAQAT : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 1 (2024): Waraqat: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam As-Sunnah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51590/waraqat.v9i1.713

Abstract

تتناول الدراسة حول مرجعية ظهور تفاسير القران الكريم بإندونيسيا ومعالمها التاريخية النظرية من بداية اهتمام العلماء الإندونيسيين بتفسير القران وعلومه الى تنوع إتجاهات التفسير في العصر الحاضر، وما سيطرحه هذا البحث مناقشة موضوعين رئيسيين هما: أولا تتعلق بتدريس التفسير في إندونيسيا، والثاني متعلق بوظيفة التفسير في إندونيسيا. وتلك الموضوعين الأساسيين وضع لهما مراحل تطور فيها التفسير. ويصف الباحث في هذا المقال حول كيفية مرحلة تدوين وكتابة التفسير في بلد أندونيسيا، بحيث بدأ ما قبل الاستقلال، وحال التفسير ما بعد الاستقلال، وفي عصرنا المعاصر. ففي المرحلة الأولى: يبدأ من القرن السادس عشر إلى القرن الثامن عشر. المرحلة الثانية يبدأ من القرن الثامن عشر إلى القرن العشرين، والفترة الثالثة من القرن العشرين إلى الوقت الحاضر. تعد كتابة التفسير الإندونيسي فريدة من نوعها ومحل اهتمام للدراسة، نظرًا لوجود عدد من العناصر التي يمكن استخدامها كمواد للدراسة؛ بدءاً من هوية المؤلف، واللغة المستخدمة، والأسلوب والطريقة المستخدمة، والنسب العلمي لكتاب التفسير. ونتيجة الدراسة من هذا البحث تؤكد أن مؤلفي التفسير الإندونيسي لديهم خلفيات اجتماعية مختلفة؛ الأكاديميين والعلماء والبيروقراطيين. تتم كتابة كتب التفسير باستخدام اللغات العربية والماليزية والإندونيسية والمحلية.
Konsep Muamalah dalam Perdagangan Emas dan Mata Uang Digital di Era Modernisasi Aulia Latiffah R; Arini Fitriah; Fatmah Taufik Hidayat
Jurnal Inovasi Global Vol. 2 No. 12 (2024): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v2i12.244

Abstract

Perkembangan teknologi dan globalisasi telah mengubah sistem perdagangan secara signifikan, termasuk dalam transaksi emas dan mata uang digital. Dalam Islam, konsep muamalah menjadi landasan penting untuk memastikan setiap transaksi berjalan sesuai prinsip syariah, seperti keadilan, transparansi, dan bebas dari riba maupun gharar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan fiqih muamalah dalam perdagangan emas dan mata uang digital di era modernisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan data dari berbagai literatur, jurnal, dan fatwa ulama kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdagangan emas memerlukan ketentuan yang jelas mengenai takaran, pembayaran tunai, dan transparansi dalam transaksi. Sementara itu, mata uang digital menghadapi tantangan karena volatilitas harga dan ketidakpastian hukum. Fatwa ulama mengenai cryptocurrency beragam, tetapi sebagian besar menekankan pentingnya kehati-hatian dan pemenuhan prinsip syariah dalam penggunaannya. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa meskipun terdapat tantangan dalam penerapan fiqih muamalah di era digital, dengan pemahaman yang mendalam dan kebijakan yang tepat, perdagangan emas dan mata uang digital dapat berjalan sesuai syariah.
CRYPTOCURRENCY DALAM KAJIAN FIQIH MUAMALAH Siti Ramadhani; Rahmayani; Muhammad Radit Fazilah; Fatmah Taufik Hidayat
AT-TAKLIM: Jurnal Pendidikan Multidisiplin Vol. 3 No. 6 (2026): At-Taklim: Jurnal Pendidikan Multidisiplin (Juni 2026)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/at-taklim.v3i6.2150

Abstract

The development of digital technology has given rise to cryptocurrencies, or crypto assets, as a new form of asset in the modern financial world. From the perspective of Islamic jurisprudence (fiqh muamalah), crypto continues to exist because it offers benefits, but it also carries elements of uncertainty, speculation, and a high risk of loss. Some scholars believe that crypto should not be used as a medium of exchange because it does not meet the requirements of a clear and stable currency. However, as an asset or commodity, crypto can be viewed more flexibly as long as it does not contain elements of usury, gharar, and maysir. Therefore, the assessment of crypto in Islamic jurisprudence (fiqh muamalah) requires considering the intended use, level of benefit, clarity of object, and compliance with Sharia principles. Therefore, crypto is viewed not only from a technological perspective but also from the perspective of fairness, benefit, and protection for transacting parties. 
Gradasi Hujjiyyah Riwayat Asbabun Nuzul Sahabat: Kriteria Pembeda Samʿi dan Raʾyu serta Konsekuensinya dalam Pengambilan Hukum Islam M. Fahrurrozi; M. Zaki Juliansyah; M. Fadhly Ihdinar; Ali Akbar; Fatmah Taufik Hidayat
Lathaif: Literasi Tafsir, Hadis dan Filologi Vol. 5 No. 1 (2026): Lathaif: Literasi Tafsir, Hadis dan Filologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/lathaif.v5i1.16866

Abstract

The Companions of the Prophet (Sahabah) are the primary transmitters of asbab al-nuzul (occasions of Qur'anic revelation), whose direct proximity to revelatory events grants their accounts a unique epistemic privilege. However, not every Companion account constitutes a firsthand historical report (samʿi); some reflect the Companion's own interpretive assessment (raʿy) of how a verse applies to a given situation. This distinction carries profound consequences for Usul al-Fiqh: a samʿi-based account attains the status of al-marfuʿ al-hukmi and functions as authoritative bayan tasyriʿi, while a raʿy based account remains a respected but non binding scholarly opinion. This qualitative library study proposes four verifiable criteria for distinguishing between them: explicit narrative formula, biographical confirmation of the narrator, corroboration by parallel reports, and internal coherence with the verse content. Three case studies demonstrate how this distinction directly affects the normative weight of Companion legal opinions. The conclusion is that a careful, graduated reading of Companion asbab al-nuzul accounts neither blanket acceptance nor blanket skepticism is both methodologically sound and practically necessary for responsible Qur'anic interpretation and legal derivation.