Ini adalah studi: tentang teori ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh 'Ain al-Quḍāh Hamadānī (1098-1131), seorang hakim yang sekaigus juga seorang sufī. Pada usia tigapuluh tiga tahun dia dihukum mati karena dituduh mempunyai tendensi lsmaili seperti al-HḤallaj (w.992) dan dituduh bisa mencapai keadaan Nabi seperti Suhrawardī (w.1191).'Ain al-Quḍāh merasah tidak memperoleh kepuasan dalam mencari ilmu, dalam hal ini adalah ilmu Kalam. Dia akhinva merasa diselamatkan dari kekafiran, kesalahan, kebingungan dan kebutaan dengan membacakarya-karya Imam al-Ghazāli (W.1111). Menurut pendapat 'Ain al-Qaḍāh, Tuhan itu maha tahu segalah hal baik hal-hal yang besar Maupun hal-hal yang.sangat kecil. 'Ain all-Qaḍāh Mendasarkan pendapatnya pada avat 2:115 yang berbunyi, ke manapun kamu Menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah itu maha luas lagi maha mengetahui. Ayat ini, menurut dia, menunjukkan bahwa ke mana saja manusia menghadap, dia melihat bahwa wajah Allah ada di sana. Ini adalah Merupakan indikasi yang lembut namun jelas bahwa setiap benda yang ada itu mempunyai hubungan tertentu dengan wajah Tuhan, atau dengan kata lain berada dalam pandangan Tuhan. Logika kebaiikannya adalah bahwa segala sesuaru yang di luar pengetahuan Tuhan berarti tidak ada, atau merupakan hal yang tidak ada. iebih lanjut, 'Ain al-Qaḍāh mengutip ayatT:7 yang berbunyi, "Sungguh Kami akan menceritakan kepada mereka dengan ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Kami tidak akan absen." Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu itu berada dalam pengetahuan Tuhan dan Dia selalu hadir bersama dengan segala sesuatu. Tidak ada satu hal pun yang bisa menghindar dari pengetahuan Tuhan. Karena alasan inilah, ‘Ain al-Qaḍāh lebih jauh mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan itu sesuatu yang banyak (at-kathīr) dan merupakan keseluruhan atau totalitas dari benda-benda (al-kull). Segala sesuatu selain Tuhan adalah hal-hal kecil, merupakan bagian dan khusus. ‘Ain al-Qaḍāh mengakui bahwa penielasannya di atas itu sangat tidak jelas (ambiguous). untuk memperjelas pemikirannya dia menggunakan permisalan matahari. Dia mengatakan bahwa memang betul matahari itu satu. Namun cahaya yang memancar dari matahari itu adalah banyak, tetapi Ketika dia berkesimpulan bahwa matahari itu banyak dan masing-masing sinar itu satu, maka hal ini menunjukkan bahwa dia melihat matahari matahari itu merupakan akumulasi dari sinar, suatu keseluruhan yang meliputi semua sinar, sedang sinar-sinar itu adalah perwujudan kolektif dari matahari. Sebagai kesimpulan dari kemahatahuaan Tuhan, maka sangatlah tidak mungkin intelek manusia itu bisa mengetahui ilmu Tuhan. Intelek manusia itu hanya suatu bagian kecil dari wujud yang ada di alam ini. Oleh karena itu, maka intelek yang merupakan bagian kecil dari wujud alam semesta ini tidak bisa mengetahui ilmu Tuhan yang merupakan keseluruhan dari wujud apa saja yang ada.Dalam soal Ilmu Pengetahuan manusia. ‘Ain al-Qaḍāh mengemukakan suatu pola pemikiran yang mempunyai dua struktur, pertama wilayah akal, dan yang kedua wilayah diluar akal. Yang dimaksud dengan wilayah akal adalah wilayah pengalaman empirik yang berdasarkan pada pengindraan dan interpretasi rasional. Sedangkan yang dimaksud dengan wilayah di Iuar akal adalah wilayah mereka yang telah mencapai batas paling akhir dari wilayah akal kemudian ada cahava yang memancarkan dalam hatinya. Dalam kaitan ilmu manusia, dibahas juga perbedaan antara ilmu dan ma'rifah dan perbedaan begaimana seorang ‘ālim dan seorang ‘ārif memandang suatu persoalan atau suatu hal. Terakhir dalam tulisan ini adalah penelusuran seeara ringkas mengenai keorisinalan pemikiran 'Ain al-Quḍāh dalam soal ini.