M. Yusron Asrofie
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Sūfī Theory of Knowledge: A Study of ‘Ain Al-Quḍah’s Zubdat al-Ḥaqā’iq M. Yusron Asrofie
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.121-135

Abstract

Ini adalah studi: tentang teori ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh 'Ain al-Quḍāh Hamadānī (1098-1131), seorang hakim yang sekaigus juga seorang sufī. Pada usia tigapuluh tiga tahun dia dihukum mati karena dituduh mempunyai tendensi lsmaili seperti al-HḤallaj (w.992) dan dituduh bisa mencapai keadaan Nabi seperti Suhrawardī (w.1191).'Ain al-Quḍāh merasah tidak memperoleh kepuasan dalam mencari ilmu, dalam hal ini adalah ilmu Kalam. Dia akhinva merasa diselamatkan dari kekafiran, kesalahan, kebingungan dan kebutaan dengan membacakarya-karya Imam al-Ghazāli (W.1111). Menurut  pendapat 'Ain al-Qaḍāh, Tuhan itu maha tahu segalah hal baik hal-hal yang besar Maupun hal-hal yang.sangat kecil. 'Ain all-Qaḍāh Mendasarkan pendapatnya pada avat 2:115 yang berbunyi, ke manapun kamu Menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah itu maha luas lagi maha mengetahui. Ayat ini, menurut dia, menunjukkan bahwa ke mana saja manusia menghadap, dia melihat bahwa wajah Allah ada di sana. Ini adalah Merupakan indikasi yang lembut namun jelas bahwa setiap benda yang ada itu mempunyai hubungan tertentu dengan wajah Tuhan, atau dengan kata lain berada dalam pandangan Tuhan. Logika kebaiikannya adalah bahwa segala sesuaru yang di luar pengetahuan Tuhan berarti tidak ada, atau merupakan hal yang tidak ada. iebih lanjut, 'Ain al-Qaḍāh mengutip ayatT:7 yang berbunyi, "Sungguh Kami akan menceritakan kepada mereka dengan ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Kami tidak akan absen." Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu itu berada dalam pengetahuan Tuhan dan Dia selalu hadir bersama dengan segala sesuatu. Tidak ada satu hal pun yang bisa menghindar dari pengetahuan Tuhan. Karena alasan inilah, ‘Ain al-Qaḍāh lebih jauh mengatakan bahwa sebenarnya Tuhan itu sesuatu yang banyak (at-kathīr) dan merupakan keseluruhan atau totalitas dari benda-benda (al-kull). Segala sesuatu selain Tuhan adalah hal-hal kecil, merupakan bagian dan khusus. ‘Ain al-Qaḍāh mengakui bahwa penielasannya di atas itu sangat tidak jelas (ambiguous). untuk memperjelas pemikirannya dia menggunakan permisalan matahari. Dia mengatakan bahwa memang betul matahari itu satu. Namun cahaya yang memancar dari matahari itu adalah banyak, tetapi Ketika dia berkesimpulan bahwa matahari itu banyak dan masing-masing sinar itu satu, maka hal ini menunjukkan bahwa dia melihat matahari matahari itu merupakan akumulasi dari sinar, suatu keseluruhan yang meliputi semua sinar, sedang sinar-sinar itu adalah perwujudan kolektif dari matahari. Sebagai kesimpulan dari kemahatahuaan Tuhan, maka sangatlah tidak mungkin intelek manusia itu bisa mengetahui ilmu Tuhan. Intelek manusia itu hanya suatu bagian kecil dari wujud yang ada di alam ini. Oleh karena itu, maka intelek yang merupakan bagian kecil dari wujud alam semesta ini tidak bisa mengetahui ilmu Tuhan yang merupakan keseluruhan dari wujud apa saja yang ada.Dalam soal Ilmu Pengetahuan manusia. ‘Ain al-Qaḍāh mengemukakan suatu pola pemikiran yang mempunyai dua struktur, pertama wilayah akal, dan yang kedua wilayah diluar akal. Yang dimaksud dengan wilayah akal adalah wilayah pengalaman empirik yang berdasarkan pada pengindraan dan interpretasi rasional. Sedangkan yang dimaksud dengan wilayah di Iuar akal adalah wilayah mereka yang telah mencapai batas paling akhir dari wilayah akal kemudian ada cahava yang memancarkan dalam hatinya. Dalam kaitan ilmu manusia, dibahas juga perbedaan antara ilmu dan ma'rifah dan perbedaan begaimana seorang ‘ālim dan seorang ‘ārif memandang suatu persoalan atau suatu hal. Terakhir dalam tulisan ini adalah penelusuran seeara ringkas mengenai keorisinalan pemikiran 'Ain al-Quḍāh dalam soal ini.  
Agama dan Kebudayaan dalam Pembangunan Nasional: Persepektif Seorang Muslim M. Yusron Asrofie
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.052.127-132

Abstract

Agama dan kebudayaan merupakan dua substansi yang berlainan, tetapi dalam perwujudannya bisa saling bertaut, saling mempengaruhi, saling isi mengisi dan saling mewarnai perilaku seseorang. Agama merupakan suatu nilai normatif yang ideal, sedangkan kebudayaan merupakan suatu hasil budi daya manusia yang bisa bersumber atau berdasar dari agama atau dari akal pikirannya sendiri. Agama berbicara mengenai ajaran yang ideal, sedangkan kebudayaan merupakan realitas dari kehidupan manusia dan lingkungannya. Di dalam sejarah, agama selalu ditantang oleh kemajuan peradaban manusia: nilai dan cita ideal agama tidak selalu berjalan sejajar dengan nilai dan cita ideal serta realitas budaya yang ada. Agama (terutama dari sisi penghayatan pemeluknya) sering dikritik dan dituduh anti kemajuan karena menghalangi manusia dari dinamika dan merubah nasibnya menjadi lebih baik di dunia ini dengan mengajarkan pada manusia impian-impian khayal tentang dunia yang lain (akhirat). Agama menyandarkan diri pada ajaran-ajaran moral yang tidak praktis dan efektif. Sementara itu, kebudayaan modem membangun dunia berdasar motif­motif manusia yang nyata. Bagi kaum agama, pembangunan dan kemajuan dunia modern yang menekankan segi material hanya memperkuat motif-motif keserakahan, kecemburuan sosial, ingin menguasai sendiri, dan motif-motif yang sangat mendahulukan kepentingan pribadi (individualistik). Semua itu menghalangi kemungkinan pemenuhan kebutuhan rohani. Lebih-Iebih lagi, penekanan aspek hubungan manusia dengan alam dalam rangka kemajuan dan pembangunan cenderung untuk tidak memanusiakan manusia, artinya tidak manusiawi, karena manusia Iainnya dianggap sebagai fenomena sekunder. Akibatnya, kehidupan masyarakat tidak harmonis. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang berdasar aspirasi rohani bersama, saling mencintai dan sating mengasihi. Di sinilah agama berfungsi sebagai kritik sosial terhadap budaya sebagian manusia di dunia ini yang cenderung serakah, menumpuk harta dengan membiarkan orang lain kelaparan, mementingkan diri sendiri, mewah, boros dan ingin menguasai sendiri.