M. Amin Abdullah
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Konsepsi Etika Ghazali dan Immanuel Kant (Kajian Kritis Konsepsi Etika Mistik dan Rasional) M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 45 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.045.1-19

Abstract

Meskipun para filsuf Muslim aliran iluminis (isyraqy) sekarang ini mulai meragukan kebenaran tesa yang menyatakan bahwa perkembangan kajian filsafat dalam dunia Muslim telah mengalami kemandegan sejak meninggalnya Ibn Rusdh (l126-1198), Namun bagi kita di Indonesia dan dunia Muslim pada umumnya masih bertanya-tanya apa sebenarnya wujud perkembangan pemikiran konseptual-filosofis selain yang bercorak iluminis yang telah dikembangkan oleh filsuf Muslim dalam Bahasa Persia atau Urdu selama 7 abad sepeninggal Ibn Rusdh. Munculnya pertanyaan tersebut wajar-wajar saja, karena memang masih sedikit sekali informasi yang sampai ke tangan kita tentang wujud perkembangan dimaksud. Nama-nama filsuf-filsuf seperti Nasir al-Din Tusi (1201-1274), Jalal al-Din Dawwani (1427-1502), al-Suhrawardi (l153-119l), Mulla Sadra (1571-1640) nyaris belum terdengar buah karya dan pikirannya di kalangan kita. Bagi kita di dunia Timur, dan Indonesia khususnya, cuma pemikiran Ghazali lah yang sangat mewarnai 'cara pandang' kita. Ketidak jelasan wujud dan bentuk perkembangan kajian filsafat di dunia Muslim sepeninggal Ibn Rusdh, bukan saja karena faktor langkanya informasi kepustakaan yang sampai kepada kita, tapi besar kemungkinan karena memang pemikiran Asy'ari, yang dalam hal ini adalah cara berpikir ala Ghazali lah yang lebih dominan di dunia Muslim dari pada cara berpikir para filsuf Muslim yang lain yang manapun. Begitu dominannya cara berpikir model Ghazali, sehingga seluruh aliran teologi ortodok, baik yang konservatif maupun yang'modem' dirasakan atau tidak selalu berkiblat kepada Ghazali. Baik aliran-aliran pemikiran skriptualis/textualis, mistik, bahkan yang agak berbau rasional sekalipun cenderung memiliki wama cara berpikir yang tipikal Ghazali.
The Problem of Religion in Ibn Sinā’s Philosophy M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.155-171

Abstract

lbnu Sina sampai saat ini masih dianggap sebagai failusuf muslim yang kontroversial ia merupakan salah seorang failusuf muslim yang telah banyak menggoreskan penahnya di bidang logika, metafisika, psikologi, agama, kedokteran, dan Ilmu alam.pendekatannya terhadap agama melalui teori emansipasinya telah mengundang berbagai kritik dan komentar. Kemampuan imajinatif nabi, makna simbolik doktrin-doktrin keagamaan, pemaknaan mistik serta hukum kausalitas psikologis merupakan sumber kekontroversialan pemikiran ibnu sina berawal dari usahanya untuk merekonstruksi hubungan yang harmonis antara risalat dan agama, akhirnya para kritikus menempatkannya pada posisi pihak yang sulit antara ortodoksi dan heterodoksi. Penilaiaan tak berdasar tersebut  agaknya semata-mata disebabkan adanya kesalahpahaman terhadap filsafat ibnu sina yang pada kenyataannya berusaha menggabungkan unsur aql dan naql dalam keutuhan diskursus. Kefilsafatannya itu terlibat pada usahanya dalam menjelaskan persoalan kenabian yang menurut pengamatannya tidak begituberbeda dengan failusuf dan mistik kecuali kemampuan imajinatif yang dimiki oleh para nabi. Kemampuan imajinatif nabi tentunya lebih tinggi untuk memahami kemampuan imajinatif tersebut, masalah simbolisasi menjadi penting untuk dibahas. Menurut Ibn sina, kemampuan imajinatif para nabi didukung oleh kekuatan intelektual dan spiritual di samping adanya kenyataan bahwa dalam kenabian terdapat aspek simbolik. Selain itu, Ibnu Sina ielas terpengaruh oleh ide-ide Platonis Melalui teologi Aristoteles, Ketika Ibnu Sina cenderung tidak Mengakui adanya kebangkitan kembali badan yang sudah terpisah dari iiwa. Bagi Ibnu sina, arti simbolik tidak hanya diperlukan unruk menafsirkan makna kebangkitan jasmani kembali, tetapi juga terhadap hukum agama. Selain itu, pemaknaan mistis luga tidak dapat dipisahkan dari persoalan agama Akhinya, tata aturan simbolisasi psikologis iuga (diperlukan) dalam memahami filsafat Ibnu Sina, karena simbul – seperti yang dikemukakan Fazlur Rahman - memiliki kewajiban batin untuk menjembatani penafsiran antagonistik, yakni bahqia simbul bukanlah simbul semata-mata yang terpisah dari realitas dan tidak berkaitan .sama sekali dengan tingkah laku individual maupun sosial.
Dialog Peradaban menghadapi Era Postmodernisme Sebuah Tinjauan Filosofis-Religius M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 53 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.053.108-126

Abstract

Ketika wilayah perenungan dan pemikiran filosof tentang alam semesta telah diambil alih para ilmuan dalam cabang ilmu-ilmu kealaman 'empiris', juga ketika renungan para tilosof dalam bidang kemanusiaan telah diambil oper oleh para ilmuan sosial, maka orang bertanya-tanya apa manfaat dan jasa yang dapat diberikan oleh "filsafat". Orang meragukan apakah filsafat masih dapat menyumbangkan jasanya dalam era "dominasi" ilmu pengetahuan empiris baik dalam wilayah ilmu-ilmu kealaman maupun dalam ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Bahkan dikalangan pemikiran keagamaan yang tipikal "konservatif', sudah lama filsafat dianggap sebagai suatu hal yang kurang berharga, sehingga tidak lagi patut untuk dipertimbangkan dalam proses pematangan dalam wilayah diskursus keagamaan. Menurut doktrin agama-agama besar di dunia, khususnya yang bersifat monoteistik, "kebenaran" hanya dapat diperoleh lewat "wahyu". Sejauh mana peran akal dalam memahami wahyu, apakah pemahaman dan campuran tangan historisitas kemanusiaan dalam memahami wahyu masuk dalam katagori wahyu itu sendiri ataukah masuk dalam wilayah historisitas pemahaman manusia, kadang diketepikan begitu saja. Ketika peran filsafat --baik dalam hal yang menyangkut Epestimologi, Etika maupun Metafisika-- ditepikan sebegitu rupa, tiba-tiba dalam dasa warsa ke 90-an masyarakat indonesia khususnya dikejutkan dengan istilah "baru" yang disebut-sebut dengan postmodernisme. Ditilik dari segi peristilahan yang muncul kepermukaan, jelas tampak bahwa istilah tersebut erat terkait dengan khazanah filsafat, tidak beda dari istilah-istilah seperti naturalisme, supernaturalisme, determinisme, modernisme, historisisme dan lain sebagainya. Jika peristilahan filsafat pada umumnya, hanya terbatas pada dataran kognitif, yang sering kali terlampau abstrak, sehingga sulit untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas, maka lain halnya dengan istilah postmodernisme. Istilah postmodernisme, yang sebenarnya juga ada pada dataran kognitif-abstrak, namun kemunculannya pada masa sekarang ini disertai dengan bukti sejarah yang kongkrit, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Metode Filsafat dalam Tinjauan Ilmu Agama (Tinjauan Pertautan antara Teori dan Praxis) M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.82-94

Abstract

Metode filsafat semakin hangat dibicarakan oleh para ilmuwan sosial, setelah metode yang dipergunakan dalam bidang ilmu-ilmu pasti-alam berkembang pesat dan menyelinap masuk ke dalam wilayah ilmu-ilmu sosial. Lingkaran Wina (Vienna Circle) adalah tonggak monumen sejarah bagi para filsuf yang ingin membentuk 'unified science', yang mempunyai program untuk menjadikan metode-metode yang berlaku dalam ilmu pasti-alam sebagai metode pendekatan dan penelitian ilmu-ilmu kemanusiaan, termasuk di dalamnya filsafat. Gerakan para filsuf dalam Lingkaran Wina ini disebut. oleh sejarah pemikiran sebagai Positivisme-Logik. Meskipun aliran pemikiran ini mendapat tantangan luas dari berbagai kalangan, tapi gaung pemikiran yang dilontarkan oleh aliran positivisme logik masih terasa hingga saat sekarang ini. Bukan karena pemikiran mereka yang patut dihidupkan kembali, tapi implikasi pemikiran mereka setidaknya telah membangkitkan kesadaran kita untuk memunculkan pertanyaan: apakah kehidupan manusia yang serba kompleks ini  dapat dipecahkan lewat pendekatan positivistik, pemisahan yang lugas antara 'teori' dan 'praxis' antara 'value' dan 'fact', antara 'scientisme' dan 'hermeneutism'.
Bentuk Ideal Jurusan TH (Tafsir Hadist) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.90-96

Abstract

Berpindahnya jurusan Tafsir Hadis dari fakultas Syariáh ke fakultas Ushuluddin memang belum lama, tepatnya baru dua tahun yang lalu. Mahasiswa baru jurusan Tafsir Hadis di fakultas Ushuluddin  sekarang sedang duduk disemester ke lima. Kita menyambut gembira aca sarasehan pemantapan jurusan Tafsir Hadis pada fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga, lantaran pemindahan jurusan TH dari fakultas Syariáh ke fakultas Ushuluddin mengandaikan adanya latar belakang pemikiran tetentu, yang olehkarenanya jika tidak ada juklaknya, kita akan berjalan tanpa arah atau setidaknya kita hanya memindahkan jurusan secara pisik belaka.untuk menghindari kesan seolah-olah berpindahnya jurusan Th Cuma secara fisik tersebut, fakultas Ushuluddin yang sudah terlanjur ditugasi membina jurusan Th perlu waktu yang cukup untuk berbenah diri dengan memperbanyak forum dialog atau sarasehan seperti siang hari ini. Jika dilihat secara garis besar, perjalanan sejarah penulisan tafsir pada abad pertengahan, agaknya tidak teralalu meleset jika dikatakan bahwa dominasi corak penulisan tafsir al-Qur’an secara leksiografis  (lughawi) tampak lebih menonjol. Tafsir karya shihab al-Din al-khafffaji (1659) memusatkan perhatian pada Analisa gramatika dan Analisa sintaksis atas ayat-ayat al-Qur’an. Juga karya al-baydawi (1286), yang hingga sekarang masih dipergunakan  di pesantren-pesantren, memusatkan perhatiaan pada penafsiran al-Qur’an corak leksiografis seperti itu.