Tasman Hamami
State Islamie University (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fithrah Manusia dalam Persepektif Al-Qur’an Tasman Hamami
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.68-80

Abstract

Kalau kita selidiki brbagai kata yang digunakan dalam Al-Qur’an ternyata sangat bervariasi, baik jenis maupun bentuknya. Dalam Al-Qur’an sering ditampilkan suatu kata yang memiliki arti Bahasa sama dalam bentuk yang bermacam-macam. Demikian pula sering digunakan kata muradif diberbagai surat dan ayat tentang suatu hal yang secara lafdiyah dapat diartikan “sama”. Misalnya, kata yang menunjukkan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dapat dijumpai dalam berbagai jenis dan bentuk, yaitu; “khala”(Q.s 95:4, 76: 2, 64: 2, 21:37, dan lain-lainnya), “ja’ala” (Q.S 16: 78, 2: 30, 43: 28), “ansya’a”(Q.S 23: 14, 11:61,6:98,67:23),”shawwara” (Q.S 64:3, 40:64, 7: 20, 3: 6), dan “fathara” (Q.S 30:30,11:51,17:51,36:22, 20:72). Berbagai kata tentang penciptaan itu dalam Al-Qur’an diungkapakan dalam bermacam-macam bentuk. Dari segi bilangannya, adakalanya dalam bentuk mufrad dan kadang-kadang dalam bentuk jamak. Sedang dari segi shighatnya, kadang-kadang diungkapkan dengan fi’il, dan kadang-kadang dengan mashdar maupun isim fa’il.perbedan penggunaan kata dalam Al-Qur’an itu pasti mengandung makna tertentu yang berbeda-beda pula, sekalipun dalam arti secara Bahasa sama, sebagai sinonim (muradif). Diantara berbagai kata yang menunjukkan penciptaan manusia adalah “fathara” yang bentuk masdarnya adalah “fithrah”. Dalam Al-Qur’an terdapat 20 bentuk kata yang berakar dari “fathara” yang diungkapkan dalam berbagai bentuk. Sedang kata firthrah itu sendiri hanya diungkap sekali, yaitu surat al-Rum : 30. Istilah fithrah tersebut pasti mempunyai makna tertentu.
Kedudukan Wanita Dalam Syariát Islam Tasman Hamami; Siti Barirotun
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 56 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.056.44-58

Abstract

Wanita adalah makhluk yang penuh "misteri". Kehadirannya dalam kehidupan umat manusia mutlak diperlukan. Tetapi realita menunjukkan bahwa "nasib" kaum wanita dalam sejarahnya selalu tidak menggembirakan, bahkan menyedihkan. Pada masa-masa sebelum Islam, kaum wanita selalu ditempatkan pada posisi sebagai "obyek". Wanita dianggap kurang berharga, sehingga seringkali dieksploitasi melebihi batas-batas perikemanusiaan. Penempatan wanita dalam posisi yang rendah itu meliputi; kawasan pemikiran maupun kawasan sikap dan perlakuan dalam realitas kehidupan. Filosof Yunani yang ternama dalam sepanjang sejarah umat manusia, Aristoteles, beranggapan bahwa wanita merupakan laki-laki yang tidak sempuma, dan oleh karena itu laki-laki menguasai jiwa wanita. Ide yang menganggap wanita lemah terus dipertahankan dan disebarkan oleh para filosof ternama semisal Kant, Schopenhauer, dan Fichte, (Arief Budiman; 1985; pp. 6-7). Kant tidak percaya bahwa wanita memiliki kesanggupan mengerti tentang prinsip-prinsip. Menurut Schopenhauer, wanita terbelakang dalam segala hal, tidak memiliki kesanggupan untuk berpikir dan berefleksi. Lebih jauh dia mengatakan bahwa wanita diciptakan hanya untuk mengembangkan keturunan. Bahkan menurut Fichte penguasaan laki-laki atas wanita merupakan keinginan wanita itu sendiri.