Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Reakatualisasi Nasakh dalam Perspektif Sosiologis Nashih Muhammad; Eko Sariyekti; Sumarjoko Sumarjoko
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol 8 No 1 (2022): SYARIATI : Jurnal Studi Al-Qur`an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v8i1.2105

Abstract

Artikel ini tentang reaktualisasi konsep nāsākh yang sangat penting dan relevan berdasarkan kenyataan sosiologis, bahwa dalam waktu kurang dari 22 tahun terdapat beberapa ketentuan hukum awal Al-Qur'an telah mengalami peruberubahan beberapa kali dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Perubahan siklus sosial, moral, dan budaya merupakan fakta yang diakui oleh ahli hukum dan dipertimbangkan dalam penentuan teori dan tradisi hukum Islam. Nāskh adalah salah satu gagasan paling relevan di sekitar aturan yang disediakan dalam Al-Qur'an yang menghubungkan firman Tuhan dengan kehidupan orang beriman. Nāsākh menjadi hal yang penting dalam pengembangan metodologi Islam. Pada prinsipnya, ulama Muslim menerima adanya nāsākh, tetapi terbatas pada syariat Islam terhadap syariat samawi sebelumnya. Adapun mengenai adanya nāsākh dalam syariat Islam terutama terhadap al-Qur’an para ulama terdapat perbedaan. Diskursus terhadap pergantian teks hukum (nāsākh) atau tidak adanya pergantian menjadi perdebatan dikalangan ulama fiqh (fuqaha). Persoalan ini sangat penting dalam sejarah perkembangan hukum Islam. Karena terkait langsung terhadap proses pelaksanaan ijtihad oleh ulama ahli fiqh. Pengambilan dan penetapan hukum membutuhkan penalaran logis seorang mujtahid. Berkaitan dengan hal tersebut penulis bermaksud membahas tentang teori nāsākh yang diperlukan dalam kajian hukum Islam dan bentuk-bentuk nāsākh yang dipraktikan oleh ahli fiqh serta bagaimana aktualisasi konsep nāsākh dalam persoalan kontemporer.
The Suran Tradition of the Village Head's Wedding in Traji: An Analysis from the Perspectives of 'Urf and Mythology in Traji Village, Parakan District, Temanggung Regency Muhamad Hakim Nazib; Hidayatun Ulfa; Nashih Muhammad
Jurnal Iqtisad Vol 13 No 1 (2026): Jurnal Iqtisad
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/iq.v13i1.14368

Abstract

This study is motivated by a cultural phenomenon found in Traji Village, Parakan District, Temanggung Regency, namely the Suran Manten Lurah Traji tradition. In this annual tradition, held on the eve of the first day of Suro (Muharram), the village head and his or her spouse symbolically reenact a wedding ceremony. The tradition is deeply rooted in local mythological beliefs concerning supernatural powers, and the community continues to preserve it because of the belief that abandoning it would bring misfortune. This study aims to examine the implementation of the tradition and analyze it from the perspectives of 'urf (Islamic customary law) and mythology. A qualitative case study approach was employed using descriptive analysis. Data were collected through observations, interviews, and documentation involving the village head, religious leaders, community leaders, and members of the organizing committee. The findings indicate that the Suran Manten Lurah Traji tradition can be classified as 'urf 'amali (customary practice) in terms of its form, 'urf sahih (a valid custom consistent with Islamic principles) in terms of its validity, and 'urf khass (a local or specific custom) in terms of its scope. From a mythological perspective, the tradition continues to embody strong symbolic meanings and beliefs, particularly through ritual offerings (sesaji) and sacred sites that are believed to possess supernatural significance.