Chrisna Trie Hadi Permana
Universitas Sebelas Maret

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor yang Memengaruhi Nilai Lahan KKOP Bandar Udara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang Septian Chandra Dwi Nugraha; Chrisna Trie Hadi Permana; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i1.77670.14-28

Abstract

Pengembangan Bandar Udara Internasional Kualanamu merupakan salah satu program percepatan pembangunan di Kabupaten Deli Serdang dalam mewujudkan Metropolitan Mebidangro (Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo) sebagai Kawasan Strategis Nasional. Dengan adanya perencanaan tersebut, daya tarik terhadap Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) meningkat, menjadikannya lahan yang sangat potensial bagi investor. Peningkatan daya tarik lahan tersebut berdampak pada peningkatan nilai lahan secara signifikan. Nilai lahan sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan antara lokasi, aksesibilitas, fasilitas, struktur fisik, dan wilayah sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi nilai lahan dari kondisi eksisting di KKOP Bandar Udara Internasional Kualanamu. Penelitian ini bersifat deduktif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Lokus yang menjadi perhatian penelitian adalah KKOP yang berada pada Kecamatan Pantai Labu dan Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, Sistem Informasi Geografis (SIG) serta analisis regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Squares (OLS). Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 faktor yang signifikan memengaruhi nilai lahan dengan tingkat signifikansi 5%. Faktor-faktor tersebut meliputi jarak ke pusat kota, jarak ke bandara, jarak ke pusat perbelanjaan, jarak ke peribadatan, jarak ke jalan utama, lebar jalan, perkerasan jalan, kepadatan penduduk, dan tingkat kebisingan bandara. Faktor yang paling dominan berkontribusi dalam memengaruhi nilai lahan adalah faktor jarak ke pusat kota, yang akan berpengaruh negatif terhadap nilai lahan sebesar 0,71% jika jaraknya meningkat 1%.
Pemenuhan Kebutuhan Fasilitas Lingkungan Kawasan Permukiman Kumuh: Perspektif Teori Maslow di RW 05 & RW 11, Kelurahan Cibangkong Aqilah Syifa Shabrina; Chrisna Trie Hadi Permana; Rizon Pamardhi Utomo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.77195.1-11

Abstract

Kota Bandung merupakan kota dengan tingkat kekumuhan paling tinggi di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fasilitas lingkungan permukiman di RW 05 dan RW 11, Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, dalam memenuhi kebutuhan para penghuni. Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi tingkat kebutuhan yang belum terpenuhi dengan baik karena kondisi fasilitas eksisting yang belum lengkap dan layak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuesioner yang disebar di RW 05 dan RW 11, Kelurahan Cibangkong. Data yang dikumpulkan melalui kuesioner diinterpretasi berdasarkan hierarki kebutuhan dasar menurut Teori Hierarki Kebutuhan Maslow yang meliputi kebutuhan fisik, keamanan, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang belum terpenuhi berdasarkan kondisi fasilitas lingkungan permukiman eksisting. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh tingkatan kebutuhan, mulai dari kebutuhan fisik hingga aktualisasi diri, belum terpenuhi dengan baik di RW 05 dan RW 11, Kelurahan Cibangkong. Kondisi fasilitas lingkungan permukiman di kedua kawasan tersebut belum lengkap dan layak untuk memenuhi kebutuhan dasar penghuni. Beberapa masalah yang diidentifikasi adalah penyalahgunaan fasilitas, belum tersedianya transportasi umum, keterbatasan ruang publik, serta keterbatasan akses menuju fasilitas pendidikan dan kesehatan. Peningkatan fasilitas-fasilitas ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kualitas hidup para penghuni dan memajukan kualitas permukiman secara keseluruhan.
PERUBAHAN GUNA LAHAN PORIS PLAWAD TANGERANG SEBAGAI KAWASAN TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) Syifa Maulidya; Chrisna Trie Hadi Permana; Bambang S Pujantiyo
Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jppk.v4i2.1870

Abstract

Urbanization in Jabodetabek is leading to an increase in the need for transportation. The 2018 Jabodetabek Transportation Master Plan (RITJ) aims to address this issue by planning transit-oriented development (TOD) areas throughout Jabodetabek, including the Poris Plawad transit-oriented development (TOD) area in Tangerang City. Once designated as a transit-oriented development (TOD) area, there should be changes in land use in Poris Plawad to suit the needs of the transit-oriented development (TOD) concept. Properly organizing land use around transportation nodes is essential for the success of transit-oriented development (TOD) projects. This study examines how land use has evolved over 11 years, before and after Poris Plawad was designated as a transit-oriented development (TOD) area. This research utilizes quantitative methods through descriptive analysis to compare Poris Plawad’s land use changes as a transit-oriented development (TOD) area. This research identifies the proportion of land use in the Poris Plawad transit-oriented development (TOD) area. The results indicate that the land use changes in Poris Plawad align with the transit-oriented development (TOD) concept. This indicates that before there was a policy regulating of Poris Plawad transit-oriented development (TOD) area, Poris Plawad's land use had the potential to become a transit-oriented development (TOD) area.
KETERKAITAN ANTARA KETERSEDIAAN PELAYANAN DASAR PENUNJANG PERMUKIMAN PERKOTAAN DAN GUNA LAHAN PERMUKIMAN (Studi Kasus: Kecamatan Rangkasbitung, Banten) Sabrina Purba; Chrisna Trie Hadi Permana; Bambang S. Pujantiyo
Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Vol. 4 No. 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jppk.v4i3.1892

Abstract

Rapid urbanization has become a significant global phenomenon, affecting not only major cities but also suburban areas, with profound impacts on various aspects of urban life. This article explores the correlation between the increase in population as an impact from urbanization and the availability of basic services in Rangkasbitung, which consists of 16 villages. The purpose of this research is to determine the effect of the availability of basic daily services on the amount of residential land use in Rangkasbitung. Basic services are assessed using the 20-Minute Neighbourhood parameter, which represents an area designed to provide essential services within a short walk for residents. This research uses quantitative descriptive methodology, with spatial analysis and descriptive statistical analysis. The study is limited to the availability of residential land use, basic services, and public transportation as the three main components in the development of urban residential areas based on the 20-Minute Neighbourhood parameter. The 20-Minute Neighbourhood is a city planning concept defined as an area where residents can access most activities necessary for a good life without traveling outside the area. The results indicate that the availability of basic services in an area affects residents' decisions on where to live.