Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Potensi Pengembangan Kehutanan dan Pertanian Kabupaten Mahakam Ulu, Provinsi Kalimantan Timur Omo Rusdiana; Supijatno Supijatno; Yanto Ardiyanto; Candraningratri Ekaputri Widodo
Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan) Vol. 1 No. 2 (2017): Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangu
Publisher : P4W LPPM IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.164 KB) | DOI: 10.29244/jp2wd.2017.1.2.114-131

Abstract

Mahakam Ulu Regency is a new autonomous region formed separated from Kutai Barat regency of East Kalimantan Province in 2013. The local government of Mahakam Ulu has set to develop their local economy by utilizing and developing local resources. The regency’s geographical position at the northern border of Indonesia, together with its majority land coverage of natural forests, urges Mahakam Ulu to define its potential economic activities that support its people’s welfare and preserve its nature at the same time. This research aims to understand the regional development potential of Mahakam Ulu Regency on the forestry and agriculture sector, as well as to define strategies for development. Competitive commodities analysis, land suitability analysis and land availability analysis for the competitive commodities were conducted to obtain accurate information on the region’s forestry and agriculture potential. Analysis shows that Mahakam Ulu regency has forestry potentials in the form of development of community forest with non-timber forest products (NTFP) as the main commodity, environment service business in the form of ecotourism, utilization of timber forest products and NTFP, as well as development of customary forests. On the other side, potential agricultural commodities in Mahakam Ulu regency covers paddy, rubber, cacao and oil palm.
KESESUAIAN KAWASAN TERMINAL TIRTONADI TERHADAP KONSEP TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) Candraningratri Ekaputri Widodo; Syifa Maulidya; Annisa Dyan Septyana; Rifda Asyifah Syandana; Arfilia Dwiyanti; Aditya Wahyu Hidayat; Almadea Cherish Anissa
Pranatacara Bhumandala: Jurnal Riset Planologi Vol 4 No 1 (2023): Pranatacara Bhumandala: Jurnal Riset Planologi
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/pranatacara_bhumandala.v4i1.3650

Abstract

Abstract The concept of Transit Oriented Development (TOD) is starting to bloom in a number of cities in Indonesia because it is considered as one of the possible solutions to urban transportation problems through maximizing land use with a transportation system that supports sustainable life. One of the areas in Surakarta City designated by the Ministry of Transportation to be a pilot project in implementing the TOD concept is Tirtonadi Terminal area. Tirtonadi Terminal is one of the main entrances to Surakarta City as the center for the development of Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolalu, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogori, Sragen, Klaten) regional area. This study aims to see the suitability of Tirtonadi Terminal area with the TOD concept. The method used is suitability scoring on the variables which are translated into several indicators and subindicators. The results of scoring calculations for each variable are classified using the Guttman scale. Based on the scoring results, a score of 4.23 or 52.89% is obtained with values for the variables of walk (0.33), cycle (0), connect (1), transit (1), mix (0.8), densify (0), compact (0.6), shift (0.5). Thus, it can be concluded that the implementation of the TOD concept in Tirtonadi Terminal area is appropriate but requires attention, particularly on variables of cycle and densify that are scored zero in the area. Keywords: Compatibility, Surakarta City, Tirtonadi Terminal, TOD Abstrak Konsep Transit Oriented Development (TOD) atau pembangunan yang berorientasi transit mulai marak direncanakan di sejumlah kawasan perkotaan di Indonesia karena dianggap dapat menjadi salah satu solusi permasalahan transportasi perkotaan melalui optimalisasi guna lahan dengan sistem transportasi yang mendukung kehidupan yang berkelanjutan. Salah satu kawasan di Kota Surakarta yang ditunjuk oleh Kementerian Perhubungan untuk menjadi pilot project penerapan konsep TOD yaitu kawasan Terminal Tirtonadi. Terminal Tirtonadi merupakan salah satu pintu masuk utama menuju Kota Surakarta yang merupakan pusat pengembangan wilayah regional Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolalu, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogori, Sragen, Klaten). Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesesuaian kawasan Terminal Tirtonadi terhadap konsep TOD. Metode yang digunakan yaitu skoring kesesuaian pada variabel yang dijabarkan menjadi beberapa indikator dan subindikator. Hasil perhitungan skoring dari setiap variabel diklasifikasikan menggunakan skala Guttman. Berdasarkan hasil skoring, didapatkan angka 4,23 atau 52,89% dengan nilai pada variabel walk atau berjalan kaki (0,33), cycle atau bersepeda (0), connect atau menghubungkan (1), transit atau angkutan umum (1), mix atau mencampurkan (0,8), densify atau memadatkan (0), compact atau merapatkan (0,6), dan shift atau beralih (0,5). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa implementasi konsep TOD di Kawasan Terminal Tirtonadi masih memerlukan perhatian, khususnya pada variabel cycle dan densify yang masih bernilai nol di kawasan. Kata Kunci: Kesesuaian, Kota Surakarta, TOD, Terminal Tirtonadi
PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEWUJUDKAN PERMUKIMAN SEHAT DAN HIJAU DI RW 01, KELURAHAN MOJO, KOTA SURAKARTA Widodo, Candraningratri Ekaputri; Rahayu, Murtanti Jani; Rini, Erma Fitria; Astuti, Winny; Andini, Isti; Mukaromah, Hakimatul; Rahayu, Paramita; Permana, Raden Chrisna Trie Hadi; Pujantiyo, Bambang
Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 2 (2024): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v5i2.18470

Abstract

Setiap individu pasti menginginkan tinggal di lingkungan yang bersih dan alami. Memiliki lingkungan tempat tinggal yang sehat memiliki banyak manfaat positif, seperti mendukung kesehatan fisik dan mental penghuni, mengurangi risiko kecelakaan dan bencana, mendorong produktivitas, dan membuat lingkungan terlihat indah secara visual. Menurut World Health Organization (WHO), terdapat beberapa syarat untuk memiliki lingkungan sehat, seperti udara bersih, iklim yang stabil, pasokan air yang memadai, sanitasi yang baik, penggunaan bahan kimia yang aman, perlindungan dari radiasi, lingkungan kerja yang aman, pertanian yang berkelanjutan, kota yang mendukung kesehatan, dan pelestarian alam. Mewujudkan permukiman sehat dan alami di kawasan perkotaan memiliki tantangan tersendiri karena kepadatan penduduk, pembangunan yang sudah ada, dan dampak urbanisasi. Tantangan yang sama dihadapi oleh RW 01 Kelurahan Mojo, di Kota Surakarta, yang yang merupakan kawasan yang ditata dengan konsep peremajaan dan konsoldasi lahan. Dalam upaya untuk menciptakan kesadaran dan inisiatif masyarakat di RW 01 Kelurahan Mojo untuk menciptakan lingkungan sehat dan alamiah, dilakukan kegiatan sosialisasi permukiman sehat dan kegiatan penanaman pohon bersama. Harapannya, upaya ini dapat menjadi contoh baik bagi permukiman perkotaan lain di Indonesia.
Transportation Mode Selection Preferences for Persons with Disabilities in the Disability-Friendly City of Yogyakarta Azzahra, Fikakurrahni; Werdiningtyas, Rr. Ratri; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Journal of Geosciences and Environmental Studies Vol. 1 No. 3 (2024): November
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/ijgaes.v1i3.3258

Abstract

A disability-friendly city is a city that meets all the needs of people with disabilities according to service standards in education, health, employment, rehabilitation, social needs, and transportation. The Yogyakarta City Government has declared itself as a ‘Disability Friendly City’ since 2015. To fulfill the movement needs of people with disabilities, the Yogyakarta City government provides mass public transport, Trans Jogja. In addition to Trans Jogja, there are other modes, namely Difa Bike, two-wheeled private, public transportation, four-wheeled private, public transportation, and private vehicles. This study aims to determine the transportation mode selection preferences for persons with disabilities in Yogyakarta City as a Disability Friendly City. This study uses multiple linear regression analysis to determine the factors influencing persons with disabilities in choosing transportation modes. This study's findings state that most people with disabilities prefer private vehicle modes based on influential factors: travel destination, travel distance, travel time, transportation costs, and vehicle ownership.
Spatial Assessment of the Conformity Between Educational Facility Needs and Provision in Surakarta City Based on SNI Standards, 2004–2024 Putri, Elza Henvita; Werdiningtyas, Rr. Ratri; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Journal of Geosciences and Environmental Studies Vol. 2 No. 2 (2025): July
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/ijgaes.v2i2.4064

Abstract

Surakarta City, as one of the strategic service centers in Central Java Province, is facing challenges in realizing equal distribution of educational facilities by the Indonesian National Standard (SNI). This study aims to evaluate existing conditions, gaps in needs, and the level of conformity between the provision of educational facilities and applicable standards. The approaches used include quantitative descriptive methods, spatial analysis, buffering techniques, Average Nearest Neighbor Analysis (ANN), Kernel Density Estimation (KDE), and descriptive qualitative analysis. The findings show a striking inequality in the distribution of educational facilities between regions, with a higher concentration of facilities in the city center compared to the outskirts. Through ANN and KDE analysis, it was found that the distribution pattern of educational facilities varies, from clustered, random, to scattered patterns, depending on the level of education. The shortage of facilities was recorded at the elementary school level of 140 units, junior high schools 49 units, and senior high schools/vocational schools 41 units. Based on these results, it is recommended that a strategy be developed to distribute educational facilities more evenly, considering spatial needs and demographic dynamics. This finding is an important foundation in planning sustainable education based on a spatial approach in Surakarta City.
Perubahan Kepadatan Bangunan PermukimanTerdampak Perkembangan Aglomerasi Industri di Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar Sirotulmustaqim, Dikri; Andini, Isti; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sipil Vol. 3 No. 2 (2025): April: Konstruksi: Publikasi Ilmu Teknik, Perencanaan Tata Ruang dan Teknik Sip
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Teknik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/konstruksi.v3i2.808

Abstract

The 2013-2031 Karanganyar Regency RTRW directs Gondangrejo District as an area designated for medium to large-scale industries, although on the other hand there are rural settlement areas in existing conditions. The industry in Gondangrejo District is growing and developing which is agglomerated along the Solo-Purwodadi Road. The development of this agglomeration has an impact on the increasing density of rural settlements around the industry. Therefore, this study aims to measure changes in the density of residential buildings affected by the development of industrial agglomeration in Gondangrejo District, Karanganyar Regency between 2004-2024. The research method used is quantitative with regional relative comparison analysis techniques, average nearset neighbors, and kernel density analysis. The results of the study show that industrial agglomeration in Gondangrejo District has experienced low-level development. The density of residential buildings has also increased to 25 units/ha. The growth of residential buildings, boarding houses, shops/stalls, and parking facilities around the industry is a direct impact of the development of industrial agglomeration on the density of residential buildings.
PENINGKATAN KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN MELALUI PENGHIJAUAN PADA KAWASAN SMART FISHERIES VILLAGE (SFV) DI DESA SUMBERDODOL, KABUPATEN MAGETAN Widodo, Candraningratri Ekaputri; Astuti, Winny; Rini, Erma Fitria; Permana, Raden Chrisna Trie Hadi; Pujantiyo, Bambang
Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v6i2.21804

Abstract

Desa Sumberdodol, yang terletak di Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur, merupakan salah satu desa yang progresif dalam mengelola potensinya. Dengan udara yang sejuk, lanskap pegunungan yang indah, dan sumber air melimpah, desa ini memiliki berbagai potensi, khususnya di bidang pariwisata dan sumber daya air. Desa Sumberdodol juga dikembangkan sebagai Desa Perikanan Cerdas atau Smart Fisheries Village (SFV) yang diluncurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Magetan pada tahun 2023. Kegiatan pengabdian yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan Kawasan SFV melalui pengijauan kawasan. Kegiatan ini dilakukan melalui kerjasama Grup Riset Sustainable Urban Region Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan mitra Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Karya Mandiri Desa Sumberdodol. Penghijauan dilakukan berupa penanaman 50 bibit pohon Ketapang kencana sebagai peneduh dengan melibatkan masyarakat. Melalui kegiatan penghijauan ini, diharapkan jalan akses menjadi lebih hijau, teduh, terhindar dari erosi tanah, sehingga menjadi nyaman bagi pengunjung yang datang ke SFV. Peningkatan jumlah kunjungan ke SFV diharapkan dapat mendukung pengembangan usaha BUMDes, mendukung pengembangan perekonomian Desa Sumberdodol, serta menjadikan SFV sebagai ruang interaksi sosial yang produktif.
Faktor yang mempengaruhi preferensi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) terhadap Rusunawa Gulon, Magelang Siska Arini; Soedwiwahjono Soedwiwahjono; Candraningratri Ekaputri Widodo
Region : Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif Vol 19, No 2 (2024)
Publisher : Regional Development Information Center, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/region.v19i2.83636

Abstract

Rusunawa Gulon merupakan salah satu rusunawa di Kabupaten Magelang yang ditujukan untuk memberikan akses hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Hingga tahun 2019, pemanfaatan rusunawa tidak berjalan secara optimal dilihat dari kondisi sebagian unit yang kosong. Permasalahan tersebut kemudian mendasari untuk dilakukannya penelitian dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya preferensi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) terhadap Rusunawa Gulon. Dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif berupa skoring dengan data dari kuesioner yang dikumpulkan dari 30 kepala keluarga Masyarakat MBR. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kedekatan lokasi dengan tempat kerja dan fasilitas sosial, kemudahan aksesibilitas, kenyamanan, keamanan, serta keterjangkauan harga bukan merupakan faktor yang mempengaruhi rendahnya preferensi masyarakat berpenghasilan rendah terhadap Rusunawa Gulon. Namun, diperoleh faktor lain yang kemungkinan dapat mempengaruhi rendahnya preferensi masyarakat tersebut meliputi faktor kurangnya pemahaman masyarakat terhadap rusunawa, kondisi sosial budaya masyarakat, serta sistem sewa rusunawa.
Faktor yang Memengaruhi Nilai Lahan KKOP Bandar Udara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang Septian Chandra Dwi Nugraha; Chrisna Trie Hadi Permana; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i1.77670.14-28

Abstract

Pengembangan Bandar Udara Internasional Kualanamu merupakan salah satu program percepatan pembangunan di Kabupaten Deli Serdang dalam mewujudkan Metropolitan Mebidangro (Medan-Binjai-Deli Serdang-Karo) sebagai Kawasan Strategis Nasional. Dengan adanya perencanaan tersebut, daya tarik terhadap Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) meningkat, menjadikannya lahan yang sangat potensial bagi investor. Peningkatan daya tarik lahan tersebut berdampak pada peningkatan nilai lahan secara signifikan. Nilai lahan sangat dipengaruhi oleh adanya hubungan antara lokasi, aksesibilitas, fasilitas, struktur fisik, dan wilayah sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi nilai lahan dari kondisi eksisting di KKOP Bandar Udara Internasional Kualanamu. Penelitian ini bersifat deduktif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Lokus yang menjadi perhatian penelitian adalah KKOP yang berada pada Kecamatan Pantai Labu dan Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, Sistem Informasi Geografis (SIG) serta analisis regresi linier berganda dengan metode Ordinary Least Squares (OLS). Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 faktor yang signifikan memengaruhi nilai lahan dengan tingkat signifikansi 5%. Faktor-faktor tersebut meliputi jarak ke pusat kota, jarak ke bandara, jarak ke pusat perbelanjaan, jarak ke peribadatan, jarak ke jalan utama, lebar jalan, perkerasan jalan, kepadatan penduduk, dan tingkat kebisingan bandara. Faktor yang paling dominan berkontribusi dalam memengaruhi nilai lahan adalah faktor jarak ke pusat kota, yang akan berpengaruh negatif terhadap nilai lahan sebesar 0,71% jika jaraknya meningkat 1%.
Kesesuaian Penerapan Prinsip Berjalan Kaki dan Bersepeda pada Kawasan TOD Istora Senayan Jakarta Alya Nur Adzania; Soedwiwahjono Soedwiwahjono; Candraningratri Ekaputri Widodo
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.76990.176-188

Abstract

Jakarta memiliki kegiatan mobilitas yang tinggi dan sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat, pemerintah mulai menerapkan konsep TOD dalam pembangunan kawasan perkotaan. Transit-Oriented Development (TOD) adalah sebuah konsep yang mengarahkan perpaduan antara pembangunan yang padat dan ramah pejalan kaki sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan sistem transportasi yang berkelanjutan. PT. MRT Jakarta sebagai operator utama pengelola kawasan Transit-Oriented Development membangun Stasiun Istora Mandiri dan Stasiun Senayan dengan konsep TOD. Konsep TOD menekankan pada penggunaan moda transportasi umum yang berbasis berjalan kaki dan bersepeda dalam melakukan pergerakan pada kawasan. Kegiatan berjalan kaki dan bersepeda dapat menciptakan lingkungan hidup perkotaan yang lebih sehat dan menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dalam menerapkan konsep TOD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian penerapan prinsip TOD, yaitu berjalan kaki dan bersepeda di kawasan TOD Istora Senayan Jakarta. Jenis penelitian adalah kuantitatif yang menjabarkan variabel menjadi kriteria-kriteria terukur dengan menggunakan teknik analisis skoring dan deskriptif. Analisis skoring akan memberikan nilai 3 untuk kriteria yang sesuai, nilai 2 untuk kriteria yang kurang sesuai, dan nilai 1 untuk kriteria yang tidak sesuai. Variabel dalam penelitian meliputi jalur pedestrian, penyeberangan jalan, muka bangunan dan muka blok yang aktif, jalur sepeda, parkir sepeda, dan akses sepeda. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa kawasan TOD Istora Senayan telah memiliki nilai kesesuaian sebesar 97% dari seluruh kriteria dalam prinsip berjalan kaki dan bersepeda. Nilai tersebut menunjukkan bahwa kawasan TOD Istora Senayan telah sesuai terhadap prinsip  berjalan kaki dan bersepeda. Satu-satunya kriteria yang mendapatkan hasil hampir sesuai adalah mengenai ketersediaan fasilitas penunjang jalur pedestrian. Hal ini disebabkan karena belum seluruh jalur pedestrian yang ada di Kawasan TOD Istora Senayan dilengkapi dengan bangku dan tempat sampah sebagai fasilitas penunjang jalur pedestrian.