Noor Faidah
Program Studi Keperawatan Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TINGKAT KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOLAH YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS Noor Faidah; Thersa Marchelina
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama Vol 11, No 3 (2022): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jcu.v11i3.1207

Abstract

Angka kesakitan anak dengan  berbagai masalah penyakit  semakin meningkat sehingga perlunya perawatan anak di Rumah Sakit (RS) . Sebanyak 40% atau 3 juta adalah usia prasekolah. Data di Indonesia tercatat 80% pasien anak adalah usia prasekolah. Perawatan anak rata-rata 6 hari. Data dari Rumah Sakit jumlah anak yang dirawat rata-rata 156 / bulan, dan untuk anak usia prasekolah yang dirawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus rata-rata 50 anak per bulan . Perawatan di rumah sakit ini sering menyebabkan masalah baru pada anak, antara lain adalah masalah kecemasan, terutama pada anak prasekolah. Kecemasan anak yang dirawat berkisar antara sedang dan berat. Dampak dari kecemasan ini adalah bertambahnya hari perawatan serta mengganggu perkembangan anak. Tujuan dari penelitian ini  untuk menggambarkan kecemasan anak yang dirawat pada usia prasekolah (3-6 tahun)  di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Jenis penelitian ini  deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi pada penelitian ini yaitu anak usia prasekolah  yang dirawat di Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus. Teknik sampling dengan random sampling dan besar sampel sebanyak 47 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner. Analisa data secara statistik dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian cemas pada anak usia pra sekolah yang dirawat paling banyak adalah kategori sedang sebanyak 20 responden (42.6%), cemas ringan sebanyak 18 responden (38.3%), dan cemas berat sebanyak 8 responden (17%) serta cemas sangat berat sebanyak 1 responden (2.1%). Diharapkan perawat dapat membangun kepercayaan , menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak , dan mampu menciptakan hubungan terapheutikKata Kunci : Cemas, dirawat, Anak Prasekolah.
Family support and health-related quality of life in chronic kidney disease patients on hemodialysis: A Cross-Sectional Study Noor Faidah; Anindya Chairina Ahya; Nila Putri Purwandari; Sri Hartini; Heriyanti Widyaningsih
Jurnal Keperawatan Vol. 17 No. 2 (2026): May
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jk.v17i2.42225

Abstract

Introduction: Chronic kidney disease (CKD) is a progressive condition that frequently requires long-term hemodialysis, placing significant demands on patients’ physical health, psychological state, and social functioning. Family support has been identified as a meaningful factor in patients’ adaptation to chronic illness and in maintaining treatment adherence.Objectives: This study examined the association between family support and quality of life among patients with CKD undergoing hemodialysis.Methods: A cross-sectional correlational study was conducted with 52 hemodialysis patients at RAA Soewondo Regional General Hospital in Pati, Indonesia, selected through total sampling. Family support was measured with the 20-item Family Support Questionnaire; quality of life was assessed with the EORTC QLQ-C30. Data were analysed using the Chi-square test at a significance level of 0.05.Results: Half of the respondents reported high family support (50.0%), and 38.5% reported good quality of life. A significant association was found between family support and quality of life (p < 0.001), with stronger family support consistently associated with better quality-of-life outcomes.Conclusion: Family support is significantly associated with quality of life in hemodialysis patients. These findings suggest that family-centred nursing interventions should be integrated into routine hemodialysis care, with particular attention to patients whose family support is limited or inconsistent.