Sia Kok Sin
Sekolah Tinggi Teologi Aletheia, Lawang, Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sisi Gelap Allah dalam Kitab Ayub Sia Kok Sin
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2022): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v3i1.190

Abstract

Abstract:  A careful reading of the book of Job will reveal the dark side of God. God acted as if it were against His nature. God is merciful and kind, but he is the cause of Job’s suffering and does not provide answers to Job’s questions about the reason for his suffering. Some experts discuss this, but others ignore it. Through examining the book of Job, the author tries to explain the dark side of God in the book of Job. The author divides the book of Job into several parts, namely Job 1-2, 3-37, 38-41 and 42, as a basis for discussion and seeks to provide a theological review of God’s attitude and character towards Job in dealing with his suffering, interaction with his friends, or even with God himself. God was willing to “bet” with Satan, thus bringing tragedy in the life of Job, a godly man. God was silent totally in the midst of the theological debates of Job and his friends. God who spoke through His wisdom and omnipotence yet did not answer Job’s questions about the reasons for the tragedy in his life. Instead, God restored Job with his partial compensation. This article aims to remind readers of the dark side of God that will remain a mystery. The believer has to embrace this dark side of God with a faith that is not based on knowledge, feelings and experience but a total commitment to God. Total trust in God regardless of everything God allows to happen in his life. Abstrak: Pembacaan yang teliti terhadap kitab Ayub akan menghadirikan sisi gelap Allah. Allah bertindak seolah-olah bertentangan dengan natur-Nya. Allah yang maha murah dan baik justru yang menjadi penyebab penderitaan Ayub yang saleh dan tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Ayub tentang alasan penderitaannya. Ada ahli yang membahas hal ini, tetapi ada ahli yang mengabaikannya. Melalui penyelusuran kitab Ayub penulis berupaya memaparkan sisi gelap Allah dalam kitab Ayub. Penulis membagi kitab Ayub menjadi beberapa bagian, yaitu Ayub 1-2, 3-37, 38-41 dan 42 sebagai dasar pembahasan dan berupaya memberikan tinjauan teologis sikap dan karakter Allah terhadap Ayub dalam menghadapi penderitaannya, interaksi dengan teman-temannya, atau bahkan dengan Allah sendiri. Allah yang mau “bertaruh” dengan Iblis, sehingga membawa tragedi dalam kehidupan Ayub, seorang yang saleh. Allah yang membisu di tengah perdebatan teologis Ayub dan teman-temannya. Allah yang berbicara melalui hikmat dan kemahakuasaan-Nya, namun tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Ayub tentang alasan tragedi dalam hidupnya. Allah yang memulihkan Ayub dengan kompensasi parsialnya. Artikel ini bertujuan untuk mengingatkan pembaca akan sisi gelap Allah yang akan tetap menjadi suatu misteri. Hal ini perlu disikapi oleh orang percaya dengan iman yang tidak didasarkan atas pengetahuan, perasaan dan pengalaman, tetapi pada komitmen total kepada Allah. Kepercayaan total kepada Allah terlepas dari segala hal yang Allah izinkan terjadi dalam kehidupannya.
PENDERITAAN AYUB: PRATRAGEDI, TRAGEDI DAN PASCAPEMULIHAN Sia Kok Sin
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2026): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v6i2.427

Abstract

AbstractThe Book of Job is a book about suffering, centered on its main character, Job, a righteous man who experiences great suffering. Scholars generally discuss Job’s extraordinary pre-tragedy condition, the intense suffering after the tragedy, and the improved condition following God's restoration. However, scholars have paid less attention to Job’s suffering before the tragedy and after the restoration. Using a psychological approach, this article aims to complement previous studies by exploring Job’s suffering both before the tragedy and after his restoration. The author argues that even before the tragedy, Job had to endure a certain kind of hardship or suffering, as his "obsessional personality" made him an outsider within his own family and a loner. Job also found it difficult to gain true friends or companions because of his extraordinary success and wealth. The divine restoration at the end of the book does not free Job from suffering. The seven sons and three daughters granted to him as part of the restoration certainly cannot erase his memory about the children he lost in the previous tragedy. Likewise, the return of his brothers and acquaintances cannot erase Job’s feelings of pain from facing such a great tragedy in his solitude, as they had previously abandoned him. The study of Job’s life concludes that throughout human life, suffering is always present. AbstrakKitab Ayub adalah kitab tentang penderitaan dan dengan tokoh utamanya, yaitu Ayub, seorang saleh yang menderita. Para ahli umumnya membahas kondisi Ayub yang luar biasa pratragedi, penderitaan yang hebat pascatragedi dan kondisi yang lebih baik pascapemulihan Allah. Para ahli tidak atau kurang membahas topik penderitaan Ayub pratragedi dan pascapemulihan. Dengan bantuan pendekatan psikologis, artikel ini akan melengkapi penelitian sebelumnya, dengan membahas penderitaan Ayub pratragedi dan pasca pemulihan. Penulis berpendapat bahwa pratragedi pun Ayub dengan harus menanggung semacam kesulitan atau penderitaan, oleh karena dengan “obssesional personality” Ayub adalah “the outsider of his family and a loner.” Ayub juga sulit untuk mendapatkan teman atau sahabat yang sejati oleh karena kesuksesan dan kekayaannya yang luar biasa. Pemulihan Allah dalam bagian akhir kitab ini, tidak menyebabkan Ayub bebas dari penderitaan. Tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang dikaruniakan Allah sebagai bagian pemulihan, tentu tidak akan menghapus anak-anaknya yang meninggal dalam tragedi sebelumnya. Juga kembalinya para saudara dan kenalannya tentu tidak menghapus perasaan luka Ayub yang harus menghadapi tragedi yang hebat dalam kesendiriannya, oleh karena para saudara dan kenalannya meninggalkannya. Penelitian kehidupan Ayub memberikan kesimpulan bahwa sepanjang hidup manusia selalu ditemani dengan penderitaan.