p-Index From 2021 - 2026
0.659
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Journal Khafi
M. Dani Habibi
STAI Darussalam Lampung

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konstruksi Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an: Analisis Pemikiran Amina Wadud M. Dani Habibi
Journal Khafi : Journal Of Islamic Studies Vol. 3 No. 3 (2025)
Publisher : Journal Khafi : Journal Of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi kesetaraan gender dalam Al-Qur’an melalui perspektif pemikiran Amina Wadud. Latar belakang penelitian ini berangkat dari masih kuatnya tafsir-tafsir patriarkal yang cenderung menempatkan perempuan pada posisi subordinat dalam wacana keislaman. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang mampu menghadirkan pemahaman yang lebih adil dan inklusif terhadap relasi laki-laki dan perempuan dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutika yang dikembangkan oleh Amina Wadud, yang menekankan pada pembacaan kontekstual, komprehensif, dan berkeadilan gender terhadap teks Al-Qur’an. Pendekatan ini mempertimbangkan aspek historis, linguistik, serta tujuan moral universal (maqashid) dari Al-Qur’an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Amina Wadud, Al-Qur’an pada dasarnya mengandung prinsip kesetaraan dan keadilan antara laki-laki dan perempuan. Ketimpangan yang selama ini terjadi lebih disebabkan oleh bias interpretasi yang dipengaruhi oleh budaya patriarki, bukan oleh ajaran normatif Al-Qur’an itu sendiri. Wadud menegaskan bahwa relasi gender dalam Islam seharusnya dibangun atas dasar kemitraan (partnership) dan keadilan, bukan dominasi. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Amina Wadud memberikan kontribusi penting dalam merekonstruksi pemahaman keislaman yang lebih responsif terhadap isu kesetaraan gender. Pendekatan hermeneutikanya membuka ruang bagi reinterpretasi teks keagamaan yang lebih kontekstual, adil, dan relevan dengan dinamika sosial kontemporer