Joko Lulut Amboro
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengembangan Motif Batik Tiga Negeri Khas Surakarta dengan Teknik Cap untuk Pasar Industri Kreatif Joko Lulut Amboro; Theresia Widiastuti; Setyawan Setyawan; Apika Nurani Sulistyati
Jurnal Pengabdian Seni Vol 3, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jps.v3i1.6076

Abstract

Ketika dunia sedang dilanda pandemi, semua sektor ekonomi mengalami kemacetan dan berdampak pada penurunan yang cukup signifikan. Namun, yang menarik adalah produk hasil dari kreativitas semacam batik justru masih mempunyai kesempatan yang cukup baik untuk tetap bertahan. Apalagi dengan kemudahan melalui media online. Bisnis online sebagai sektor perekonomian baru di Indonesia berdampak pada pola pikir masyarakat termasuk masyarakat tradisional, termasuk masyarakat perajin batik. Kesempatan ini memberi peluang besar bagi dunia perbatikan khususnya para kriyawan dan perajin batik untuk melakukan pengembangan tanpa batas demi tercapainya kebaruan corak yang sesuai dengan selera pasar saat ini. Salah satu dari sekian banyak varian batik pesisir yang memiliki sejarah cukup panjang  adalah batik Tiga Negeri Surakarta, yang pernah diproduksi di Surakarta dan saat ini berhenti karena satu-satunya perusahaan yang memproduksi batik jenis ini sudah tutup pada tahun 2014; padahal corak ini masih mungkin untuk dikembangkan. Batik dengan motif utama burung berekor panjang dan bunga berkelopak banyak ini terkait dengan filosofi Cina dan dipadukan dengan isen ciri khas batik pedalaman khususnya Surakarta. Target untuk memberikan nuansa baru, yang sesuai dengan konsumen masa kini, memerlukan teknik khusus agar tepat sasaran. Penelitian kualitatif ini memanfaatkan pendekatan analisis tren mode untuk mendapatkan masukan ke arah mana pengembangan motif harus dimulai. Melalui analisis tren dapat diukur tren yang sedang terjadi di pasar beberapa tahun ke depan, sesuai dengan kondisi dan perubahan masyarakat yang sedang terjadi.
Sebuah PELATIHAN PEMBUATAN KARYA MOZAIK BERTEMA CERITA RAKYAT BERBAHAN LIMBAH KACA Novia Nur Kartikasari; Nooryan Bahari; Joko Lulut Amboro; Novita Wahyuningsih
Adi Widya : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2022): Adi Widya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/awpm.v6i2.7703

Abstract

The service focuses on training on processing glass waste as the main ingredient in making mosaic works, themed on folklore. Aims to provide knowledge about the potential of glass waste, and the technical practice of processing it to become a mosaic work. The training participants were a group of young people from Noloro, located in Sawit, Panggungharjo, Bantul DIY. The method used in the implementation is ADDIE, which stands for the stages of the process itself, namely Analysis, Design, Develop, Implement, and Evaluate. The result of the training is a mosaic work from glass waste, taking the theme of one of the folk tales from Bantul Regency, namely about the Krapyak Stage as well because it is a very iconic building.